Sepotong Bulan

Entah kenapa, setiap malam kamu bertanya “Apa kakak benar-benar ikhlas menikahiku?”, aku tak pernah menjawab. Hanya diam dan menyesap kopi jahe yang kau buat. Sebenarnya, bukan aku tak mau menjawab, aku hanya tak tahu harus menjawab apa. Lalu, kita sama-sama diam, hanya derik jangkrik yang terdengar. Entah apa yang kau pikirkan, kalau aku, aku sedang memikirkan Bulan.

Bulan. Namanya memang tak pernah sekalipun kusebut di hadapanmu. Ia datang ke pernikahan kita waktu itu, ia yang memakai gaun marun dengan riasan pucat. Waktu itu kamu tanya siapa dia. Lalu aku jawab, dia teman kuliahku. “Owh” hanya begitu reaksimu saat itu, lalu kamu kembali sibuk menyalami tamu. Tidak dengan aku, mataku terpaku mengikuti setiap langkah Bulan. Ia tersenyum aku ikut tersenyum, sesekali ia pasang tampang konyol aku kembali tersenyum. Jujur, aku bersyukur saat itu, karena ia ternyata baik-baik saja.

Kamu masih duduk diam di sampingku, sesekali memandangi lantai kayu teras rumah kita. Satu yang aku tahu istriku, untuk wajah, kamu 10x lebih cantik dari Bulan. Itu juga yang jadi pertimbanganku memilihmu selain karna perjodohan kita. Bulan tak sepertimu, ia tak cantik, tak manis, tapi ada magnet dalam dirinya yang membuat aku tertarik. Semua salahku. Aku seharusnya tak bermain api. Bukan cuma Bulan. Pernikahan kita juga buat hatiku berkeping.

Sudahlah, sudah 5 tahun sejak pernikahan kita. Kamu masih sama, sekalipun aku tak romantis, setiap ulang tahun pernikahan kita kamu selalu punya kejutan. Tak hanya itu, kamu juga tak pernah sedikitpun mengeluh atau menuntut walau kadang gajiku tak cukup untuk hidup kita sebulan. Kamu juga selalu menyambut kepulanganku dengan senyum sekalipun kubalas dengan wajah masam. Tapi, setiap malam masih juga kamu menanyakan hal yang sama.

Malam ini purnama istriku, kamu masih melamun memandangi lantai teras. Lalu kutarik tanganmu, kamu kaget dan memandangku heran.
“Aku ikhlas. Sekalipun pernah kuberikan hatiku pada sepotong Bulan. Tapi demi Allah, aku sekarang punya bulan yang utuh di hadapanku, lalu kenapa aku masih peduli pada sepotong bulan?”
kamu termangu diam, tapi matamu yang mengapung butiran kaca berbicara. Lalu kamu tersenyum. Senyum yang kutau akan menemaniku di sepanjang sisa hidupku.

100111
Amethyst Eve

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s