Ketika Oemar Bakri Menjadi “Idaman”

Sore ini saya nikmati dengan kelelahan yang tidak biasa. Baru kali ini saya merasakan nikmatnya pulang ke rumah setelah bekerja seharian. Ya, saya akhirnya memutuskan untuk menetap di suatu tempat dan menikmati satu profesi yang jujur sejak dulu saya hindari. Menjadi guru. πŸ˜€

Akhir-akhir ini saya memang sedang menikmati dan menjalani profesi baru saya sebagai seorang guru Taman Kanak-Kanak di kota Malang, memang bukan sebuah profesi prestisius yang mengundang decak kagum banyak orang, gajinya pun tak sebesar gaji sebuah profesi yang saya impikan. Tapi entah kenapa, justru pada sebuah kesederhanaan menjadi guru TK, saya menemukan ketenangan yang tidak biasa, saya menjadi lebih banyak bersyukur meskipun banyak hal yang membuat saya tidak bersyukur. Mungkin karena setiap pagi saya disambut tangan-tangan mungil dan senyum tanpa gigi murid-murid saya yang polos. Meskipun, yah… kadang mereka bandel dan menyebalkan, tetapi melihat mereka dan segala kepolosan yang ada dalam diri mereka membuat saya memiliki energi lebih untuk menjalani hidup. Demi mereka, orang-orang tua seperti kita harus bertahan dan menjaga semua yang ada di dunia ini, agar ada yang tersisa untuk mereka. Eh, ngelantur deh saya… πŸ˜€

Kembali ke topik. Kenapa saya memberi judul seperti di atas untuk tulisan saya? Β Belakangan ini saya banyak mendengar cerita tentang bagaimana profesi guru jaman sekarang menjadi salah satu profesi favorit (mungkin tanpa saya sadari ini pulalah alasan saya menjadi guru), fakultas pendidikan pun menjadi fakultas favorit dengan peminat yang luar biasa. Konon katanya, daya tarik profesi guru ini menjadi meningkat dikarenakan adanya satu program kesejahteraan guru yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun belakangan ini, program tersebut bernama sertifikasi guru. Yang salah satu keluarganya atau bahkan dirinya sendiri berkutat pada profesi ini pasti paham betul tentang program yang saya maksud ini. Program ini memungkinkan seorang guru, baik yang masih honorer ataupun sudah menjadi PNS, yang telah memenuhi beberapa syarat yang diminta, mendapatkan insentif tambahan (yang jauh lebih besar dari gaji bulanan mereka) untuk meningkatkan produktifitas dan keprofesionalan mereka sebagai tenaga pendidik. Program ini diciptakan sebagai harapan, jika guru-gurunya sejahtera, maka mereka pun akan semakin bersemangat untuk memajukan kualitas kepintaran anak-anak didiknya. Tetapi, apakah realisasinya seperti yang diharapkan banyak pihak?

Saya tidak punya hak untuk menjawab itu semua. Karena memang bukan kapasitas saya untuk menjawab. Tapi boleh kan saya ceritakan beberapa kisah yang saya dengar?

Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke rumah salah seorang teman di kota sebelah, kami ngobrol seharian dan sedikit bertukar joke-joke kehidupan. Semakin lama, sampailah kami pada suatu obrolan dimana teman saya yang juga seorang guru sekolah dasar ini bercerita tentang keprihatinannya terhadap suami dan adik iparnya. Suaminya sudah dua tahun bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar, yang mana seharusnya ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi guru. Tetapi kenyataannya, justruu guru-guru yang telah berstatus PNS dan pasti gaji setiap bulanannya lah yang mendapat program tersebut. Sementara ia dan beberapa rekan sesama guru honorer tetap digaji di bawah standar UMR. Di lain sisi, kualitas sekolah dasar di tempat teman suami saya bekerja ini pun tak kunjung meningkat. Cerita yang lain tentang nasib adik ipar teman saya yang tak tentu di sebuah sekolah Islam swasta. Menurut teman saya, adik iparnya itu memutuskan untuk sekolah lagi karena di tempat ia mengajar ia tidak lagi mendapat jam untuk mengajar, menurutnya daripada menganggur lebih baik ia bersekolah lagi. Hal ini disebabkan karena guru-guru di tempat adik ipar teman saya bekerja berlomba-lomba untuk mendapatkan 24 jam pelajaran seminggu (menurut sumber terpercaya ini merupakan salah satu syarat mendapatkan sertifikasi), jadi meskipun mata pelajaran tersebut bukan mata pelajaran yang mereka ampu, mereka tetap memaksa untuk mengambil alih mata pelajaran tersebut agar mendapatkan insentif yang menggiurkan. Padahal di lain sisi, apa jadinya anak-anak tersebut jika guru yang mengajar sebuah mata pelajaran kepada mereka tidak berkompetensi di bidangnya?

Ya. Ironis. Saya yakin banyak pihak yang berharap begitu besar pada terealisasinya program sertifikasi guru ini agar sistem pendidikan di Indonesia lebih maju lagi, sebagaimana kita semua yang berharap pendidikan di negara ini paling tidak, tidak kalah jauh dengan negeri tetangga. Tetapi pada prakteknya, banyak oknum yang menyalahgunakan program ini untuk memperkaya diri. Sementara di belahan lain negara ini, banyak guru-guru yang hidupnya di bawah garis kemiskinan hanya karena kurangnya akses mereka untuk mendapatkan program tersebut.

Tentang pertanyaan saya yang saya utarakan di atas, silahkan Anda semua menjawabnya sendiri. Kalau Anda bertanya apa hal ini juga yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menjadi guru. Saya jawab dengan tegas, “Ya!” Saya tidak mau munafik, hidup semakin susah, hehe. Tapi saya selalu berdoa agar Allah senantiasa meluruskan niat saya. Saya hanya ingin bisa berbuat banyak hal baik dalam hidup saya dan untuk orang tua saya. Jadi meskipun nantinya saya mendapatkan atau bahkan tidak mendapatkan program sertifikasi tersebut, niat saya tetap sama. Saya cuma ingin, mempersiapkan mental anak-anak mungil ini selagi mereka masih seperti kertas putih yang polos, agar suatu saat nanti mereka bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s