Lovaholic

Di pojok ruangan Ia merajut sebuah syal biru langit. Dengan senyum yang tak henti terpajang di wajah bulat hitam manisnya, ia menari dengan jarum dan wol di tangannya. Ia begitu bahagia, membayangkan lelakinya memakai syal biru langit ini saat ia mendaki gunung, atau sekedar menikmati seangkir kopi di teras rumahnya yang dingin di Lembang. Matanya sesekali berbinar, membayangkan betapa gembiranya lelakinya ketika menerima syal ini nanti, ia pasti akan menggenggam tangannya, berputar girang seperti adegan film-film india, dan berterimakasih padanya, lalu ia akan memberinya sekuntum kamboja yang telah lama ia tanam di halaman rumahnya, menyisipkannya di telinganya, dan sekali lagi membisikkan kata terima kasih padanya. Pipinya bersemu merah jambu meski hal itu hanya bayangannya. Ia semakin giat merajut setiap benang, menjalinnya dengan rapi, agar syal biru langit ini bisa cepat Ia berikan. Pada lelakinya. Kekasihnya.

*****

    Matanya bersemu butiran kaca, ia berusaha menahan tumpahnya, tapi Ia tak mampu. Bibirnya bergetar pilu menahan isak dengan jari-jari rentanya. Menatap sedih pada gadis kecilnya, putri kesayangannya. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya, jeritan putrinya menyayat hatinya. 25 tahun lalu jeritan itu pertama kali ia dengar di puskesmas sebuah desa kecil, saat itu air mata haru yang keluar, setelah 5 tahun penantian, akhirnya ia mendengar jeritan bayi mungil yang ia dan suaminya idam-idamkan sejak lama. Tapi kini, bukan tangis haru yang menghias wajah letihnya. Ia terisak, bahunya berguncang kencang. Biasanya suaminya akan memeluknya dan meredam gucangan bahunya dengan lengannya yang kekar. Tapi kini, hanya gadis menyedihkan yang berteriak-teriak di ruangan itu yang ia punyai. Ia telah kehilangan semua kekuatannya, bahkan hanya untuk melindungi gadis yang telah dibesarkannya selama bertahun-tahun pun ia tak mampu. Tangisnya makin keras, ia membalik badannya, berlari ke ujung koridor, tersungkur, terisak, di antara bayangan pilar-pilar tua.

*****

    Bukannya ia membenci perempuan itu. Tapi hal itu tak boleh dibiarkan. Meskipun bukan sepenuhnya salah perempuan itu, ia tetap harus bertindak, bukan hanya perempuan itu yang akan hancur, ia, istri dan anak-anaknya pun akan hancur. Sejak perempuan itu datang di kehidupannya, ia hanya merasakan ketidaknyamanan. bahkan istrinya hampir mati karena serangan jantung ketika perempuan itu merangsek masuk ke rumahnya saat ia di luar kota dan berteriak-teriak pada istrinya untuk berhenti mengganggu suaminya, meneriakinya perempuan jalang, mendorong dan melukai istrinya di rumah mereka sendiri. Istrinya yang memang sudah memiliki penyakit jantung dan sedang hamil saat itu langsung shock dan pingsan. Beruntung pembantu di rumahnya belum pulang, perempuan renta itu langsung menolong istrinya dan menelepon ambulan. Ia bahkan menarik perempuan jahat itu pulang ke rumah mereka, dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa, Sebenarnya bukan maunya perempuan renta itu mengirim anaknya sendiri ke tempat itu, tapi perempuan renta itu memaksa. Ia tak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi.

*****

    ” Setelah beberapa test, dan wawancara, kami telah sampai pada hasil yang memang sudah kita semua perkirakan selama ini.” Aku menatap satu persatu wajah menyedihkan di hadapanku.
“Anak Ibu positif mengidap Erotomania, sebuah penyakit kejiwaan yang memungkinkan penderitanya berdelusi bahwa ia merasa dicintai dan memiliki hubungan dengan seseorang yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun dengannya atau bahkan tidak mengenalnya.” Aku menarik nafas panjang, melihat wajah sendu perempuan renta di hadapanku,
“Dalam beberapa kasus, penyakit ini biasanya dialami seorang penggemar terhadap selebriti yang digemarinya. penggemar tersebut merasa mereka mempunyai hubungan khusus dengan selebriti yang ia gemari, yang berakibat ia berperilaku obsesif dan posesif. Sehingga ia akan melakukan apapun untuk membahagiakan orang yang dia “rasa” mencintainya. Bahkan ada beberapa yang menguntit atau mengirim surat-surat cinta pada orang yang dicintainya seolah-olah mereka telah lama berhubungan.”
Aku menghela nafas,
” Singkatnya, penyakit kejiwaan ini akan membuat penderitanya berdelusi dan tidak bisa membedakan antara mimpi yang ia ciptakan dengan kenyataan, yang membuat ia berperilaku di luar nalar orang-orang kebanyakan.”
Aku menghela nafas lagi, melihat perempuan renta di hadapanku mulai terisak. Kami terdiam,
” Lalu penyakit ini bisa disembuhkan dok?” Suara bariton lelaki di samping perempuan renta itu memecah kesunyian ruanganku.
” Tentu. Dengan beberapa terapi dan pengobatan. Walaupun butuh waktu, tapi saya yakin, selama anak ibu ini bekerja sama dan memiliki kemauan yang kuat, kami dan dirinya sendiri akan bisa membantunya cepat keluar dari keadaan yang dialami anak ibu sekarang. Kita berdoa saja.”
Mereka tertunduk diam,
“Maafkan saya ak… Saya nggak bisa ngurus anak.” Perempuan renta itu terisak, lelaki muda di sampingnya menepuk pundak dan memeluknya seperti seorang anak memeluk ibunya.
” Nggak apa-apa bi, istri saya pun sudah mulai pulih. Ini bukan salah bi Ai’, memang sudah jalannya begini, kalau tidak begini kita nggak pernah tau Ety mengidap penyakit itu. Kita berdoa saja, semoga Ety cepat sembuh ya bi…”
Kami bertiga kembali terdiam, sesekali terdengar isak tangis perempuan renta itu.
Aku menatap keluar jendela, memandang gadis hitam manis yang sedang merajut di bangku taman. Ia tersenyum, sambil terus menjalin benang biru langit. Aku merasakan sedikit sesak di dadaku. Betapa cinta bisa sejahat ini, bahkan pada seseorang yang begitu mengagungkannya. Aku menarik nafas. Dalam-dalam.

” A mighty pain to love it is, and ’tis a pain that pain to miss; But of all pains, the greatest pain it is to love, but love in vain.” 

(Abraham Cowley)

Advertisements

Idealnya Sebuah Idealisme

Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan sebuah berita baik yang datang dari seorang teman. Lewat pesan singkat, teman saya itu mengabarkan bahwa ia telah melahirkan. Saya sebagai seorang teman tentu sangat berbahagia, sekalipun di sisi lain ada juga rasa iri, karena umur kami hanya berjarak satu tahun, beliau lebih tua satu tahun di atas saya. Tentu sebagai perempuan normal saya pun ingin merasakan hal tersebut, tapi apa daya, jodoh pun belum saya temukan sampai detik ini, :))

Akhirnya kemarin, begitu saya ada waktu luang saya pun mengunjungi beliau. Namanya teman yang cukup lama tidak berjumpa, kami pun langsung membahas banyak hal dari kisah horor proses persalinannya, sampai cerita-cerita ketika kami kuliah dulu. Kami pun sampai pada pembahasan betapa berbedanya kami dibandingkan ketika kami kuliah dulu. Ya, idealisme yang dulu begitu kami banggakan ternyata keropos seiring berjalannya waktu.

Sedikit tentang masa kuliah saya. Saya adalah seorang Sarjana Sastra Inggris. Namanya mahasiswa sastra, sudah pasti hampir setiap hari kami dijejali dan di”doktrin” dengan berbagai macam teori sastra dari berbagai tokoh luar yang bisa dikategorikan sebagai pionir-pionir perkembangan sanstra dunia, seperti Simone de Beavoir, John Donne, Kate Chopin, Chekov hingga Freud. Karena hal-hal tersebut sudah seperti makanan kami sehari-hari, lama kelamaan kami mulai berfikir selaras dengan hal-hal yang kami baca dan analisa setiap hari. Beberapa teman mulai berfikir sebagaimana para sosialis berfikir, yang lain mulai berbicara tentang bagaimana perkembangan sastra berkaitan dengan berbagai aspek, dan banyak hal lain yang mulai membuat saya berfikir, ada proses pencucian otak di sini. Hahahaha, oke, saya terlalu berlebihan. Intinya, kami mulai berfikir kalau teori-teori sastra yang kami kenal benar-benar dapat diaplikasikan secara total dalam kehidupan kami. Dalam kasus saya, karena kebetulan setiap menganalisa sebuah novel saya selalu membahas novel tentang perempuan, akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai berfikir seperti para feminis berfikir, begitu pun dengan teman yang saya sebutkan di atas, dan beberapa teman sepermainan kami yang kebetulan sesama perempuan.

Seperti kebanyakan teori feminisme yang kami baca, kami pun mulai berfikir betapa selama ini kami telah hidup di sebuah dunia yang dibentuk oleh pemikiran-pemikiran kaum pria, dunia patriarki. Bahkan konsep sebuah kecantikan pun bukan kami sebagai pemilik kecantikan yang menentukan. Dari jaman Cleopatra sampai Julia Perress, kecantikan yang kami tahu adalah cantik menurut konsep kaum pria. Dari sinilah idealisme kami terbentuk. Karena dunia menurut kami (saat itu) tak pernah cukup ideal bagi kaum perempuan, kami pun mulai menciptakan dunia yang ideal bagi kami, kami mulai bermimpi dan berencana. Selesai kuliah kami akan bekerja mengejar impian kami, menjadi wanita sukses, berkuasa di atas para pria, setelah itu baru kami akan menikah. Beberapa teman bahkan ada yang berfikir ekstrim dengan berencana tidak akan menikah, apalagi memiliki anak, karena menurut mereka pernikahan adalah sebuah sistem bentukan patriarki untuk membelenggu para perempuan agar tidak menjadi superior dan berkuasa di atas mereka. Ya, semengerikan itulah idealisme kami dahulu.

Seiring berjalannya waktu, kami pun sampai pada akhir masa kuliah kami, beberapa ada yang telah menikah bahkan sebelum kami diwisuda, beberapa ada yang tetap berpegang teguh pada idealismenya. Saya sendiri pada waktu itu telah membuat rencana jangka panjang yang menurut saya spektakuler dalam hidup saya. Tapi, hidup berkehendak lain, ibarat kapal laut, ternyata selama ini kami bukanlah nahkoda kapal kami, kami hanya para penumpang berpelampung di tengah kejamnya badai dunia nyata setelah kuliah ( here I am, lebay again, hehe). Idealisme kami pun sedikit demi sedikit mulai luntur. Yang dulunya begitu menghindari fase bernama pernikahan pun pada akhirnya memutuskan untuk menikah lebih dulu daripada saya, dan benar-benar melepas keegoan masa kuliah dahulu.

Ya, ternyata inilah kuliah yang sebenarnya, yang ternyata banyak mengajarkan hal baru pada kami. Dalam kasus teman yang melahirkan tadi, dulu dia bermimpi untuk menjadi wanita karir dahulu baru berfikir untuk memiliki anak. Ternyata, ketika ia dipercaya untuk mengandung dan akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan luar biasa, segala yang dia impikan pudar, impiannya saat ini, hanya ingin membesarkan anaknya secara total dan merasakan peran sebagai ibu yang seutuhnya tanpa disibukkan hal-hal berbau karir. Saya sendiri pun sekarang memiliki impian yang jauh berbeda dari impian yang saya bangun dahulu, saat ini saya ingin menikah, memiliki sebuah rumah mungil dengan halaman luas, dan saat dikaruniai anak nanti, saya juga ingin berhenti dari pekerjaan saya, saya ingin melihat setiap detik pertumbuhan anak saya dan menjadi saksi tumbuh kembang bayi mungil saya.

Akhirnya, perbincangan kami kemarin sore sampai pada suatu kesimpulan. Bahwa Tuhan telah begitu baik membuat sebuah rencana kehidupan yang sempurna bagi kita, sebuah rencana yang jauh lebih baik daripada yang kita rencanakan. Rencana yang pada awalnya tak begitu ideal bagi kita itu ternyata pada salah satu fase kehidupan kita menjadi begitu ideal dan begitu nyaman. Pada akhirnya, sebuah idealisme bukan tentang bagaimana memaksa hidup menjadi seperti yang kita mau, idealisme adalah membuat hidup menjadi tempat yang paling nyaman karena kita tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Allah maha baik, mungkin karena itulah doa-doa dan harapan kami tidak menjadi kenyataan, karena Allah tahu, bukan itu yang kami butuhkan, inilah yang kami butuhkan. Bahkan pahit manisnya pun telah diperhitungkan oleh Nya, agar pada saatnya nanti, ketika kami meninggalkan dunia ini, kami tahu, inilah hidup yang kami butuhkan.

Saya sendiri sampai detik ini masih memiliki banyak mimpi dan harapan, tetapi saya realistis, ada beberapa mimpi yang mungkin dan yang tidak mungkin. Tetap bermimpi saja, Allah maha tahu seberapa besar usaha kita, kalau memang itu yang kita butuhkan, maka itulah yang Allah berikan. Takdir masih bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung bagaimana usaha dan doa kita.