Menggali Kenangan

toilet-roll-album-memories1

Beberapa minggu lalu, waktu saya dan mamah sedang beres-beres rumah, saya tidak sengaja menemukan tumpukan album berdebu dan buku-buku lama ketika saya sekolah dulu yang memang sudah lama tidak tersentuh. Iseng-iseng saya buka satu persatu album tersebut. Sudah jadi tradisi di keluarga kami, setiap anak memiliki album pribadi mereka. Album milik saya berwarna merah, di dalamnya ada banyak foto-foto saya dari umur 3 bulan sampai 5 tahun. Beberapa foto membuat saya tertawa, beberapa membuat saya menerawang mengingat, apa saja yang terjadi saat itu. Jujur, saya adalah tipe orang dengan jangka ingatan yang pendek, jika kebanyakan orang mengingat masa kecilnya, saya sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan satu-satunya pesta ulang tahun yang dirayakan dalam hidup saya saat umur 5 tahun pun saya tidak mengingatnya, yang saya ingat justru gambar-gambar dalam album berwarna merah tersebut. Saya memang payah dalam hal ingat-mengingat.

Selain tumpukan album, saya juga menemukan buku kenangan SMP saya yang sudah lama tidak saya lihat. Saya kira saya lebih mudah mengingat kenangan jaman SMP, mengingat jarak waktunya tidak terlalu jauh daripada saya mengingat momen-momen balita atau SD saya. Tapi ternyata sama saja, saya hanya bisa mengingat beberapa hal (termasuk pelajaran yang saya terima), selain itu, saya lupa. Masalah ingatan ini sebenarnya hal yang simpel, saya hanya perlu sedikit berusaha untuk menggali ingatan saya dengan bantuan foto-foto dan album kenangan yang saya miliki. Tapi, mungkin karena memang dasarnya pelupa parah. Saya sampai sering istighfar, karena merasa penyakit lupa ini begitu parahnya.

Saya jadi kepikiran. Mungkin bukan hal yang sulit bagi kita, orang-orang yang telah mengenal tekhnologi bernama kamera untuk mengingat sebuah peristiwa, karena selain mengabadikannya dalam kenangan kita bisa juga mengabadikannya dengan kamera. Seandainya kita lupa, gambar-gambar itu yang akan mengingatkan kita. Tapi, sebelum kamera ada, bagaimana ya orang-orang jaman dahulu mengabadikan momen-momen manis dalam hidup mereka? Sedangkan mungkin, lukisan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang ber-uang. Ya, mungkin mereka hanya mengenangnya, dan menyimpan semuanya dalam memori otak mereka untuk nantinya diceritakan pada anak cucu mereka.

Ngomong-ngomong tentang foto, akhir-akhir ini saya sering melihat publikasi foto-foto kuno RMS Titanic sebelum tenggelam di berbagai media elektronik. Yang menarik adalah, ketika saya melihat foto-foto kuno tersebut di salah satu situs, di bawah setiap fotonya tertulis catatan kaki yang berbunyi “Sebuah gambar menceritakan banyak hal.”

Ya, sebuah gambar entah mengapa selalu membawa berbagai kenangan dalam hidup saya. Seperti saya, selupa apapun saya pada kenangan-kenangan tersebut, album dan buku kenangan saya seperti mengingatkan kembali seperti apa saya yang dulu, bagaimana saya menjadi saya yang sekarang, dan betapa banyak hal manis yang pernah saya alami yang patut untuk disyukuri. Melihat gambar-gambar yang tersenyum, polos, dan tanpa dosa itu seperti “mencolek” saya, sesulit apapun kesulitan yang mungkin saya alami nanti, selalu ingat saja, senyum polos dan tulus itu pernah ada di wajah saya, kalau sekarang pudar, kenapa tidak mencoba lagi untuk tersenyum, sekalipun senyum itu tak sepolos dan setulus dahulu setidaknya ada sedikit kelegaan di hati kita dan keyakinan bahwa kita bisa melewati semuanya sebagaimana kita telah melewati banyak hal sulit di masa lalu kita.

“Sweet is the memory of past troubles.” (Marcus Tullius Cicero)