Kesalah Kaprahan Kisah Pelacur yang Masuk Surga Karena Seekor Anjing

Pernah dengar salah satu kisah yang pernah diceritakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW tentang seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum seorang anjing yang kehausan?

Inti dari kisah ini sebenarnya adalah, Allah menyukai hambanya yang memiliki sifat kasih sayang ke semua mahluknya, BUKAN tentang “seorang pelacur pun bisa masuk surga apalagi kita yang dosanya begini aja.” Kutipan sebelumnya saya kutip dari seseorang yang saya kenal. Kenapa saya menggunakan huruf besar pada kata “bukan” di atas? Saya hanya ingin menegaskan saja, karena akhir-akhir ini saya sering mendengar kisah tentang pelacur ini disalah kaprahkan. Kisah ini seolah-olah dijadikan pembenaran pada setiap hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Misalnya saja, tahun lalu kita semua pasti sudah mendengar kehebohan tentang video asusila Luna Maya, Ariel dan Cut Tary. Saat itu di setiap jejaring sosial pasti kita banyak menemukan opini yang membela dan menggugat mereka, begitupun di akun Facebook saya. Saat itu banyak status tentang peristiwa ini yang menghiasi halaman dinding saya. Ada salah satu status yang membuat saya agak tidak “nyaman”, yang ditulis salah satu teman kuliah saya, kalau tidak salah kurang lebih statusnya berbunyi seperti ini (maaf kalau salah kutip, sudah lama soalnya) “Kenapa semua mencela Luna Maya, lupakah kalian pada kisah tentang Pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing?” Rasa tidak nyaman saya muncul karena saya menganggap kisah ini dipelintir sedemikian rupa sehingga seolah-olah hal yang dilakukan Luna Maya bukanlah hal yang besar sehingga patut dimaklumi dan di”maaf”kan. Waktu itu saya gatal ingin mengomentari status tersebut, tapi berhubung ilmu saya masih cetek (sampai sekarang pun masih), saya tidak memiliki argumen yang cukup kuat untuk menyanggah pernyataan beliau yang menyetir kisah tersebut.

Maha baik Allah. Sabtu pagi kemarin saya menemukan jawaban dari pergulatan batin saya (agak lebay dikit biar keren, hehe) tentang kisah pelacur ini. Pagi kemarin kebetulan sedang diadakan Tabligh Akbar di sebuah Masjid di kota saya, penceramahnya seorang Imam masjid yang khusus didatangkan dari Madinah (maaf, saya lupa mencatat nama beliau). Saat itu beliau berceramah tentang faedah memiliki rahmat kasih sayang di hati kita sebagaimana rahmat kasih sayang yang dimiliki Rasulullah SAW. Beliau mengambil kisah seorang pemuda jahat yang seumur hidupnya melakukan perbuatan yang diharamkan Allah. Tiba-tiba pemuda tersebut menjadi pemuda sholeh yang senantiasa tunduk pada perintah Allah dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid untuk beribadah. Perubahan drastis pemuda ini membuat seorang pemuda lain kagum sehingga ia pun bertanya pada pemuda tersebut mengapa tiba-tiba ia menjadi begitu sholeh. Pemuda mantan penjahat tersebut pun menjawab, suatu hari ia merasa begitu lapar dan haus, tapi di rumahnya hanya ada khamr (minuman keras), sehingga ia memutuskan untuk keluar mencari makanan, di tengah jalan ia menemukan seekor anjing yang kehausan, lalu ia memutuskan untuk memberi minum anjing tersebut. Sesampainya di rumah ia langsung tertidur dan begitu bangun ia tiba-tiba tidak ingin menyentuh khamr atau berbuat tercela lagi. Kenapa bisa begitu? Menurut sang imam, hal ini terjadi karena pemuda tersebut mendapat rahmat kasih sayang. Sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu hadits di sirah nabawiyah yaitu, “Orang yang memiliki kasih sayang akan mendapatkan kasih sayang Allah”, dan bentuk kasih sayang Allah pada pemuda yang menunjukkan kasih sayangnya kepada seekor anjing tersebut adalah berupa hidayah untuk meninggalkan perbuatan tercela yang selama ini ia lakukan dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah.

Lalu, apa hubungannya kisah pemuda di atas dengan kisah pelacur yang masuk surga? Masih menurut imam tersebut, sama dengan kisah pemuda mantan penjahat itu, Allah tidak serta merta memaafkan dosa-dosa pelacur tersebut dan memasukkannya ke surga, Allah memberi pelacur tersebut hidayah agar tidak lagi melakukan dosa-dosa yang pernah ia lakukan sebagai bentuk kasih sayang Allah padanya karena telah menyayangi mahluk Allah yang lain. Jadi, kisah ini dibuat untuk mengingatkan manusia betapa pentingnya memiliki sifat kasih sayang sebagaimana sifat kasih sayang yang dimiliki Rasulullah di hati kita, tidak hanya sayang pada keluarga atau teman, tetapi juga kasih sayang pada setiap mahluk ciptaan Allah termasuk alam semesta dan seisinya. Kesimpulannya, kisah ini bukan tentang memaklumi dan mewajarkan sebuah dosa. Karena bagaimanapun, amal perbuatan kitalah yang menentukan nasib kita di hari akhir kelak.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh, rupa luaran dan harta kamu, tetapi melihat kepada hati dan amalan kamu” (Riwayat Muslim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s