Life that I Know Was Beautiful

Pernahkah Anda membayangkan diri Anda ada dalam sebuah adegan film? Menjadi seorang hippies misalnya, yang nggak perlu repot bawa berkoper-koper pakaian untuk pergi ke suatu tempat yang Anda mau, tidur di sebuah losmen tua di pinggir kota London, atau makan croissant di kafe-kafe tepi jalanan Paris, atau bahkan menerobos ilalang di antara pandangan lapar segerombol cheetah di sebuah padang rumput Afrika? Pernahkah Anda membayangkan Anda dianugerahi kemampuan menyelam sehingga bisa menelusuri gua bawah laut di ganasnya lautan Papua Nugini, atau dengan sedikit bekal dan peralatan terjebak di puncak Mahameru yang berstatus siaga, atau bahkan sedang berbasah-basah ria memburu anaconda di belantara bakau kalimantan?

Ya, hidup dalam sebuah film memang semudah itu. Sekarang mungkin Anda sedang meregang nyawa di antara mayat-mayat teman seperjalanan Anda di puncak Himalaya, tapi beberapa detik kemudian, sebuah mukjizat berbentuk seorang bhiksu dari dataran tinggi Laksha datang menolong Anda. Atau Anda yang sedang dirampok sekelompok anak muda pecandu di Kowloon lalu tiba-tiba Jackie Chan menendang mereka satu persatu tanpa sedikitpun menyentuh tanah dan Anda pun terhindar dari maut. Ya, impossible. Karena itulah film dikategorikan sebagai sebuah karya fiksi (buat saya film dan dokumenter adalah hal yang berbeda), sekalipun film itu dibuat berdasarkan kisah nyata, sudah jadi rahasia umum pasti ada beberapa bagian yang didramatisir sehingga terlihat begitu menancap di hati setiap mata yang menontonnya.

Life that I know was beautiful. Inilah yang tertanam di otak seorang Vani kecil dari dulu, mungkin dari dulu saya terlalu sering liat kartun Candy-Candy dan Mac Gyver (saya tahu, harusnya dulu saya lihat keluarga Cemara atau Si Doel saja), jadi dalam otak saya “terdoktrin” bahwa hidup semudah dan seindah itu. Saya yang dulu, selalu berharap jadi Candy, seorang gadis miskin yang tinggal di sebuah istana, sekolah di tempat elit dan menikah dengan Anthony yang gantengya mustahil itu. Saya juga selalu berharap jadi Mac Gyver yang bisa loncat kesana kemari tanpa uang, dan sanggup mengalahkan musuh meski hanya dengan peralatan sederhana di sekitarnya. Ya, saya dulu memang seculun itu, sampai sekarang pun sisa-sisa keculunan itu mungkin masih ada…

Tapi saya lupa, bahkan kisah sefiksi film pun tidak selalu memiliki akhir yang bahagia, bahkan ada yang akhirnya menggantung atau bahkan memiliki alur twisting seperti film-filmnya Night Shyamalan yang akhirnya selalu tak terduga dan di luar harapan. Ya, saya lupa bahwa seorang tokoh utama pun bisa tersiksa dan mati mengenaskan di akhir film. Pada akhirnya, sebuah film hanyalah cerminan dari kehidupan nyata, para sineas-sineas di balik fil tersebut mengadaptasi segala hal yang mereka alami di dunia nyata, mengkombinasikannya dengan imajinasi mereka, dan mendekorasinya dengan aksi, dan drama yang spektakuler atau bahkan menyentuh. Pada akhirnya, saya sampai pada sebuah kesimpulan “Life that I know is still beautiful”, semua hanya tentang bagaimana saya menikmati lakon saya ini seperti para aktor dan aktris film yang menikmati peran mereka di sebuah film, saya juga harus menghayati setiap episode kehidupan saya yang spektakuler ini sebagaimana para aktor dan aktris menghayati peran mereka dalam sebuah film. Pada akhirnya, saya, mungkin juga kita, sama dengan para aktor dan aktris tersebut, yang berharap kerja keras mereka selama ini dihargai dengan sebuah piala Oscar.

Ibarat film, hidup itu alurnya twisting seperti film-filmnya Night Shyamalan, kita nggak tahu akan dibawa kemana, kita nggak tahu apa yang akan terjadi, kita bahkan nggak tahu apa yang sedang terjadi sekarang, dan yang pasti kita nggak tahu kita akan berakhir seperti apa atau bagaimana. Yang perlu kita lakukan hanya menjalani dan menghayati setiap adegannya dengan sungguh-sungguh, sekali-sekali beresiko juga boleh, asal kita berani menghadapi setiap konsekuensinya.

Jadi, siapkan popcorn dan segelas minuman ringan, duduk di sofa yang nyaman, dan selamat menonton..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s