How Time Flies

Setiap awal tahun kita pasti sering mendengar hal-hal seperti, “Cepet banget sih,” “Kok uda taun baru ajah…,” “Aduh, makin tua.” Ya, waktu yang katanya berjumlah 12 bulan atau 365 hari ini memang makin lama rasanya makin cepat saja, sepertinya baru saja kita bangun pagi, lalu tiba-tiba kita sudah bangun pagi di hari yang baru lagi. Begitupun saya, saya merasa detik jam begitu cepat bergerak, sekejap lalu saya masih anak polos yang baru masuk ke perguruan tinggi, bersusah-susah mencari bahan ospek. Tiba-tiba kini saya telah jadi seorang perempuan dewasa yang hampir memasuki angka 24. Kadang saya mikir mungkin cuma saya yang terlalu lebay soal waktu yang menurut saya terlalu cepat ini, tapi ternyata nggak cuma saya yang berfikir begitu. Tiap bertemu teman-teman SMA atau kuliah, saya selalu menemukan keluhan yang sama, betapa cepatnya waktu berjalan. Apalagi kalau mereka sudah bercerita dan bernostalgia tentang masa lalu, saya makin merasa tua karena seingat saya peristiwa-peristiwa itu baru saja saya alami. Sebenarnya, waktu berjalan normal dari dulu sampe sekarang, sehari masih 24 jam, seminggu masih 7 hari, sebulan masih 4 minngu, setahun masih 12 bulan. Secara matematis memang nggak secepat itu, tapi kalau dijalani rasanya kok terlalu cepat. Seperti sedang berada di sebuah kereta super cepat buatan Cina.

Thank’s to Mbah Google, karena saya tipe orang yang penasaran dan sok tahu, saya jadi memiliki teori kenapa waktu berjalan begitu cepat yang saya dapat dari Google tentunya… Konon katanya setiap tahun waktu yang ada di bumi berkurang sekian menit (saya lupa sumbernya). See, mungkin karena itulah kenapa waktu berjalan begitu cepat karena satu menit pun berharga saudara-saudara… Coba lihat adegan sebuah film dalam satu menit, pasti ada banyak adegan dan dialog yang bisa dilakukan dalam waktu satu menit saja.

Saya jadi nyesel kenapa waktu kecil dulu berharap supaya cepat menjadi dewasa. Karena sampai sekarang saya masih jetlag dan belum bisa beradaptasi dengan kedewasaan saya (oke, yang ini lebay). Intinya, saya nggak ikhlas nggak sempat menikmati setiap detik waktu dalam hidup saya dan menggunakannya dengan hal-hal yang bermanfaat (menanam tomat misalnya, mengingat harga tomat sekilo sekarang lebih mahal dari daging ayam). Tapi, menyesal juga percuma, masa lalu sudah saya lewati tanpa sempat saya sadari.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan klasik. Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau saya harus memakan habis bubur itu supaya tidak mubadzir. Kalau saya tidak suka dengan bubur itu, saya nggak bisa membuangnya begitu saja, yang harus saya lakukan adalah menambahkan hal yang saya suka ke dalam bubur itu supaya bisa saya nikmati, tambah ayam dan cakue misalnya, jadi bubur ayam deh… πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s