Malang Pukul 14.03 Saat Hujan

Pernahkah kamu rasakan?
Saat kamu begitu bahagia,
kamu langsung ingat pada seseorang dan
berharap kamu dapat berbagi kebahagiaan dengannya,
atau,
ketika kamu merasa sangat bersedih,
kamu berharap dia ada di samping kamu,
dan meminjamkan bahunya
untuk tempatmu bersandar?
Aku pernah.
Dan aku berharap seseorang itu kamu.

Kubaca lagi pesan singkat yang baru saja kuketik, sambil menimbang keberanianku untuk menekan tombol kirim. Kubaca lagi, kuhapus sedikit, ku ketik lagi, lalu kubaca lagi. Tidak ada yang salah dengan pesan singkat ini, hanya aku yang tak ada keberanian untuk mengirimkannya. Sudah sejak kemarin aku merasa begitu sedih sebenarnya, tapi baru hari ini aku berani mengetikkan pesan ini. Ya, aku berharap kamu di sini untuk sekedar mendengar keluh kesahku tentang hidup yang makin lama makin tak bersahabat ini, atau duduk saja di sampingku sambil bercerita tentang semua hal lucu yang kamu tahu, akan aku dengarkan.

Aku memang sedang sangat rapuh saat ini, karena itu aku berani menulis pesan singkat ini, aku benar-benar sedang merindukanmu. Tanganku masih bermain di antara tombol ponsel, mencoba menemukan dan mengumpulkan keberanian untuk menekan tombol kirim. “Duarrrrrr…..” tiba-tiba petir menggelegar menembus jendela ruangan ini, karena terlalu kaget jempolku pun menekan tombol kirim. Aku tertawa menahan gelegak perasaan campur aduk yang aku rasakan. Entah apa yang ada di pikiranmu saat kau membaca pesan singkat itu, aku harap nomormu masih nomor yang sama.

5 menit, 10 menit, hingga 20 menit, tiba-tiba nada ringtone sebuah ponsel memecah kesunyian. Aku tidak mengenali nada itu, itu bukan dari ponselku. Ku lihat di bawah meja tak kutemukan apapun, kulongok atas lemari, nada suara itu makin dekat, ku ambil tumpukan kardus di atas lemari dan membukanya. Betapa kagetnya aku melihat sebuah ponsel di dalamnya berdering, sejenak aku diam, lalu tersenyum. Bodoh, karena terlalu rindu aku sampai lupa, kamu sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Aku lalu berdiri dan duduk di kursi tempat kita biasa bercengkrama bertahun-tahun lalu, memandangi tetesan air yang meleleh di jendela dan menerawang jauh menembus tirai-tirai hujan yang rapat. Duh sayang, aku benar-benar merindukanmu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s