Minggu Sore di Sebuah Terminal

Hujan kembali membasahi setiap jengkal langkahku. Aku berlari menaiki anak tangga, berbelok ke peron, dan sampailah aku di bangku panjang warna biru tempat kita biasa bertemu. Pedagang kaki lima tak bosan-bosannya melewatiku, menawarkan dagangannya, beberapa pasrah saat aku menggeleng, beberapa istiqomah memaksaku membeli dagangan, kuputuskan membeli sebungkus tisu dan permen mint.

Sama seperti para pedagang itu, satu persatu bis antar kota lalu lalang keluar masuk terminal. Kulirik jam tanganku, 15 menit sudah dan kau tak juga datang. Setiap bis patas masuk, aku mendongakkan leherku seperti jerapah yang kelaparan, berharap yang keluar dari pintu bis-bis itu kamu dan ransel lusuhmu.

Asap rokok mulai mengusik hidungku, kuambil selembar tisu dari sakuku. Lalu, seorang pria menghampiriku, dan langsung duduk di sampingku, ia menghela nafas panjang, tanpa ia ceritakan pun aku tahu ia pasti telah melalui minggu yang berat. Alis tebalnya sesekali bertautan menahan perihnya mata karena berhari-hari tidak tidur. Tanpa aku pinta ia langsung berkisah, “saya terlalu lelah, tapi kalau tidak begini saya nggak mungkin mencapai apa yang saya inginkan. Biarlah semalam dua malam tak tidur, asal nanti semua yang saya inginkan tercapai. Tak peduli, biar badan remuk, tak peduli biar badan redam, asal perempuanku bahagia.” Ia kembali menghela nafas, kali ini lebih panjang, kusodorkan selembar tisu padanya. “Biarlah, biar saya buktikan dulu kalau saya tidak pernah main-main. Kami sama-sama dalam masa penantian. Tapi perasaan saya tak pernah berubah. Terimakasih.” Ia lalu berdiri dan masuk ke dalam bus yang akan berangkat, asap hitam knalpot bus membawanya menjauh.

Kuambil sebungkus permen mint dan menelannya bulat-bulat. “Bodoh, bahkan tak kamu biarkan aku bicara sedikitpun untuk menghiburmu, tak kau biarkan kutawarkan bahuku untukmu melepas lelah. Datang lalu pergi bersama asap hitam. Benar-benar tipemu. Benar-benar lelaki bodoh. bahkan tak kau ucapkan sampai jumpa lagi. Padahal belum tentu aku akan kesini lagi minggu depan. Bodoh. Sama saja seperti bertahun-tahun lalu. Bodoh.”

Kutinggalkan bangku panjang berwarna biru itu, kutelan bulat-bulat pahitnya permen mint yang kubeli bersama semua kata yang seharusnya kuucapkan saat ia datang tadi. Aku melangkah tegap meninggalkan bangunan ini, melangkah tegap tanpa menoleh ke belakang, karena tak ada apa-apa lagi di sana. Tak kutemukan lagi yang kucari. Tak ada lagi yang ingin kukatakan, semua tertelan bersama permen mint dan menghilang bersama asap hitam knalpot bis. Ya, selamat tinggal lelaki, tak akan kau temui aku lagi. Aku janji, tak akan aku biarkan kamu terlalu lelah untuk memperjuangkan sesuatu yang semu. Memperjuangkan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s