Anak-Anak

Banyak yang bilang, menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Membesarkan seorang anak tidak semudah mengasuh hewan digital di Tamagochi dan mengatur hidup mereka pun tidak semudah bermain The Sims. Banyak juga yang bilang, orang tualah yang berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak, karena “baik” dan “buruk” nya seseorang ditentukan oleh pola asuh mereka semasa kanak-kanak (Kata baik dan buruk saya beri tanda kutip karena perspektif seseorang terhadap dua hal tersebut berbeda satu sama lainnya).

Tapi, apakah kita pernah mencoba berfikir di luar lingkaran yang sudah ada ini? Pernahkah kita berfikir, bahwa selain orang tua dan lingkungan, si anak sendiri juga merupakan poin penting yang berpengaruh dalam tumbuh kembangnya sendiri?

Ajak-Anak-Berpuasa-Sejak-Dini

Sedikit berbagi tentang kisah saya siang ini. Ketika saya mengajar, ada seorang anak yang tiba-tiba menangis, ketika saya tanyakan ke anak tersebut, teman-temannya menjawab bahwa ia menangis karena ia takut dimarahi orang tuanya, usut punya usut, ternyata anak tersebut takut dimarahi orang tuanya karena tidak masuk sepuluh besar saat pembagian raport hari itu. Sebagai guru yang mencoba baik (hehe) pada anak didiknya, saya jelas tidak akan membiarkan anak didik saya menangis di kelas ketika saya mengajar, bukan apa, takutnya saya dikira menyiksa anak tersebut. Jadilah saya dan teman-temannya berusaha menyemangatinya lagi dengan memberi pengertian bahwa rangking bukanlah segalanya, karena menurut saya dia termasuk anak yang cerdas, nilai-nilainya pun di atas KKM semua, bahkan tergolong bagus, tetapi karena selisih jumlah total nilai dengan teman-temannya, ia pun tidak masuk 10 besar. Bahkan, ia jadi menganggap dirinya sebagai orang paling bodoh karena doktrin orang tuanya yang mengatakan, anak yang tidak masuk 10 besar berarti anak yang bodoh. Saya heran, kenapa rangking seolah menjadi dewa dan tolak ukur pintar tidaknya seorang anak. Soal ini saya jadi setuju dengan pendapat Kak Seto yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di rumah (home schooling) daripada di sekolah, karena di rumah, anak akan menjadi lebih nyaman dalam belajar dan tidak melulu berfikir untuk berkompetisi menjadi yang terbaik.

Kejadian hari ini tentu membuat saya sedikit terusik. Hari ini mungkin dia menangis, besok-besok entah apa yang akan dia lakukan untuk meluapkan kekecewaannya. Akhir-akhir ini kita pasti sering mendengar berita tentang anak-anak yang bunuh diri karena hal sepele, untuk kita yang generasi “tua” ini, hal ini bukanlah hal yang wajar untuk anak-anak seumuran mereka, karena kita menganggap anak-anak seumuran mereka adalah anak-anak polos yang tidak mungkin akan berpikiran sejauh, sedewasa, dan sekritis itu sehingga sampai berfikir untuk bunuh diri. Tapi kita lupa, seiring dengan perkembangan jaman, segala sesuatu menjadi tak terbatas, limpahan informasi dan berita yang diterima anak-anak jaman sekarang jauh lebih cepat dan lebih banyak daripada kita yang hidup di masa lalu. Karena itulah, anak-anak sekarang berfikir lebih dewasa dan kritis daripada anak-anak jaman dulu, tidak hanya dari cara berfikirnya saja. Secara psikologis, anak-anak jaman sekarang pun menjadi lebih rapuh dan labil daripada anak-anak jaman dulu. Karena itulah, sebagai orang tua, kita pun harus menyesuaikan pola didik yang akan kita terapkan pada anak-anak dengan perkembangan jaman yang ada. Kita nggak mungkin meniru mentah-mentah cara mendidik orang tua kita dahulu, karena jamannya pun sudah berubah. Saya mungkin memang belum menjadi orang tua, tapi karena lingkungan kerja saya yang bersentuhan dengan anak-anak, saya jadi banyak melihat berbagai polah asuh dan akibat-akibatnya ke si anak tersebut.

Saya tidak bilang pola asuh yang selama ini telah diterapkan salah. Saya hanya ingin mengajak para orang tua untuk sedikit berfikir di luar konsep yang selama ini kita anut. Apakah anak yang membutuhkan orang tua? Orang tua yang membutuhkan anak-anak? Atau orang tua dan anak saling membutuhkan? Pernahkah kita mencoba menanyakan apa keinginan anak kita? Apakah mereka nyaman dan bahagia? Apakah menurut mereka kasih sayang kita cukup untuk mereka?

Begini saja, mungkin apa yang saya tuliskan di atas terlalu teoritis dan filosofis. Mari berfikir secara simple. Bukankah anak adalah darah daging kita? Gen, DNA, dan darah kita mengalir di tubuh mereka? Suka tidak suka, anak adalah cerminan diri kita, sifat kita, dan mungkin cara berfikirnya pun sama dengan kita. Lalu, kenapa kita selalu menekan mereka untuk menjadi sesempurna mungkin sementara kita yang merupakan cikal bakal mereka tidaklah sempurna?

Ya, anak adalah cerminan diri kita, baik buruknya anak merupakan refleksi baik buruknya kita. Jadi kenapa kita ingin mereka sempurna sementara kita tidak menyempurnakan diri untuk mereka? Kita menuntut mereka menjadi anak yang baik? sementara kita tidak berusaha menjadi “baik” untuk mereka?

Anak-anak adalah kertas putih polos, saat mereka kecil kita banyak menuliskan hal-hal yang menurut kita baik untuk mereka, tetapi ketika besar anak-anak itulah yang nantinya akan menulis cerita mereka sendiri di kertas mereka. Kalau saat mereka kecil kita sudah memenuhi kertas putih polos itu dengan tulisan dan coretan kita, saat mereka dewasa mereka tidak akan bisa menemukan sudut yang kosong untuk menulis tulisan mereka sendiri, menentukan jalan hidup mereka sendiri.

Seorang bayi yang baru terlahir adalah awal dari segalanya, sebuah keajaiban, harapan, dan mimpi tentang kemungkinan. Di dunia yang meratakan dan membabat habis pepohonan demi jalan, menutup tanah demi beton…..
Bayi adalah satu-satunya mata Rantai yang tertinggal antara kita dengan alam, tempat kita bermula.

(Eda J.Le Shan)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s