Ikhlas atau Rela?

Saya lagi sebel tingkat dewa dengan kebijakan baru Facebook yang mengharuskan penggunanya menggunakan fitur timeline yang menurut saya mengganggu, dan hebatnya para penggunanya hanya diberi kesempatan waktu seminggu untuk “bersih-bersih” profilnya. Bukannya saya orang kuno yang tidak suka kemajuan atau apa, yang saya tidak suka fitur baru ini memungkinkan penggunanya dan orang lain melihat status-status jadul yang mungkin ingin dilupakan. Akhirnya beberapa hari lalu saya seharian di depan komputer bersih-bersih profil Facebook saya dengan menghapus segala hal yang dulu pernah saya tulis atau saya lakukan tapi sekarang ingin saya lupakan. Ternyata benar, jika suatu pekerjaan dilakukan dengan setengah hati maka hasilnya pun tidak maksimal atau bahkan buruk. Akibat perubahan tampilan profil dari profil standar ke fitur timeline saya kehilangan sebagian besar catatan saya, yang tadinya 21 catatan sekarang tinggal 6, kemana yang lainnya? Dasar saya memang protestan (tukang protes maksudnya, no offense ya…hehe), proteslah saya ke adminnya facebook. Dan sampai detik ini setelah 3 kali saya protes catatan-catatan saya yang malang belum kembali juga.

Boleh deh saya dibilang lebay, nggak penting atau apapun lah. Masalah sepele memang, tapi catatan-catatan itu saya buat dengan hati, dari hati saya yang terdalam dan cuma beberapa yang salinannya saya simpan, yang lainnya saya buat langsung jadi tidak ada salinan. Masak iya harus saya tulis ulang sama persis supaya catatan-catatan saya itu ada lagi, maaf juragan tapi kapasitas otak saya tidak secanggih itu untuk mengingat tiap detil catatan saya. Ya, saya nggak rela benar-benar nggak rela. Saking sebelnya saya sampai maki-maki di status teranyar saya, terserah deh, kalaupun nantinya akun saya diblok biarin lah. Nggak peduli.

Baydeway busway, apa ya bedanya rela dan ikhlas? Ada yang tahu? Karena akhir-akhir ini saya sering sekali dengar kata “rela”, tapi pada prakteknya yang bilang “rela” itu tidak “ikhlas” menjalaninya. Nah, apanya dong yang direlain? Kalau ujung-ujungnya nggak ikhlas. Ambil contoh salah seorang teman dekat saya pernah dengan lugasnya menjawab “yo sakkersone gusti Allah, mohon yang terbaik ae (ya terserah Gusti Allah, mohon yang terbaik saja)” waktu saya bertanya minta jodoh yang bagaimana, karena jiwa usil saya waktu itu lagi muncul saya pun balik tanya, “Lha kalau yang terbaik menurut Allah yang dijodohin orang tuamu gimana?” Untuk catatan, teman saya ini sangat amat tidak suka dengan jejaka yang dijodohkan dengannya, katanya nggak ada chemistry, padahal saya tahu betul alasan sebenarnya apa. Sambil pasang muka melas dan sedih dia pun menjawab, “Ah… ojok talah ni… (jangan gitu deh ni..),” “Nah berarti sek durung ikhlas…(Nah berarti masih belum ikhlas”, jawab saya sambil tersenyum penuh kemenangan, hehe
Walaupun saya sendiri yang melontarkan kata “ikhlas” tapi dari percakapan singkat itulah saya mulai bingung dengan makna “ikhlas” dan “rela” sebenarnya.

Alhamdulillah, (lagi-lagi) karena Mr.Google saya menemukan artikel yang menurut saya cukup membuka mata saya tentang makna “ikhlas” dan “rela” sebenarnya. Berikut penjelasannya yang saya kutip langsung dari artikel saudara Slamet Basuki di kompasiana.com.

Penjelasannya sebagai berikut,

Kata “ikhlas” berasal dari bahasa Arab, ”kholaso” yang artinya murni, bersih, jernih, tidak bercampur. Secara bahasa, ia diartikan dengan melakukan amal perbuatan yang ditujukan hanya kepada Tuhan secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain. Ikhlas adalah gerakan AKTIF. Ia dibarengi dengan usaha mendapatkan pahala dankeyakinan atas perbuatannya serta tidak diiukuti keinginan untuk menarik kembali apa yang telah ia lakukan.

Ikhlas hubungannya dengan NIAT. Seorang yang ikhlas berarti meniatkan suatu perbuatan hanya untuk mendapatkan kerelaan Tuhan semata. Dia melakukan suatu pekerjaan bukan untuk mendapatkan harta, kedudukan ataupun sekedar pujian dari manusia. Lawan kata ikhlas adalah riya’ atau pamer.

Sedangkan kata “rela” berasal dari bahasa Arab juga yaitu ”ridla’”. Ia bisa diartikan sebagai pasrah, senang, suka, memperkenankan, mengizinkan, membiarkan, menerima dengan sepenuh hati, serta menyetujui secara penuh . Lawan kata rela adalah benci atau tidak senang. Kata rela hubungannya dengan PERASAAN, bisa Tuhan dan manusia. Contoh, ” Allah rela kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh”. Sedangkan dengan manusia seperti “seorang ibu rela anaknya merantau untuk menuntut ilmu” . JIka kata “ikhlas” berarti gerakan AKTIF, maka kata “rela”, NON AKTIF.

Jadi, ternyata selama ini kita sudah salah kaprah dengan definisi “ikhlas” dan “rela” yang ternyata mempunyai makna dan penggunaannya yang berbeda. Kata “rela” digunakan berkaitan dengan perasaan yang biasanya berhubungan dengan sifat-sifat kemanusiaan, sedangkan kata “ikhlas” berhubungan dengan niat yang berkaitan dengan hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta. Dan pelajaran yang kita dapat hari ini adalah, rajin-rajinlah buka kamus Bahasa Indonesia, jangan cuma kamus Bahasa asing saja yang dibuka, karena ternyata kita masih salah kaprah dalam menggunakan Bahasa kita sendiri. Termasuk saya juga, yang sok tahu ini…

Akhirnya, saya masih nggak rela catatan-catatan di Facebook saya hilang entah kemana!! (tetep…)

How Time Flies

Setiap awal tahun kita pasti sering mendengar hal-hal seperti, “Cepet banget sih,” “Kok uda taun baru ajah…,” “Aduh, makin tua.” Ya, waktu yang katanya berjumlah 12 bulan atau 365 hari ini memang makin lama rasanya makin cepat saja, sepertinya baru saja kita bangun pagi, lalu tiba-tiba kita sudah bangun pagi di hari yang baru lagi. Begitupun saya, saya merasa detik jam begitu cepat bergerak, sekejap lalu saya masih anak polos yang baru masuk ke perguruan tinggi, bersusah-susah mencari bahan ospek. Tiba-tiba kini saya telah jadi seorang perempuan dewasa yang hampir memasuki angka 24. Kadang saya mikir mungkin cuma saya yang terlalu lebay soal waktu yang menurut saya terlalu cepat ini, tapi ternyata nggak cuma saya yang berfikir begitu. Tiap bertemu teman-teman SMA atau kuliah, saya selalu menemukan keluhan yang sama, betapa cepatnya waktu berjalan. Apalagi kalau mereka sudah bercerita dan bernostalgia tentang masa lalu, saya makin merasa tua karena seingat saya peristiwa-peristiwa itu baru saja saya alami. Sebenarnya, waktu berjalan normal dari dulu sampe sekarang, sehari masih 24 jam, seminggu masih 7 hari, sebulan masih 4 minngu, setahun masih 12 bulan. Secara matematis memang nggak secepat itu, tapi kalau dijalani rasanya kok terlalu cepat. Seperti sedang berada di sebuah kereta super cepat buatan Cina.

Thank’s to Mbah Google, karena saya tipe orang yang penasaran dan sok tahu, saya jadi memiliki teori kenapa waktu berjalan begitu cepat yang saya dapat dari Google tentunya… Konon katanya setiap tahun waktu yang ada di bumi berkurang sekian menit (saya lupa sumbernya). See, mungkin karena itulah kenapa waktu berjalan begitu cepat karena satu menit pun berharga saudara-saudara… Coba lihat adegan sebuah film dalam satu menit, pasti ada banyak adegan dan dialog yang bisa dilakukan dalam waktu satu menit saja.

Saya jadi nyesel kenapa waktu kecil dulu berharap supaya cepat menjadi dewasa. Karena sampai sekarang saya masih jetlag dan belum bisa beradaptasi dengan kedewasaan saya (oke, yang ini lebay). Intinya, saya nggak ikhlas nggak sempat menikmati setiap detik waktu dalam hidup saya dan menggunakannya dengan hal-hal yang bermanfaat (menanam tomat misalnya, mengingat harga tomat sekilo sekarang lebih mahal dari daging ayam). Tapi, menyesal juga percuma, masa lalu sudah saya lewati tanpa sempat saya sadari.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan klasik. Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau saya harus memakan habis bubur itu supaya tidak mubadzir. Kalau saya tidak suka dengan bubur itu, saya nggak bisa membuangnya begitu saja, yang harus saya lakukan adalah menambahkan hal yang saya suka ke dalam bubur itu supaya bisa saya nikmati, tambah ayam dan cakue misalnya, jadi bubur ayam deh… 🙂

Malang Pukul 14.03 Saat Hujan

Pernahkah kamu rasakan?
Saat kamu begitu bahagia,
kamu langsung ingat pada seseorang dan
berharap kamu dapat berbagi kebahagiaan dengannya,
atau,
ketika kamu merasa sangat bersedih,
kamu berharap dia ada di samping kamu,
dan meminjamkan bahunya
untuk tempatmu bersandar?
Aku pernah.
Dan aku berharap seseorang itu kamu.

Kubaca lagi pesan singkat yang baru saja kuketik, sambil menimbang keberanianku untuk menekan tombol kirim. Kubaca lagi, kuhapus sedikit, ku ketik lagi, lalu kubaca lagi. Tidak ada yang salah dengan pesan singkat ini, hanya aku yang tak ada keberanian untuk mengirimkannya. Sudah sejak kemarin aku merasa begitu sedih sebenarnya, tapi baru hari ini aku berani mengetikkan pesan ini. Ya, aku berharap kamu di sini untuk sekedar mendengar keluh kesahku tentang hidup yang makin lama makin tak bersahabat ini, atau duduk saja di sampingku sambil bercerita tentang semua hal lucu yang kamu tahu, akan aku dengarkan.

Aku memang sedang sangat rapuh saat ini, karena itu aku berani menulis pesan singkat ini, aku benar-benar sedang merindukanmu. Tanganku masih bermain di antara tombol ponsel, mencoba menemukan dan mengumpulkan keberanian untuk menekan tombol kirim. “Duarrrrrr…..” tiba-tiba petir menggelegar menembus jendela ruangan ini, karena terlalu kaget jempolku pun menekan tombol kirim. Aku tertawa menahan gelegak perasaan campur aduk yang aku rasakan. Entah apa yang ada di pikiranmu saat kau membaca pesan singkat itu, aku harap nomormu masih nomor yang sama.

5 menit, 10 menit, hingga 20 menit, tiba-tiba nada ringtone sebuah ponsel memecah kesunyian. Aku tidak mengenali nada itu, itu bukan dari ponselku. Ku lihat di bawah meja tak kutemukan apapun, kulongok atas lemari, nada suara itu makin dekat, ku ambil tumpukan kardus di atas lemari dan membukanya. Betapa kagetnya aku melihat sebuah ponsel di dalamnya berdering, sejenak aku diam, lalu tersenyum. Bodoh, karena terlalu rindu aku sampai lupa, kamu sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Aku lalu berdiri dan duduk di kursi tempat kita biasa bercengkrama bertahun-tahun lalu, memandangi tetesan air yang meleleh di jendela dan menerawang jauh menembus tirai-tirai hujan yang rapat. Duh sayang, aku benar-benar merindukanmu…