Satu Frekwensi

Banyak orang bilang, perbedaan justru akan memperkaya suatu hubungan. Pun kita. Sejak awal kenal kita tahu, kita bukan hanya dua sisi mata uang yang bertolak belakang, lebih dari itu. Kita adalah dua sisi mata uang dari keping yang berbeda nominal dan materialnya. Bukan saja berbanding terbalik, perbedaan kita berbanding ekstrim. Ambil contoh soal musik, kita berdua tahu betapa tergila-gilanya kamu pada Black Sabbath dan Imogen Heap (yang sumpah, sampai sekarang aku belum bisa mengerti dan menikmati musik perempuan Inggris itu). Sedangkan aku, seorang penggemar berat musik-musik mengharu biru ala Adele dan D’Masiv. Musik galau istilah anak sekarang. Lihat, betapa berbedanya kita. Tapi entah kenapa, aku masih mau berdiri di sampingmu berjam-jam menonton konser rock cadas favoritmu (tentu dengan gumpalan kapas di kupingku biar nggak tuli). Atau, kamu yang betah duduk bersamaku di kafe menikmati musik keroncong semalaman, walaupun aku tahu kamu terlelap sepanjang acara dan kau tutupi matamu dengan kaca mata hitam.

Ya, orang-orang terdekat kita pun menganggap aneh hubungan kita. Langit dan sumur kata mereka. Entah siapa langit siapa sumur. Aku sering jengah sebenarnya, tapi kamu, kamu selalu meredam kejengahanku dengan berkata “Malam dan pagi juga sangat berbeda, tetapi mereka partner yang hebat dalam menjaga keseimbangan bumi.” Ya, itulah kamu yang sanggup membungkam kekolokanku dengan sederet kalimat singkat yang entah kau kutip darimana itu.

Tapi, tidakkah kamu bosan? Ketika harus terkantuk-kantuk menemaniku menikmati kopi dan keroncong, atau, tidakkah kamu kasihan melihat ku berdiri menahan pekik abstrak penyayi favoritmu berjam-jam dengan stiletto ku? Dan seperti biasa, kau akan menjawab dengan gayamu, “Kalau cinta, ya harus nge-blend, kamu cinta aku kan?” Yayaya, kamu lah satu-satunya rocker yang sanggup membuat pipiku kemerah-merahan dengan pertanyaan picisanmu itu.

Ibarat radio, aku AM kamu FM. Aku orang yang membosankan dan lebih suka berkawan dengan buku-buku tua daripada komputer. Kamu orang yang menyenangkan dengan wawasan yang senantiasa update tapi tak menjadikanmu seorang nerd melainkan seorang pangeran (menurutmu tampan) idaman gadis-gadis alay penggemarmu itu.

Kitapun saling memaklumi selera masing-masing, walaupun kadang aku sebal ketika harus ikut menghisap limbah asap rokokmu padahal aku mati-matian yoga setiap pagi agar yin dan yang ku seimbang. Ya, benar kata teman bandmu si Bassist kebanyakan pakai gel rambut itu, kita pasangan aneh dan mustahil. Sebagaimana mustahilnya Black Sabbath dan D’masiv berkolaborasi dan bernyanyi sepanggung (nggak kebayang Ozzy Osbourne minum darah ayam di depan Ryan yang nyanyi “syukuri apa yang ada… hidup adalah anugrah…” Yiakss… awkward moment).

Mungkin radio kita tersambar petir, sehingga aku dan kamu bertemu pada jalur yang sama, frekwensi yang sama, sekalipun berbanding ekstrim, kita masih sejalan, sefikiran, seiya, sekata, segila, sewajar, sebodoh, dan sekonyol. Ya, kita pasangan yang tak mungkin (itu kata ibumu), tapi pasangan yang serasi (kalau yang ini kata ayahku). kita sangat berbeda, tapi soal cinta, kita satu frekwensi. Dan, aku harap, radio kita rusak selamanya.

Note: Buat semua yang merasa cinta kalian tak mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s