Nggak Semua Harus Disimpan Kan?

I used to think that maybe will be nice if we have our own computer, we can save every stuffs we like without disturbing other space in computer hard disk. Dan sekarang, ketika sudah punya komputer sendiri (laptop) malah puyeng, karena hampir semua disk penuh sama file gambar, tulisan, film sampai musik, dan hal remeh temeh tapi sentimentil lainnya. Sekarang saya sedang mikir gimana caranya menyimpan semua hal yang benar-benar tidak ingin saya “delete” itu, tanpa menghabiskan space disk saya yang menurut saya amat kurang banyak itu. Sedangkan kalau disimpan di flashdisk jelas nggak mungkin, karena flashdisk saya benar-benar saya butuhkan untuk transfer berbagai data yang penting. Ya, hal sesepele ini pun jadi dilema buat saya (Vani gitu… )

Sebenarnya tidak semua hal itu penting untuk disimpan. Film misalnya, semua film yang saya simpan hampir 98% telah saya tonton, tapi semuanya tetap saya simpan (terutama film yang menurut saya bagus dan pantas disimpan) karena suatu saat nanti film-film itu akan saya tonton lagi. Bahkan ada beberapa film yang sudah saya tonton berkali-kali sampai saya hafal sebagian dialog di dalamnya. Dan, saya nggak bisa kalau disuruh menghapus salah satu atau salah banyak dari film-film yang sudah pernah saya tonton tersebut. Ada semacam perasaan berat untuk membuang mereka semua… (Gubrak!!)

Tapi, kalau untuk terus disimpan, jelas tidak mungkin. Komputer saya memiliki kapasitasnya sendiri yang tidak bisa diganggu gugat, dan setiap saat pasti ada film-film baru yang lebih bagus dan lebih pantas untuk disimpan. Kalau sudah begini, saya berharap komputer saya adalah komputer analog yang bisa menyimpan bergiga-giga byte data di dalamnya ( Ya, I know, it’s impossible. Secara nggak ada tempat buat naruhnya juga, hehe). Mau tidak mau, memang harus ada yang dihapus. And, as always, untuk menghapus salah satu dari mereka pun saya membutuhkan waktu untuk berpikir mana yang benar-benar harus saya hapus. Dan hasilnya? Nggak ada yang saya hapus. Karena semua data saya anggap penting. Bahkan data tugas kuliah 4 tahun lalu pun masih saya simpan, padahal nggak terlalu penting dan nggak mungkin diminta sama dosen saya juga kan?

Kalau sudah begini, biasanya sudut pandang saya saya geser sedikit. Bukan lagi tentang hal-hal yang tidak pantas disimpan lagi yang harus dihapus, tapi PENTING tidaknya hal itu untuk tetap saya simpan di komputer saya. Dan, istilah penting ini pun harus saya ubah, bukan dari sudut pandang yang saya gunakan seperti biasa, istilah penting disini adalah hal-hal yang benar-benar penting dan krusial (Jiahh.. ) menurut sudut pandang kebanyakan orang yang waras (Ya, saya merasa saya tidak cukup waras, dan memiliki sudut pandang yang aneh menurut kebanyakan orang).

And, voila!! Akhirnya dengan berat hati dan berat badan, saya berhasil membuat komputer saya bernafas lagi dengan lega, meskipun besoknya saya menyesal karena telah menghapus data-data itu, tapi mau gimana lagi, bahkan di recycle bin pun data tersebut sudah tidak ada.

Saya jadi ingat salah satu episode Oprah Winfrey Show bertahun-tahun lalu. Dalam episode tersebut, Oprah dimintai tolong untuk membantu sebuah keluarga menata kembali rumahnya yang penuh dengan barang-barang nggak penting sehingga membuat rumah mereka tidak layak dihuni oleh manusia. Dibantu salah satu dekorator andalannya, si cakep Nate Berkuss, Oprah membantu keluarga tersebut menata kembali rumahnya setelah sebelumnya Nate memaksa mereka untuk membuang barang-barang sentimentil yang tidak berguna tapi tetap mereka simpan itu. Akhirnya, seperti biasa, Oprah selalu membawa keajaiban. Rumah keluarga tersebut terlihat semakin luas dan indah, padahal yang mereka lakukan hanya membuang barang-barang tidak penting dan sedikit menata ulang dekorasi tanpa merombaknya sedikitpun.

Yup. This is what I want to share to you folks…

Terkadang, dalam hidup kita harus berani membuat keputusan besar untuk membuang atau meninggalkan hal yang menurut kita penting dan nyaman, padahal kenyataannya hal tersebutlah yang menghambat kita dan membuat kita terjebak pada suatu keadaan yang tidak membahagiakan dan menyenangkan. Mengenang, menyimpan, atau selalu melihat ke belakang (masa lalu) memang menyenangkan, tapi untuk bisa berjalan lurus tapa terjatuh atau salah jalan, kita harus berani meninggalkan itu semua, dan kembali menatap ke depan. Sesekali bolehlah menengok ke belakang, tapi jangan terlalu sering. Sama seperti hard disk komputer, otak kita juga punya kapasitasnya masing-masing, nggak semua hal dan kenangan harus kita simpan kan? Nggak perlu dihapus total juga, yang harus kita lakukan adalah berani menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya sekedar “penting”. Harus ada yang diprioritaskan agar kita tetap bisa bernafas lega.

PS: Saya pun masih jauh dari itu. It’s kinda note for myself too.. 🙂
Thank you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s