Parfum

Saya bukan tipikal perempuan yang banci parfum dan kemana-mana harus pakai parfum. Tapi sama dengan kebanyakan perempuan lainnya, saya pecinta parfum dan suka jika seharian aroma parfum saya tahan lama. Setiap belanja pun kalau tidak ke rak makanan saya selalu mampir ke rak kosmetik dan mencium semua tester parfum ato sedikit menyemprotkannya ke tangan saya (tentu tanpa sepengetahuan SPG nya, hehe). Dulu, saya nggak habis pikir dengan orang yang berlama-lama memilih parfum, tapi sejak saya ngerti dandan dan semakin dewasa saya jadi ngerti kalau persoalan memilih parfum memang nggak segampang itu (ya, perempuan memang mahluk ribet, lalu? ).

Saya sendiri sampai detik ini belum menemukan parfum yang tepat dan tahan lama. Setiap parfum saya habis, saya selalu mencari parfum baru dengan aroma yang berbeda, yang kira-kira tahan lama. Saya sendiri kadang nggak ngerti sama kelakuan saya yang unik bin aneh ini, tapi saya juga nggak mau tebang pilih bahkan untuk soal sesepele parfum. Karena buat saya aroma parfum seseorang menunjukkan kepribadian orang tersebut. Karena saya tipe orang yang protagonis (ciehh…), saya lebih suka parfum yang aromanya nggak terlalu menyengat dan lembut. Pernah sekali waktu saya menggunakan parfum yang dipilihkan teman, aroma parfum tersebut terlalu menyengat dan ketika saya gunakan cukup menarik perhatian banyak pihak. Saya yang dasarnya pemalu dan nggak terlalu berminat untuk show up di hadapan umum jadi lebih minder hari itu karena sepertinya semua mata tertuju pada saya, dan akhirnya nasib parfum tersebut berakhir di tempat sampah.

Kalau dipikir-pikir, persoalan memilih parfum ini sama ribetnya ketika kita jatuh cinta. Jatuh cinta itu seperti menemukan aroma parfum yang tepat dan tahan lama untuk kita, dan nggak segampang itu ternyata menemukannya. Mungkin ada yang berfikir, “ribet banget sih soal begitu ajah?” Ya, memang harus ribet, karena buat saya urusan parfum bukan cuma soal wangi atau tidak. Sadar atau tidak, parfum adalah identitas kita. Ambil contoh Ibu saya, beliau selalu memakai parfum beraroma melati, dan setiap saya mencium aroma melati saya selalu ingat Ibu saya (selain kuntilanak tentunya :D).

So, if people said “you are what you eat,” I say “you are what your perfume.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s