Hidup

Ketika masih bayi, apa kita langsung bisa berjalan? Tidak, kita melewati fase tengkurap, merangkak, dan jatuh sebelum kita bisa berjalan dengan baik dan benar.

Pada dasarnya kita diciptakan sebagai mahluk yang senantiasa berjuang untuk mencapai sebuah fase baru dalam kehidupan kita. Sejak dalam kandungan saja kita sudah bertarung dengan ribuan sperma lainnya untuk sampai di indung telur dan bertahan selama kurang lebih 370 hari di tempat gelap dan lembab bernama rahim. Begitu keluar kita diminta untuk mencapai fase-fase kehidupan bayi, yang pada setiap fasenya kita diharapkan berhasil sekalipun harus dilalui dengan resiko terjatuh, terguling, terbentur. Tapi, apa karena itu semua kita meyerah dan memutuskan untuk menjadi bayi yang senang tidur-tiduran saja? Tidak, kita justru lebih terpacu untuk bisa merangkang agar melihat senyum di wajah Ibu kita. Terpacu untuk bisa berjalan untuk mendengar tepukan tangan dari orang di sekitar kita. Terpacu untuk bisa menyebutkan kata pertama kita agar semua orang bahagia. Kita selalu terpacu untuk mencapai setiap fase dalam kehidupan kita sekalipun kita tahu jalan untuk menuju ke pencapaian tersebut tidaklah mudah.

Lalu, kenapa saat dewasa kita cenderung melemah dan mudah menyerah? Ini juga yang menjadi pertanyaan saya sejak beberapa tahun terakhir? Rasanya berat untuk mencapai fase selanjutnya dalam hidup saya, saya seperti terjebak dan terkungkung di lingkungan yang benar-benar saya kenal tapi akhir-akhir ini begitu tidak bersahabat dengan saya. Ibarat bayi, saya pada fase terlentang yang ingin mencapai fase tengkurap. Begitu sulit rasanya membalikkan tubuh saya dan melihat sisi lain dari dunia saya, sisi yang lebih luas atau bahkan lebih garang lagi. Kadang saya berfikir fase ini akan mudah dilalui dengan tekad dan usaha yang gigih. Sedangkan mungkin, keinginan saya untuk melewati fase ini cukup kuat, tetapi jauh di dalam hati saya, saya terlalu nyaman dengan posisi saya sehingga malas untuk lebih berusaha lagi agar fase “terlentang” ini terlewati. Atau mungkin, saya tahu fase yang akan saya lewati selanjutnya pasti lebih sulit dan akan lebih menyakitkan sehingga saya merasa cukup dan tidak ingin merasakan kesusahan yang lebih lagi dari apa yang saya alami kini. Saya tidak tahu, dan mungkin Anda yang mengalami hal seperti saya pun tidak tahu apa sebenarnya yang mendasari ketidakberdayaan kita mengahadapi hidup yang spektakuler ini.

Tapi, apa ketidak jelasan ini harus membuat kita macet di salah satu fase dalam kehidupan kita? Kalau jawaban kita “iya” berarti kita adalah orang paling sial di dunia. Menurut saya ada maksudnya Tuhan menciptakan bumi ini bundar dan senantiasa berputar. Tuhan ingin kita senantiasa berpacu dan tidak mau kalah oleh waktu yang tidak mengenal kompromi. Tuhan ingin kita senantiasa berusaha karena tahu esok hari belum tentu kita mendapatkan kesempatan yang sama. Tuhan ingin kita bertahan, karena kadang tak selamanya kita di atas, suatu saat kita pasti akan berada di fase terendah dalam hidup kita dan Tuhan mau kita tetap tidak menyerah sekalipun kita lelah.

Hidup mungkin tidak seperti yang kita inginkan, ia punya lakon-lakon yang harus kita jalani. Kalau itu yang hidup mau, kenapa kita tidak berlatih dan berusaha saja menjadi aktor dan aktris yang sukses memerankan lakon-lakon dalam hidup kita sehingga hidup tahu, kita tidak segera dilupakan penonton dan pantas mendapatkan tepuk tangan paling meriah dari mereka saat tirai panggung hidup kita tertutup untuk selama-lamanya. Wallahu’alam bish shawab.

 
P.S :
Untuk Vani Laila Fitriani yang sedang mendramatisir hidupnya sendiri. Kalau tidak ada yang mengingatkan kamu, biar aku saja yang ingatkan bahwa kamu tahu kamu bisa lebih kuat dari yang kamu kira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s