Berbuat Salah

Beberapa minggu lalu saya melewati sebuah universitas ternama di kota saya. Jalanan yang saya lewati waktu itu begitu macet karena banyaknya mahasiswa baru yang kebetulan baru saja menyelesaikan masa orientasi mereka hari itu. Saat itu saya cukup kaget karena tahun-tahun sebelumnya mahasiswa baru di universitas ini tidak sebanyak yang saya lihat, dan ternyata ketika saya menanyakannya pada orang tua saya yang kebetulan mengajar di universitas tersebut, tahun ini jumlah mahasiswanya meningkat hampir 200 %, itu berarti puluhan ribu mahasiswa baru kembali “menginvasi” kota kami. Entah kenapa saat itu tanpa sengaja saya bergumam “Selamat datang calon pengangguran, jangan cepet lulus, saingan saya makin banyak,” mungkin karena saat itu kondisi mental saya agak eror sehingga itulah yang ada di pikiran saya yang kebetulan pengangguran selama hampir setahun ini. Tapi memang itukan kenyataannya, bayangkan saja, dari 237.600.000 penduduk Indonesia (data BPS per 13 Juli 2011), sebanyak 9.250.000 lainnya adalah pengangguran (data BPS per Januari 2011), dan angka ini meningkat setiap tahunnya, karena setiap tahun akan ada mahasiswa dan siswa yang baru lulus yang jumlahnya tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang ada di negeri ini.

Ada banyak sebab dan alasan kenapa pengangguran masih menjadi masalah di negeri ini selain masalah minimnya lapangan pekerjaan. Mengutip pendapat Mario Teguh di sebuah stasiun televisi swasta, beliau mengatakan banyak pengangguran di negeri ini tetapi masih saja ada beberapa perusahaan yang sulit mendapatkan karyawan. Kenapa? Karena tidak semua pengangguran tersebut adalah SDM yang berkualitas yang mereka cari. Sepertinya sejak dulu kita selalu menang dalam segi kuantitas daripada kualitas (kecuali dalam sepak bola ). Lalu, apakah saya yang masih menganggur sampai detik ini termasuk yang tidak berkualitas sehingga tak ada satupun perusahaan atau instansi yang sudi menerima saya? Dan apakah semua pengangguran di negeri ini tidak benar-benar mampu memenuhi standar kuantitas yang diinginkan para pemilik usaha di negeri ini?

Kalau semua hal itu ditanyakan pada saya mungkin yang Anda dapatkan adalah senyum pahit dan muka tolol sepeti muka Patrick si bintang laut merah sahabat Spongebob di serial Spongebob Squarepant. Ya, saya tidak tahu apa karena kuantitas atau nasib yang terlalu sial ini saya masih menjadi sarjana bergelar pengangguran.

Sebenarnya untuk dibilang pengangguran, saya juga tidak benar-benar menganggur. Istilah kerennya freelance atau pekerja lepas, karena saya memimpikan satu posisi yang hanya bisa saya dapatkan dalam waktu yang cukup lama, dan untuk mengisi kekosongan saya tidak ingin terikat dengan instansi manapun yang nantinya akan saya tinggalkan jika saya mendapatkan posisi itu. Mungkin di sinilah kesalahan saya. Menantikan suatu hal yang belum tentu saya dapat karena keegoisan tingkat tinggi saya, dan mengabaikan peluang yang mungkin sebenarnya telah terbuka lebar di hadapan saya. Ya, sebut saya idealis dan pemimpi. Mungkin hal ini juga yang dialami banyak pengangguran terutama para sarjana di luar sana. Merasa sarjana dalam bidang tertentu dan hanya menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan strata pendidikan dan bidang mereka yang belum tentu ada dan menginginkan mereka. Sedangkan untuk menjadi pengusaha, modal dan peluang adalah kendala yang sering kita temui.

Memang salah saya, tapi jujur, saya tidak pernah senang dengan jalan yang saya ambil. Tapi itu kan seninya menjadi dewasa, banyak membuat kesalahan, kalau kata Rinso “Nggak belajar kalau nggak ada noda,” dan saya memang benar-benar belajar dari setiap salah langkah yang saya ambil. Kalau sampai sekarang saya masih salah, bukan karena saya tidak belajar, tapi karena saya secara tidak sengaja terus mengambil keputusan baru yang salah dan membuat kesalahan-kesalahan baru.

Bicara soal membuat kesalahan, semalam saya menonton salah satu sekuel Twilight Saga yang berjudul “Eclipse.” Ada salah satu adegan yang menurut saya menarik, yaitu ketika salah satu tokoh dalam film ini yang bernama Jessica (diperankan Anna Kendrick) sedang memberikan pidato kelulusan, dia mengatakan,

“This isn’t the time to make hard and fast decisions, this is the time to make mistakes. Take the wrong train and get stuck somewhere. Fall in love, a lot. Major in Philosophy, because there’s no way to make a career out of that. Change your mind, and change it again, because nothing is permanent. So, make many mistakes, as you can. That way someday, when they ask what we wanna be, we won’t have to guess. We’ll know.
(Ini bukanlah saat untuk membuat keputusan yang berat dan cepat, ini waktu untuk membuat banyak kesalahan. Menaiki kereta yang salah dan terjebak di suatu tempat. Jatuh cinta, berkali-kali. Mengambil jurusan filsafat karena tidak mungkin berkarir dari itu. Berubah pikiran, dan merubahnya lagi, karena tidaka ada yang permanen. Jadi, buatlah kesalahan sebanyak mungkin. Agar suatu hari, ketika mereka bertanya apa yang kita inginkan, kita tidak perlu menebak. Kita akan tahu.)”

Saya jadi ingat diri saya sendiri beberapa tahun lalu, mengambil jurusan yang nanggung hanya karena menyukainya. Menyesalinya sepanjang 4 tahun masa kuliah saya. Dan mendapatkan akibatnya setelah saya dinyatakan sebagai sarjana. Meminjam istilah Jessica, saya telah mengambil kereta yang salah, terjebak di suatu tempat, mengambil kereta yang salah lagi, tersesat, dan sampai kini saya masih bingung apakah saya akan mencari jalan untuk mencapai tujuan saya, atau bahkan kembali pulang, dan menaiki kereta yang seharusnya saya naiki.

Sama seperti manusia dan pengangguran lainnya, saya mulai lelah. Sepertinya saya akan berhenti bermimpi sementara untuk memuaskan orang-orang di sekitar saya. Seidealis apapun saya, rupanya dunia tidak cukup ideal untuk saya, sayalah yang harus meng-idealkan diri dengan dunia.

Tapi, apakah kita akan begitu saja berhenti melakukan kesalahan? Kalau saya, saya pasti akan selalu berbuat kesalahan-kesalahan baru dalam hidup saya, karena buat saya dari setiap kesalahan yang kita buat, kita akan belajar hal baru yang mungkin tidak kita dapatkan di sekolah formal manapun.

Ya, saya menikmati terjebak di tempat ini, dan akan sangat puas ketika saya menemukan kereta yang tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s