Pendidikan

Sedikit curhat tentang profesi saya yang guru les keliling ini. Tadi sore saya diminta menerapkan cara belajar mengajar yang baru oleh orang tua salah satu murid saya, which is menurut saya, pola tersebut belum perlu untuk anak seumur dia (kelas 3 SD). Anak seumuran itu butuh untuk diajari pelan-pelan sehingga dia hafal, bukan diminta untuk menghafal catatan berskema-skema semacam grafis untuk anak kuliahan. Sebenarnya bukan salah orang tuanya juga sih, tapi salah sekolah dia yang kebetulan sekolah favorit di kota saya (saya pernah mencoba masuk ke sekolah itu tapi gak lolos ujian mengikat tali sepatu sendiri). Sekarang saya baru ngerti kenapa sekolah itu menjadi sekolah favorit. Analisa saya (sok.. ), sekolah tersebut hanya menerima anak-anak yang memang dasarnya pintar dan yang mau membayar lebih dari biaya yang sebenarnya. Begitu sekolah, mereka dicekoki berbagai macam materi berat yang tidak sesuai dengan kelas dan umur mereka, dan keharusan memiliki buku-buku yang belum tentu penting untuk mereka hafalkan sedetil-detilnya. Lalu, setiap dua bulan sekali, ujian formatif diadakan dengan sebelumnya membagikan kisi-kisi yang seabrek dan semuanya pasti akan diujikan. Nggak heran setiap saya datang anak didik saya nggak pernah konsen sama apa yang saya ajarkan, mungkin dia sudah siap muntah karena kebanyakan materi. Selain itu, KKM yang diterapkan di sekolah tersebut pun nggak masuk akal, antara 86-90. Kalau saya masih SD mungkin saya akan di kelas 1 selamanya, hehe. Jelas nilai anak didik saya tersebut selalu di bawah KKM meskipun hanya beda 1 digit. Yang lucunya, bagi mereka yang nilainya di bawah KKM akan mengikuti ujian remidial yang soalnya sama persis dengan soal yang sebelumnya telah diujikan dan dibahas, jadi mereka tinggal menghafal saja. Nah, apa dong gunanya memberi materi sebegitu banyaknya kalau ujung-ujungnya nilainya dikatrol juga.

Mungkin ini yang membuat sistem pendidikan Indonesia nggak pernah maju, bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, kita masih kalah jauh sama mereka, padahal jaman dulu mereka selalu minta dosen-dosen dan profesor dari negara kita untuk mengajar di negara mereka. Sekarang malah mereka yang berlangkah-langkah lebih maju dari kita. Menurut saya, kita terlalu berekspektasi tinggi dengan sistem pendidikan kita yang dirancang sedemikian spektakulernya tapi tidak didukung dengan sumber daya yang mumpuni. Teori kita memang bagus, tapi prakteknya? Mungkin hal ini juga menjawab berbagai pertanyaan di kepala kita kenapa masih banyak ditemukan kecurangan dalam UN. Menteri pendidikan meminta kepada para pemerintah daerah agar menurunkan angka ketidak lulusan di daerah mereka masing-masing, lalu kepala daerah menekan walikota dan bupati untuk meluluskan semua siswa, walikota dan bupati mendesak para kepala sekolah, para kepala sekolah memaksa para guru, dan para guru menyiapkan murid mereka sedemikian rupa bahkan ada yang sampai mensimulasi cara contek-mencontek saat UN agar tidak ketahuan. Kalau begini siapa yang rugi? Orang tua? Siswa? Guru? Jawaban saya, guru les privat. Ya, kami adalah rantai makanan terendah dalam habitat dunia pendidikan ini, kalau di laut kami adalah plankton (kok jadi biologi ya?) Lupakan. Intinya, tujuan kita sekolah sebenarnya apa? Mendidik? Terdidik? atau Dididik?

Kalau boleh bermain istilah, pendidikan sendiri bermakna luas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu: memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya (Ngutip, lupa dari mana).

Nah lho, kalau melihat realita di atas dan pengertian yang saya jabarkan sebelumnya, apa masih bisa sekolah disebut tempat untuk mendidik kita? Wallahu ‘alam. Yang saya tahu, saya masih menjadi rantai makanan terendah dengan gaji paling rendah (curhat, hehe).

Advertisements

Parfum

Saya bukan tipikal perempuan yang banci parfum dan kemana-mana harus pakai parfum. Tapi sama dengan kebanyakan perempuan lainnya, saya pecinta parfum dan suka jika seharian aroma parfum saya tahan lama. Setiap belanja pun kalau tidak ke rak makanan saya selalu mampir ke rak kosmetik dan mencium semua tester parfum ato sedikit menyemprotkannya ke tangan saya (tentu tanpa sepengetahuan SPG nya, hehe). Dulu, saya nggak habis pikir dengan orang yang berlama-lama memilih parfum, tapi sejak saya ngerti dandan dan semakin dewasa saya jadi ngerti kalau persoalan memilih parfum memang nggak segampang itu (ya, perempuan memang mahluk ribet, lalu? ).

Saya sendiri sampai detik ini belum menemukan parfum yang tepat dan tahan lama. Setiap parfum saya habis, saya selalu mencari parfum baru dengan aroma yang berbeda, yang kira-kira tahan lama. Saya sendiri kadang nggak ngerti sama kelakuan saya yang unik bin aneh ini, tapi saya juga nggak mau tebang pilih bahkan untuk soal sesepele parfum. Karena buat saya aroma parfum seseorang menunjukkan kepribadian orang tersebut. Karena saya tipe orang yang protagonis (ciehh…), saya lebih suka parfum yang aromanya nggak terlalu menyengat dan lembut. Pernah sekali waktu saya menggunakan parfum yang dipilihkan teman, aroma parfum tersebut terlalu menyengat dan ketika saya gunakan cukup menarik perhatian banyak pihak. Saya yang dasarnya pemalu dan nggak terlalu berminat untuk show up di hadapan umum jadi lebih minder hari itu karena sepertinya semua mata tertuju pada saya, dan akhirnya nasib parfum tersebut berakhir di tempat sampah.

Kalau dipikir-pikir, persoalan memilih parfum ini sama ribetnya ketika kita jatuh cinta. Jatuh cinta itu seperti menemukan aroma parfum yang tepat dan tahan lama untuk kita, dan nggak segampang itu ternyata menemukannya. Mungkin ada yang berfikir, “ribet banget sih soal begitu ajah?” Ya, memang harus ribet, karena buat saya urusan parfum bukan cuma soal wangi atau tidak. Sadar atau tidak, parfum adalah identitas kita. Ambil contoh Ibu saya, beliau selalu memakai parfum beraroma melati, dan setiap saya mencium aroma melati saya selalu ingat Ibu saya (selain kuntilanak tentunya :D).

So, if people said “you are what you eat,” I say “you are what your perfume.”

Hidup

Ketika masih bayi, apa kita langsung bisa berjalan? Tidak, kita melewati fase tengkurap, merangkak, dan jatuh sebelum kita bisa berjalan dengan baik dan benar.

Pada dasarnya kita diciptakan sebagai mahluk yang senantiasa berjuang untuk mencapai sebuah fase baru dalam kehidupan kita. Sejak dalam kandungan saja kita sudah bertarung dengan ribuan sperma lainnya untuk sampai di indung telur dan bertahan selama kurang lebih 370 hari di tempat gelap dan lembab bernama rahim. Begitu keluar kita diminta untuk mencapai fase-fase kehidupan bayi, yang pada setiap fasenya kita diharapkan berhasil sekalipun harus dilalui dengan resiko terjatuh, terguling, terbentur. Tapi, apa karena itu semua kita meyerah dan memutuskan untuk menjadi bayi yang senang tidur-tiduran saja? Tidak, kita justru lebih terpacu untuk bisa merangkang agar melihat senyum di wajah Ibu kita. Terpacu untuk bisa berjalan untuk mendengar tepukan tangan dari orang di sekitar kita. Terpacu untuk bisa menyebutkan kata pertama kita agar semua orang bahagia. Kita selalu terpacu untuk mencapai setiap fase dalam kehidupan kita sekalipun kita tahu jalan untuk menuju ke pencapaian tersebut tidaklah mudah.

Lalu, kenapa saat dewasa kita cenderung melemah dan mudah menyerah? Ini juga yang menjadi pertanyaan saya sejak beberapa tahun terakhir? Rasanya berat untuk mencapai fase selanjutnya dalam hidup saya, saya seperti terjebak dan terkungkung di lingkungan yang benar-benar saya kenal tapi akhir-akhir ini begitu tidak bersahabat dengan saya. Ibarat bayi, saya pada fase terlentang yang ingin mencapai fase tengkurap. Begitu sulit rasanya membalikkan tubuh saya dan melihat sisi lain dari dunia saya, sisi yang lebih luas atau bahkan lebih garang lagi. Kadang saya berfikir fase ini akan mudah dilalui dengan tekad dan usaha yang gigih. Sedangkan mungkin, keinginan saya untuk melewati fase ini cukup kuat, tetapi jauh di dalam hati saya, saya terlalu nyaman dengan posisi saya sehingga malas untuk lebih berusaha lagi agar fase “terlentang” ini terlewati. Atau mungkin, saya tahu fase yang akan saya lewati selanjutnya pasti lebih sulit dan akan lebih menyakitkan sehingga saya merasa cukup dan tidak ingin merasakan kesusahan yang lebih lagi dari apa yang saya alami kini. Saya tidak tahu, dan mungkin Anda yang mengalami hal seperti saya pun tidak tahu apa sebenarnya yang mendasari ketidakberdayaan kita mengahadapi hidup yang spektakuler ini.

Tapi, apa ketidak jelasan ini harus membuat kita macet di salah satu fase dalam kehidupan kita? Kalau jawaban kita “iya” berarti kita adalah orang paling sial di dunia. Menurut saya ada maksudnya Tuhan menciptakan bumi ini bundar dan senantiasa berputar. Tuhan ingin kita senantiasa berpacu dan tidak mau kalah oleh waktu yang tidak mengenal kompromi. Tuhan ingin kita senantiasa berusaha karena tahu esok hari belum tentu kita mendapatkan kesempatan yang sama. Tuhan ingin kita bertahan, karena kadang tak selamanya kita di atas, suatu saat kita pasti akan berada di fase terendah dalam hidup kita dan Tuhan mau kita tetap tidak menyerah sekalipun kita lelah.

Hidup mungkin tidak seperti yang kita inginkan, ia punya lakon-lakon yang harus kita jalani. Kalau itu yang hidup mau, kenapa kita tidak berlatih dan berusaha saja menjadi aktor dan aktris yang sukses memerankan lakon-lakon dalam hidup kita sehingga hidup tahu, kita tidak segera dilupakan penonton dan pantas mendapatkan tepuk tangan paling meriah dari mereka saat tirai panggung hidup kita tertutup untuk selama-lamanya. Wallahu’alam bish shawab.

 
P.S :
Untuk Vani Laila Fitriani yang sedang mendramatisir hidupnya sendiri. Kalau tidak ada yang mengingatkan kamu, biar aku saja yang ingatkan bahwa kamu tahu kamu bisa lebih kuat dari yang kamu kira.