A Memoir of Love ( I wish It’ll also mine)

images

Malam ini,

aku membayangkan kita berdua menua,
dengan banyak keriput di ujung mata dan bibir kita,
karena kita banyak tersenyum.
Berdua kita duduk berjemur setiap fajar,
menjadi saksi diawalinya hari di atas kursi rotan kita,
kamu menyeruput kopi pahitmu, aku menyesap teh manisku.
Berdua mengenang pahit manis cerita kita, anak-anak kita dan nantinya akan hadir cucu-cucu dalam cerita kita.
Ah, begitu cepat waktu berlalu…
Pasti akan kulihat banyak serat-serat putih di antara rambut yang kau banggakan.
Akankah perasaan kamu tetap sama?
Seandainya nanti kulitku tak sekencang saat pertama kita bertemu, akan begitu banyak perubahan pada diriku yang mungkin tak kau sukai.
Tapi, bukankan itu seninya menjadi tua? Seolah-olah setiap keriput kita memiliki kisahnya masing-masing..
Masihkah nanti kita bersama?
Menggandeng tangan masing-masing,
berbagi ketakutan yang mengikuti masa-masa terakhir kita, berbagi keberanian menghadapi dunia dan hidup yang makin menua.
Membayangkan saja membuatku meneteskan air mata. Haru bukan sedih,
andai hidup kita yang tulis, sungguh aku tak ingin ada akhirnya. Tapi buku ini bukan milik kita…

Yang aku tahu pasti,
malam ini kita masih bersama, berbagi cerita lewat mata kita masing-masing, yang telah jadi saksi betapa waktu tak kenal kata lambat.
Memang tak ada yang abadi bukan? Tapi akan kupastikan, mimpi kita akan abadi dalam khayal kita, selamanya.
Begitu bukan, sayang?

Tribute to OS.Saepurrohman and EuisMunawaroh, Who still in love till now,
we love you both forever always 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s