Anak-Anak Alam: Balada Kelinci yang Hilang (Gubrak..) :P

Alkisah ada seekor kelinci dewasa entah dari mana tersesat di depan rumah saya, kejadiah hewan yang tersesat ini tidak hanya terjadi sekali, dulu seekor kura-kura dewasa juga pernat tersesat waktu kami masih tinggal di rumah yang lama, beberapa tahun lalu kucing yang sekarang sudah meninggal, tidak hanya kucing dan kura-kura, tapi juga ular, biawak, burung (yang bentuknya unik dan sepertinya jarang saya lihat di pasar burung) dan tokek merah yang konon harganya bisa sampai jutaan. Kembali ke soal kelinci yang tersesat tadi, karena di lehernya tidak terdapat kalung identitas dan tetangga sekitar pun tidak ada yang merasa kehilangan kelinci, akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya. Nama Ciki pun diberikan pada kelinci berjenis anggora berwarna coklat keabu-abuan tersebut. Setelah di ketahui jenis kelaminnya (yang baru kami tahu setelah beberapa bulan memelihara karena alat kelaminnya susah ditemukan), kami memutuskan membeli seekor kelinci jantan untuk dikawinkan dengan kelinci kami yang ternyata seekor betina. Belum sampai kelinci betina kami hamil, kelinci jantan yang kami beri nama Ciko itu meninggal karena keracunan racun tikus. Entah kenapa, dari dulu setiap kelinci yang kami beli tidak bertahan lama, hewan-hewan itu selalu meninggal karena sakit. Karena pengalaman pahit itu akhirnya kami berusaha sungguh-sungguh merawat Ciki, setiap diare dia selalu dimanjakan, dimandikan, diberi vitamin, bahkan kami selimuti dan kami anggap seperti adik sendiri.

Akhirnya setelah beberapa bulan menjanda, kami memutuskan untuk membeli seekor kelinci jantan lagi agar Ciki memiliki keturunan. Kelinci yang postur tubuhnya lebih kecil dari Ciki tersebut kami beri nama Ciko seperti nama kelinci kami yang telah meninggal beberapa bulan lalu.

Dan kisah suka cita mengharu biru pun dimulai dari sini. Alkisah, perut Ciki makin lama terlihat makin menggelembung, semula kami kira karena Ciki kebanyakan makan, tetapi ketika melihat bulunya rontok kami yakin kelinci kami sedang hamil karena perbuatan si Ciko. Waktu kehamilan seekor kelinci berkisar antara 28-30 hari, dan sekali melahirkan seekor kelinci bisa melahirkan 5 hingga 10 bayi kelinci sekaligus. Salah satu ciri kelinci yang hamil adalah kegemaran mereka menggali lubang dan membuat sarang. Alhasil, muncul banyak lubang kelinci di halaman belakang rumah saya. Dikarenakan banyaknya tanaman Ibu saya yang rusak akibat kelinci tersebut, akhirnya semua lubang ditutup dan kami hanya menyisakan satu lubang bekas tempat pembuatan kompos milik Ibu saya. Suatu hari, entah kerasukan apa, Ciki menyiangi semua rumput di halaman tanpa memekannya lalu ia taruh di dalam lubang yang lebih menyerupai gua yang telah ia buat. Saya benar-benar mlongo saat melihat itu, rumput yang notabene adalah makanannya tidak ia makan demi membuat sarang yang hangat untuk bayi-bayinya kelak. Subhanallah…

Suatu siang sebulan yang lalu, Ibu saya kaget karena melihat perut Ciki yang tiba-tiba kempes, tapi anehnya tidak ada satupun jejak bahwa ada bayi-bayi kelinci yang telah dilahirkan, ketika kami melongok ke sarangnya pun kami tidak bisa melihat apa-apa, karena lubangnya sangat dalam dan sulit dijangkau tangan manusia, untuk menggalinya pun kami takut karena khawatir pacul yang kami gunakan akan mengenai bayi-bayi kelinci yang mungkin telah dilahirkan tersebut. Setiap hari sejak melahirkan Ibu saya penasaran apakah benar di lubang tersebut bersarang anak-anak Ciki, setiap malam Ibu saya mengecek apakah Ciki masuk kandang untuk menyusui anak-anaknya, tapi Ciki sepertinya cuek-cuek saja, setiap hari ia memilih untuk bermain-main di halaman, dan memakan semua koleksi tanaman Ibu saya. Seminggu setelah peristiwa kempesnya perut Ciki masih tidak ada tanda-tanda anaknya akan keluar, karena konon katanya anak-anak kelinci akan keluar dari tanah ketika tubuh mereka sudah ditumbuhi bulu. Ibu saya yang sepertinya paling berharap, hampir setiap hari beliau selalu mengatakan “Ciki itu ibu paling jahat yah? Masak anaknya gak dirawat, gak jelas mati apa enggak,” kami yang mendengar itu pun tertawa dalam hati, kan kelinci bisa hamil lagi, ya sudahlah ikhlaskan kepergian anak-anakk itu kalau memang sudah dilahirkan (karena saya sendiri skeptis kalau Ciki benar-benar melahirkan ).

Dan tibalah malam itu. Rupanya insting seorang Ibu terkadang memang ampuh. Ibu saya menjadi saksi munculnya seekor anak kelinci. Jadi, suatu malam ibu saya akan memberi makan Ciki dan Ciko, tapi setelah ditunggu lama Ciki tak kunjung keluar dari lubang, karena penasaran Ibu saya menunggu di depan lubang, dan Subhanallah, saat Ciki keluar di belakangya seekor anak kelinci keluar, langsung Ibu saya histeris dan memanggil saya yang kebetulan saat itu sedang pewe di depan TV. Setelah lubang kami senteri muncullah dua kepala anak-anak kelinci berwarna putih yang langsung masuk ke lubang lagi karena ada manusia. Mungkin agak aneh, tapi saya benar-benar girang saat itu, rasanya seperti ada kembang api yang meledak-ledak di dada saat saya melihat dua kelinci imut yang kira-kira seukuran tangan perempuan dewasa itu. Perkiraan kami anak yang akan dilahirkan Ciki ada 5 ekor, tetapi ternyata kami hanya melihat dua ekor, kami pikir mungkin sisanya meninggal, karena biasanya dari sejumlah anak yang dilahirkan seekor kelinci beberapa pasti mati. Kami memutuskan untuk membiarkan anak-anak tersebut di dalam tanah karena takut induknya tidak akan mau menyusui anaknya kalau kami pegang.

Sejak saat itu setiap pagi dan petang saat Ciki menyusui kami selalu “ronda” tanpa bersuara agar dapat melihat anak-anak kelinci yang imut-imut tersebut walaupun dengan sedikit pegal karena harus menunduk bahkan terkadang sampai tindih-tindihan. Setiap hari juga kami tahu kalu anak Ciki tidak hanya dua, karena setiap hari anak-anak kelinci dengan warna beraneka rupa bermunculan. Puncaknya sore tadi saat anak-anak kelinci itu mulai berani keluar dari sarangnya, setelah kami hitung dengan berbisik (karena kami takut anak-anak itu akan masuk lubang lagi karena mendengar suara kami), akhirnya kami melihat ada delapan anak kelinci dengan rincian warna, abu-abu kehitaman seperti Ibunya 3 ekor, coklat kekuningan seperti Ayahnya 2 ekor, putih polos entah mirip siapa 2 ekor dan seekor berwarna abu-abu gelap dengan totol-totol coklat. We were so exciting, melihat anak-anak imut itu berlari keluar lubang memekan daun-daun kering sambil mengendus kaki-kaki kami yang mematung karena takut mengagetkan mereka. Dan sampai detik ini saat saya menulis, di bawah keluarga saya sedang berusaha menangkap satu persatu anak itu untuk di kandangkan, karena sepertinya sudah waktunya mereka untuk keluar dari sarang mereka dan juga karena Ciki sang Ibu sedang hamil lagi. Yep, Ciki saya memang tidak menganut KB. Hehe..

Intinya saya sangat amat girang ketika melihat anak-anak kelinci tersebut sampai rasanya terharu, sebenarnya sudah lama saya ingin berbagi cerita tentang Ciki sejak lama, karena terkadang saya kesal karena tingkahnya yang tidak jelas, kadang manja kadang sombong, udah kayak manusia pokoknya. Suaminya juga gak kalah aneh, tadi siang Ciko menarik-narik palang besi entah untuk apa. Tapi biarpun begitu, saya ucapakan terimakasih banyak untuk pasutri kelinci kami karena telah menghadirkan 8 ekor anak-anak imut dan menggemaskan, bahkan membuat saya terharu karena keimutan mereka. Dan, yang buat saya heran, anak-anak itu mampu bertahan di lembab dan dinginnya lubang dalam tanah bahkan lebih kuat dari mereka yang hidup di kandang. Subhanallah…

Note: Insya Allah, saya akan upload foto-foto anak-anak kelinci itu kalau kedelapan-delapannya sudah keluar dari lubang. Itu juga kalau ada yang mau lihat, hehe. Terimakasih..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s