Sila Mana Sajakah yang Telah Kita Penuhi?

Nggak tahu kenapa, tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepala saya. Kalau saya, mungkin sila pertama yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa,” yang benar-benar saya sadari telah saya penuhi, karena saya beragama dan Tuhan saya Maha Esa, Maha Tunggal, Allah Ta’ala. Yang kedua? Bunyinya kalau saya tidak salah mengingat adalah “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Kalau dipikir-pikir, dari sisi “kemanusiaan”nya saya jelas memenuhi, karena saya manusia (argumen yang aneh ), kalau dari “adil” dan “beradab”nya? Sebentar saya pikirkan, ehm … Sebagai guru saya cukup adil dalam memberi nilai kepada murid-murid saya sesuai dengan kemampuan mereka, mungkin saya sedikit tidak adil ketika ada murid yang benar-benar menghargai saya baik di kelas maupun di luar kelas, terkadang saya memberi dia nilai tambahkan yang tidak termasuk dalam indikator yang ingin saya capai. Kalau soal beradab… Sepertinya saya cukup beradab, itu kalau yang dimaksud “adab” berkaitan dengan kebudayaan dan kemajuan pola pikir, karena saya berpendidikan dan memakai baju lengkap (hehe..). Tapi kalau adab yang dimaksud berkaitan dengan moral dan akhlaq, sepertinya saya bukan orang yang cukup beradab, saya masih suka bohong, jahat sama orang, pendendam, dengki, masih suka melanggar peraturan, dan hal-hal yang tak beradab lainnya, kalau boleh membela diri, karena saya manusia, dan manusia tempatnya khilaf kan? (Ngeles…).

Mari lanjut ke sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia,” Boleh saya tanya, kira-kira yang dimaksud persatuan di sini apa ya? Kalau yang dimaksud persatuan seperti Bhineka Tunggal Ika, saya kira saya telah memenuhi sila yang ketiga, walau tidak semua suku dari Sabang sampai Merauke, tapi dalam darah saya mengalir darah dua suku yang berbeda meski sepulau yaitu Sunda dan Jawa. Ibu saya adalah mojang Priangan asli dari daerah Bandung Barat yang terkenal dengan keindahan Panoramanya yang alami dan udara yang sejuk, sedangkan Ayah saya seorang Jawa yang berasal dari Pekalongan. Pekalongan merupakan sebuah kota di Pantai Utara Jawa yang berhawa panas, dan semua latar belakang yang berbeda-beda itu kini menyatu di jantung saya dan mengalir ke seluruh tubuh saya, jadi bisa dibilang saya telah memenuhi sila ketiga kan? (Teori ngaco ).

Sila keempat yaitu, “Kemanusiaan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.” Nah, yang keempat ini sepertinya hampir setiap dari kita belum memenuhinya, mungkin karena kalimatnya terlalu panjang sehingga kita belum bisa memahami sepenuhnya (Ngaco lagi). Kalau menurut saya yang bervolum otak kecil ini, sila keempat ini sepertinya merujuk pada Anggota dewan kita yang terhormat, tapi sepertinya selama ini para anggota dewan kita yang terhormat itu tidak sadar ada kata “bijaksana” dalam sila keempat ini. Sadar atau nggak, kita semua pasti tahu kelakuan anggota dewan kita, bahkan kemarin kita sempat dibuat shock dengan tingkah laku anggota dewan kita ketika sedang melakukan studi banding ke Australia yang ternyata memang tak menghasilkan apa-apa seperti yang ditulis media selama ini. Maaf, jadi ngelantur. Saya akui saya belum sama sekali memenuhi sila yang keempat, karena pada waktu pemilu saya yang pertama tahun 2009 lalu saya tidak memilih anggota dewan.

Terakhir, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” mungkin ini sebabnya kenapa sila ini merupakan sila yang kelima dan yang terakhir, karena mungkin sila ini yang paling sulit dipenuhi, bahkan mungkin mustahil dipenuhi. Sepertinya sudah hukum alam jika di dunia ini ada si miskin dan si kaya, buruh dan bos, atasan dan pegawai. Itu, kalau yang dimaksud adil di sini adalah sama rata, penghasilan sama-sama cukup, sama-sama memiliki rumah, sama-sama sekolah, sama-sama bekerja. Mungkin ketika merumuskan sila kelima ini Bung Karno memiliki mimpi, bahwa suatu saat nanti tidak ada penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, semuanya berkecukupan meski tidak harus kaya, mendapat kesempatan kerja yang sama sehingga tidak ada pengangguran, mendapat kesempatan berpendidikan yang sama karena tak ada yang putus sekolah, dan kesetaraan-kesetaraan sosial lainnya yang sekarang hanya bisa dinikmati orang yang ber-uang dan berkecukupan. Pertanyaannya adalah, apakah kita selama ini telah berusaha bersama-sama untuk memenuhi sila yang kelima ini? Kalau saya tentu saja belum, karena saya pun masih tergolong orang yang tidak berkecukupan.

Saat kita bersekolah, setiap hari senin kita mengadakan upacara bendera, dan setiap upacara bendera kita selalu bersama-sama melafalkan Pancasila. Tapi apa adanya Pancasila hanya untuk dibaca setiap senin? Atau dijadikan salah satu materi dalam pelajaran PMP, atau yang sekarang berganti nama PPKN (atau sudah ganti lagi?)? Lebih dari itu, Pancasila dirumuskan para Founding Father kita sebagai dasar berbangsa dan bernegara bagi penduduk Indonesia, dan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-sehari semampu kita, agar kita menjadi bangasa yang hebat, kokoh dan kuat sebagaimana harapan para pendiri bangsa ini ketika mereka “melahirkan” NKRI. Tapi sepertinya kita melupakan itu semua, atau sebenarnya kita yang tidak pernah memahami tujuan Pancasila sebenarnya??

Jadi, Sila mana sajakah yang telah Anda penuhi??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s