Twittermu Harimaumu

Saya termasuk orang dengan jam terbang berselancar di dunia maya yang cukup tinggi (baca: pengangguran ), setiap ada kesempatan saya pasti berselancar ria lewat HP saya, entah itu untuk mengecek surel atau sekedar update status di FB dan Twitter. Selain dua kegiatan di atas saya juga hobi membaca berita lewat media online seperti detik.com, kompasiana, dan banyak lagi. Kemarin, seperti biasa saya membaca berita online lewat HP saya, kebetulan ada satu berita yang menarik, berita itu tentang Bondan Prakoso mantan penyanyi cilik yang sekarang kembali dikenal lewat Keroncong Koprolnya, yang dituntut oleh sebuah bar bernama Akasaka yang berlokasi di Bali. Konon katanya, pihak Akasaka tersinggung atas status yang ditulis Bondan di akun Twitternya @BondanF2B sesaat setelah mereka mengisi acara di tempat itu, dalam statusnya Bondan mengkritik pihak sekuriti bar, rupanya status ini dianggap menghina oleh pihak Akasaka sehingga mereka memutuskan untuk mempolisikan Bondan Prakoso.

Sebenarnya, masalah ini menurut saya cukup sepele. Ini cuma tentang seorang manusia (lupakan sejenak kalau Bondan adalah publik figur) yang kebetulan merasakan ketidaknyamanan atas tindakan sekuriti bar Akasaka lalu men-curhatkan perasaannya lewat akun Twitter pribadinya. Setiap dari kita pasti pernah melakukan apa yang Bondan lakukan. Sayapun pernah kesal karena koneksi Speedy yang lambat dan mencurahkan kekesalan serta sedikit memaki di status Twitter saya, lain waktu saya pernah kesal karena dipingpong ketika mengurus KTP, hal itu juga saya ungkapkan di Twitter. Buat saya dan mungkin kebanyakan orang, Twitter dan jejaring sosial lainnya adalah tempat curhat, berbagi cerita ataupun berita. Akan tetapi akhir-akhir ini kita sering sekali mendengar banyak orang yang terkena masalah karena Twitter ataupun statusnya, bahkan beberapa sempat beurusan dengan kepolisian dan hukum. Kita tentu masih ingat kasus Twitter yang menimpa Luna Maya tahun lalu, di akun twitternya Luna sempat memaki wartawan infotainment karena sempat dibuat kesal ketika pemutaran film “Sang Pemimpi,” kepala anak Ariel Peterpan yang digendongnya terantuk kamera seorang wartawan televisi swasta. Esoknya beberapa media bereaksi dan memboikot Luna Maya, bahkan sempat ada wacana membawa kasus ini ke ranah hukum. Tidak hanya Luna Maya dan Bondan Prakoso, kita semua pasti pernah mendengar baik secara langsung maupun tidak langsung “korban-korban” Twitter. Banyak perselisihan dan perdebatan yang kadang berakhir dengan makian hanya karena sebuah status yang tidak lebih dari 14o karakter. Hal ini tidak hanya menimpa publik figur, bahkan ada yang sebelumnya tak ada yang tahu siapa dia tiba-tiba namanya bertengger di Trending Topic hanya karena statusnya di Twitter mengundang reaksi banyak pihak.

Kita semua pasti mengenal ungkapan “Mulutmu Harimaumu,” ungkapan ini mengingatkan kita agar senantiasa menjaga ucapan dan perkataan kita, karena sedikit saja kita salah ucap atau menyinggung lawan bicara hal itu bisa menimbulkan perselisihan yang tentu kita tidak mau terlibat di dalamnya. Tetapi melihat peristiwa akhir-akhir ini sepertinya kita harus menambahkan ungkapan “Twittermu harimaumu” ke dalam kamus kehidupan kita. Sama seperti mulut dan lisan, rupanya salah menulis status atau membuat orang lain tersinggung karena status kita di Twitter juga akan berakibat tidak baik bagi kehidupan sosial atau bahkan pribadi kita. Akun Twitter kita memang akun pribadi, tetapi begitu kita berbagi status, sadar atau tidak, jutaan mata akan membaca status kita sekalipun kita bukan publik figur ataupun selebritis. Mungkin menurut kita status yang kita buat hanyalah sekedar ungkapan perasaan dan curahan pikiran kita, tetapi buat orang lain status itu bisa saja mereka lihat sebagai hinaan atau pelecehan terhadap pribadi atau golongan mereka, karena itu kita nggak bisa tutup mata dan telinga karena menganggap akun Twitter adalah akun pribadi sehingga kita bisa menulis status di dalamya sesuka hati kita tanpa memikirkan akibat yang mungkin ditimbulkan.

Belajar dari berbagai peristiwa yang ada sepertinya mulai saat ini kita harus berhati-hati dalam mengetik status, karena dengan jatah 140 karakter saja, status yang kita buat bisa saja ditafsirkan lain oleh yang membaca. Sebaiknya kita juga memiliki pakem-pakem dan rem dalam pedoman penulisan status kita masing-masing (eeaaa… ), apa yang sebaiknya diungkapkan dan apa yang tidak, mana yang patut jadi konsumsi publik mana yang harus berakhir di pikiran kita atau diary saja. Sedikit mengungkapkan kekesalan bolehlah, sedikit memaki juga nggak apa-apa, tetapi sebaiknya kata-katan yang akan digunakan diolah lagi sebelum di bagi ke dunia maya. Atau kalau nggak mau repot, pastikan cuma Anda yang bisa membaca status Anda. Hehe…

Lebih bagus lagi kita jangan gampang menghakimi seseorang dari statusnya, saling menghargai saja, baik yang menulis status maupun yang membaca. Karena setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda satu sama lainnya, jadi kita nggak bisa memaksakan pendapat kita ke orang lain. Selama status itu masih dalam ranah privat seperti twitter, surel dan jejaring sosial masih wajarlah, kecuali pendapatnya dia ungkapkan di media dan tanpa latar belakang yang jelas pula, yang seperti itu baru disebut penghinaan. Lebih bersikap bijak saja, sayapun sedang belajar, karena kadang saya juga dibuat kesal oleh status orang-orang yang menyinggung, kalau sudah begitu biasanya saya tutup browser saya terus tidur. Hehe

Terakhir, mari kita galakkan ungkapan “Twittermu harimaumu” untuk senantiasa mengingatkan kita dan menjadi “rem” kita.

Note: Buat Speedy yang saya singgung di atas, maaf kalau tersinggung, sadarilah jaringan Anda terkadang lemot, tapi terimakasih, pelayanan petugas Anda cukup memuaskan .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s