Bodohnya Cinta

Apakah arti kata cinta untuk anda?

Ada yang bilang cinta itu tidak dapat didefinisikan, semakin memiliki arti, semakin sempit pula arti cinta itu. Karena hakikat cinta sangat luas dan tak terdefinisi, tak bisa dimaknai atau diterjemahkan artinya.

Ada lagi pendapat lain yang bilang kalau cinta adalah perasaan yang membahagiakan yang muncul ketika kita bertemu seseorang yang tepat menurut kita.

Buat saya, cinta itu bodoh. Segala kebodohan yang dilakukan semua orang di dunia ini pasti bermula dari cinta. Seorang Ibu rela mati demi anak yang akan dilahirkannya, seorang istri rela menanggung beban rumah tangga demi menjaga perasaan suaminya, seorang ayah rela banting tulang demi keluarganya, dan seorang kekasih bahkan dengan bodohnya menyerahkan keperawanannya karena cinta. Cinta itu universal bukan? Semua orang, sekeras apapun hatinya pasti pernah merasakan cinta, entah cinta versi apa, yang jelas mereka pasti pernah melakukan kebodohan karena cinta.

Saya seorang penggemar film, segala jenis film asal jalan cerita dan eksekusinya bagus pasti jadi favorit saya. Begitupun dengan film romantis, selama ini kebanyakan tokoh utama dalam film romantis yang saya tonton selalu melakukan kebodohan yang sama, mereka selalu jatuh cinta pada orang yang salah, padahal di sekitar mereka selalu ada tokoh lain yang mencinta mereka secara tulus. Bodoh, karena mereka lebih memilih bercapek-capek mencintai daripada dicintai. Baru di akhir film mereka sadar siapa yang sebenarnya pantas untuk mereka cintai. Tapi kalau di kehidupan nyata, apa iya harus menunggu sampai film berakhir?

Anehnya, cinta tetap tampak istimewa walaupun telah berabad-abad terbukti sebagai biang kebodohan orang. Orang tetap jatuh cinta biarpun mereka tahu kalau yang namanya jatuh dimana-mana pasti sakit, nggak ada yang enak. Orang juga masih rela berkali-kali patah hati untuk kembali merasakan cinta, bahkan ada yang rela membunuh diri sendiri karena cinta. Bodoh bukan? Salahkan Cinta.

Cinta. Topik yang nggak akan pernah selesai untuk dibahas. Sebuah bahasa universal yang banyak digunakan orang tapi tidak pernah ada yang benar-benar menemukan makna dan arti yang sebenarnya. Bahkan sebelum kita mengenal kata cinta, kita sudah dibuat bodoh dengan jutaan definisi cinta dari berjuta kepala.

Ada yang bilang, kalau sudah cinta, tahi kucing pun jadi rasa coklat. Aneh. Tapi itulah cinta. Tanyakan tentang cinta pada semua Don Juan, playboy dan Cassanova yang anda kenal, sebanyak apapun pengalaman mereka dengan cinta, pasti tak satupun dari mereka yang benar-benar mampu mendefinisikan makna cinta yang sebenarnya.

Mungkin seperti itulah cinta diciptakan Tuhan. Sama seperti keberadaannya yang tampak, definisi cintapun tak ada yang benar-benar tepat. Karena setiap orang memiliki definisinya masing-masing tentang apa itu cinta bagi mereka. Buat saya, cinta itu bodoh dan akan senantiasa begitu. Tapi, kalau dengan menjadi bodoh saya akan membahagiakan orang di sekitar saya, saya akan senantiasa mencinta dan menjadi bodoh. Karena saya mencintai mereka semua.

My name is Vani Laila Fitriani, and I am a loveaholic. Any question?

Advertisements

Justin Bieber, Semut dan Mati Lampu

Sebenarnya 3 hal di atas sama sekali nggak berhubungan, tapi daripada bergelap-gelap ria tanpa melakukan apa-apa akhirnya saya memilih untuk menuliskan hubungan ke 3 hal di atas dengan laptop yang baterainya sekarat ini.

Masih ingat isu-isu tentang konser Justin Bieber? Konon katanya banyak ABG yang rela bayar berapapun, bahkan katanya ada yang bayar sampai 12 juta rupiah hanya untuk menonton penyanyi muda asal Kanada itu. Saat itu saya gak habis pikir, ternyata ada manusia yang begitu terpesonanya pada manusia lain sampai cenderung fanatik bahkan rela melakukan apa saja demi bertemu idolanya. Dan hari ini, entah angin darimana, saya melihat kefanatikan itu dengan mata kepala saya sendiri. Setiap sabtu saya mengajar ekstrakurikuler Bahasa Inggris di sebuah pesantren di Malang. Materi hari ini adalah conversation, ternyata salah satu santriwati saya ada yang penggemar Justin Bieber, jadilah tema conversationnya adalah Justin Bieber dan Selena Gomez. Lucunya setelah giliran santriwati itu selesai dan temannya maju ke depan untuk selanjutnya saya nilai, santriwati tersebut masih meneruskan percakapannya tentang Justin Bieber bersama temannya, lebih ke berdebat sepertinya, dan yang diperdebatkan adalah apakah Justin Bieber benar-benar pacaran dengan Selena Gomes, segala argumen ia kemukakan, segal sumber ia paparkan, saya yang di depan malah jadi tidak fokus menilai karena mendengar debat kusir abg-abg tanggung tersebut, ujung-ujungnya dia berkomentar “I think Selena Gomez is not that beautiful dan dia gak cocok sama Justin.” lalu temannya menimpali “Why?” “Because she’s taller than him and i don’t like her voice.” Saya yang mendengar itu ngikik dalam hati, rupanya sang fans hanya tidak rela idolanya berpacaran dengan gadis lain lalu mencari berbagai sumber untuk mematahkan argumen temannya yang lain bahwa Justin dan Selena benar-benar berpacaran. What a complicated juvenile. Kadang kita benar-benar nggak ngerti jalan pikiran mereka yang nggak logis, tapi bukankah kita dulu juga berada pada posisi mereka, kita juga pernah berbuat setidak logis itu.

Sedikit mengenang, seumuran mereka seingat saya idola saya adalah F4 atau yang dikenal dengan ef-se’, sebuah boyband yang pertama kali dikenal lewat drama seri berjudul “Meteor Garden.” Kita yang generasi tua ini (Ahem..) pasti ingat bahwa di tahun 2000an demam Taiwan sedang dahsyat-dahsyatnya melanda negeri ini (jiah..), kalau sekarang mungkin ya seperti demam segala hal tentang Korea. Saking tidak logisnya saya, saya pernah memiliki mimpi akan menikahi salah satu personel F4 bernama Ken Zhu, dan saat itu dinding kamar saya dipenuhi poster-poster F4, bahkan saya rela puasa jajan untuk membeli tabloid yang memberi bonus poster raksasa mereka, aneh memang, tapi seperti itulah, saat itu saya begitu tergila-gila bahkan memotong rambut saya seperti potongan rambut Vic Zhou, (hehehe :D). Kalau ingat, saya sering malu, akhirnya nasib poster-poster raksasa yang kalau ditotal mungkin telah menghabiskan ratusan ribu tersebut harus saya relakan pada tukang rombeng dengan imbbalan 10.000, benar-benar gak logis.

Bicara soal tidak logis, akhir-akhir ini saya merasa diciptakannya semut merupakan hal yang tidak logis. Sebenarnya lebih ke sebal karena rumah saya yang indah ini sudah beberapa hari terakhir “dijajah” oleh sekumpulan koloni semut yang tak bertanggung jawab. Bagaimana tidak, mereka dengan seenaknya berkumpul di dapur saya, merayapi setiap peralatan dapu yang ada dan tidak membiarkan wilayah “jajahannya” disentuh, berulang kali lubang semut tersebut saya semprot dengan semprotan anti serangga, tapi beberapa jam kemudian mereka akan kembali mengagresi dapur kami. Sebenarnya hal ini sudah menjadi rutinitas musim panas mereka sejak saya menempati rumah ini. Mungkin karena cuaca yang panas dan hawa bawah tanah yang panas pula, mereka memutuskan untuk tinggal di atas tanah dan melakukan agresi pada rumah kami. Hal yang saya benci adalah, saat rumah sudah saya bersihkan dengan sekuat tenaga, tiba-tiba rombongan semut itu datang dan membuat saya harus membersihkan mereka dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan di setiap sudut dapur saya. Saya kadang berpikir untuk membuat nota kesepahaman dengan para semut itu, tapi nggak mungkin kan? Puncaknya hari ini. Mereka membuat selang buangan air tempat mencuci piring bolong sehingga bocor kemana-mana. Mungkin kalau ada pemilihan tentang hewan apa yang paling tidak logis sedunia, saya akan menuliskan nama semut. Padahal kalau hidup di dalam tanah saja mereka bisa aman, daripa ketika naik ke permukaan mereka harus mati lemas karena gas beracun dan kepanasan gara-gara kapur. Tapi peduli amat, saya pun bisa berbuat tidak logis dan melakukan segala hal untuk mencegah sekumpulan koloni semut perusak tersebut menguasai wilayah dapur kami yang tercinta.

Saya masih berfikir semut adalah mahluk hidup paling tidak logis sedunia sebelum PLN dengan manisnya memutuskan memilih wilayah tempat saya tinggal sebagai salah satu peserta pemadaman bergilir. Sebenarnya hal biasa ini nggak terlalu berpengaruh seandainya keluarga saya sedang berda di rumah. Tapi menyedihkannya, keluarga saya sedang keluar kota dan saya ketiban sampur untuk menjaga benteng kami dari gempuran bangsa semut-dan bangsa-bangsa lainnya. Akhirnya, saya pun memutuskan bahwa PLN termasuk salah satu mahluk paliing tidak logis di dunia ini. Bagaimana tidak, Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah, kaya akan hutan, laut dan juga sungai. Bangsa Belanda yang selama 350 tahun menjajah kita menyadari potensi tersebut, maka dibuatlah waduk-waduk dan danau buatan sebagai pembangkit listrik. Secara logika saja, ada berapakah sungai dan danau alami di Indonesia? Ratusan bahkan ribuan, dari sungai dan danau alami tersebut kita dapat memanfaatkannya untuk menjadi sumber daya listrik yang awet. Selain itu kita punya pembangkit listrik tenaga uap dan angin, kalau dihitung-hitung dengan sumber daya sebanyak itu kita tidak akan kekurangan listrik. Itu kalau alasan diadakannya pemadaman bergilir karena kurangnya sumber daya. Kalau alasannya karena kerusakan pada media-media penghantar seperti trafo lebih tidak logis lagi, selama ini jutaan penduduk membayarkan uangnya sebagai biaya sewa listrik setiap bulannya untuk pemeliharaan, kemanakah uang berkarung-karung tersebut sehingga sampai membutuhkan waktu selama ini untuk mengganti trafo yang rusak, belum dana dari pemerintah. Atau PLN sedang kekurangan sumber daya manusia? Bukankah setiap tahun PLN selalu merekrut ratusan mahasiswa Politeknik untuk bekerja pada mereka.

Saya kadang merasa tidak diperlakukan adil sama PLN, keluarga kami termasuk keluarga yang senantiasa menghemat penggunaan listrik, dengan peralatan elektronik sebanyak ini kami masih bertahan pada daya 1100 karena tidak mau menambah daya agar pasokan PLN tetap stabil, tapi setiap pemadaman bergilir, wilayah tempat tinggal saya selalu paling lama merasakan efek mati lampu ini. Bahkan sampai detik ini pun lampu belum nyala juga, sementara adik saya yang seharusnya menemani saya sekarang sudah melanglang buana bersama teman-temannya di luar sana, mungkin menikmati lampu-lampu kota dan mall. Sementara saya terpuruk di pojok kamar dengan laptop dan hape yang sekarat, curhat di blog dan berharap, jendral para semut itu tidak akan melakukan “penyerangan” di malam gelap gulita ini.

Tiba-tiba saya berpikir tidak logis karena berharap Justin Bieber konser di depan rumah dan karena ia artis besar, tentu ia akan membawa lampu penerangan yang banyak untuk mendukung konsernya, dengan begitu rumah saya akan mendapat penerangan yang cukup walaupun PLN belum juga menyalakan listrik di wilayah kami. Hehe

PS: Maaf, kalau postingan ini mengganggu, terima kasih yang mau sudi membaca racauan tak tentu ini.

Arti Sebuah Bungkus

Saya termasuk orang yang menilai segala sesuatu dari apa yang membungkusnya. Entah itu buku, film, majalah, koran bahkan orang. Karena menurut saya jika ingin mengenal sesuatu kenalilah bungkusnya. Buku dengan ilustrasi yang nyeni dan judul yang atraktif pasti jadi tujuan awal saya ketika sampai di toko buku. Saat memilih film saya juga selalu melihat kover filmnya terlebih dahulu, setelah itu judul selanjutnya saya baru melihat sinopsis film tersebut. Begitupun dengan koran dan majalah. Menilai seseorang pun saya selalu menilai dari penampilannya dulu, bukannya mau sok kritikus atau apa, karena sebagai manusia biasa tentu kesan visuallah yang pertama kali kita tangkap dari seseorang, karena saya bukan dukun atau psikiater yang bisa langsung menilai dan tahu isi kepala dan sifat seseorang.

Mungkin ini karma. Selama ini saya selalu menilai seseorang dari bungkusnya, begitu saya dinilai seseorang dari bungkus saya, saya merasa tersinggung. Saya memang orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian, karena itu saya suka pakaian klasik dengan model yang long lasting, karena saya nggak begitu suka berbelanja sehingga saya membutuhkan pakaian yang tetap terlihat aktual meskipun masih saya gunakan sampai 5 tahun lagi, selain itu saya buta mode, jadi saya hanya memakai apa yang nyaman menurut saya. Setidaknya itu pendapat saya sampai kalimat itu mampir di kuping saya,
“Mbok kalau pakai baju yang mbois (modis, jawa) dikit, biar kelihatan mudanya, gak kuno.”
Saya bukan tipe orang yang mudah tersinggung tapi mungkin karena mood saya lagi labil (maklum, penyakit bulanan), kalimat sederhana itu terasa seperti palu godam yang menghantam ubun-ubun saya dan membenamkan saya ke dalam tanah, apalagi yang mengucapkan kalimat itu orang terdekat saya.

Saya jadi berfikir segampang itukah seseorang menghakimi orang lain hanya dari pakaian yang digunakan? Jujur, saya memang menilai seseorang dari pakaiannya, tapi hal itu tidak serta merta membuat saya menghakimi seseorang hanya karena cara berpakaiannya, karena siapa sih yang tahu isi kepala seseorang selain orang itu sendiri dan Tuhan.

Kalau Shakespeare punya ungkapan “Apalah arti sebuah nama?” maka saya pun memiliki ungkapan “Apalah arti sebuah bungkus?” Dulu, orang berjilbab dianggap suci dan ahli agama, tapi sekarang jilbab sepertinya hanyalah bagian dari mode dan perkembangan jaman, berjilbab bukan lagi untuk meraih ridha Allah, tapi untuk menarik perhatian calon mertua atau suami. Dulu, orang berambut gondrong dengan celana jeans belel dianggap anak jalanan dan pengangguran, sekarang gaya seperti itu banyak kita temui di mal-mal yang notabene tempat prestis dan “terhormat.” Dulu, batik hanya dipakai untuk kondangan dan tidur, tapi sekarang batik bahkan digunakan di forum-forum internasional.

Bungkus selamanya hanya akan jadi bungkus, mungkin benar bungkus seseorang adalah refleksi kepribadian orang tersebut tapi mungkin itu hanya 20% nya saja, sisanya adalah gaya bertutur, cara berfikir dan sikap orang tersebutlah yang mampu menunjukkan seperti apa kepribadian orang itu sebenarnya. Modern atau tidaknya seseorang bukan diukur dari modis atau tidaknya cara berpakaian orang tersebut. Modern terletak pada pola dan cara berfikir kita, dari sudut pandang kita dalam melihat sesuatu, bukan dari aktual tidaknya pakaian yang kita gunakan atau mahal tidaknya baju kita. Saya punya seorang teman yang bisa dibilang selalu aktual dalam urusan berpakaian, setiap ada model pakaian terbaru teman saya ini pasti memilikinya, tapi anehnya kalau diajak ngomong soal teknologi atau isu terkini dia cuma mlongo. Rupanya “processor”nya tidak secanggih bungkusnya .

Kalau boleh membandingkan, mari kita bandingkan Paris Hilton dan Hillary Clinton, mungkin ini perbandingan yang aneh, tapi kita pasti tahu mana yang lebih modis dan mana yang lebih cerdas, serta mana yang lebih modern cara berpakaiannya dan mana yang lebih modern cara berfikirnya.

Jadi, apa masih menilai seseorang dari bungkusnya? Kalau saya sih, masih… hehe. Karena saya kan bukan dukun (tetep ngeles..)