Kapok Sambal

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia sambal adalah “makanan penyedap yang dibuat dari cabai, garam, dsb yang ditumbuk, dihaluskan, dsb”. Dari jenisnya, sambal memiliki berbagai jenis, dari sambal hijau, terasi, bajag, dsb.

Pertanyaannya adalah, kenapa saya menyinggung-nyinggung tentang sambal?

Hal ini bermula dari kemarin siang, kebetulan saya makan siang dengan bubur ayam, bagi para pecinta masakan pedas tentu tidak enak jika sebuah makanan tidak memiliki rasa pedas sedikitpun, begitupun saya, jadilah bubur ayam yang tadinya berkuah kare berwarna kuning itu berubah jadi kemerahan, mungkin karena cabai mahal sambal yang dibuat untuk pelengkap bubur ayam itu sama sekali tidak pedas, karena kurang mantap, akhirnya sambal jatah untuk 3 porsi saya campurkan semua ke dalam mangkok saya, dan rasa pedasnya pun muncul. Masalahnya muncul tadi malam, sepanjang malam perut saya melilit dan sayapun jadi aktivis kamar mandi, hehe. Tidur sayapun gak nyenyak. Lalu, apa saya kapok makan sambel? Jawabannya pasti BIG NO, gak tau kenapa dari sejak saya menganal rasa pedas dan buah bernamai cabai saya gak bisa berhenti makan makanan pedas. Satu-satunya yang bisa buat saya berhenti makan sambal selama setahun adalah ketika saya sakit tifus beberapa tahun lalu. Karena pada saat itu dokter melarang saya makan-makanan padat dan pedas dan orang tua sayapun mengawasi semua makanan yang masuk ke perut saya. Bisa dibayangkan betapa merananya hidup saya tanpa sambal (lebay). Sejak saat itu saya berjanji pada diri saya gak akan membiarkan tubuh saya terlalu capek dan sakit agar saya bisa tetap makan sambal seumur hidup saya.

Mungkin dari sanalah istilah “kapok sambal” didapat, ungkapan ini umum di daerah tempat saya tinggal, Jawa Timur, saya gak tau apa di daerah lain juga ada. Ungkapan “kapok sambal” ditujukan untuk seseorang yang gak kapok untuk mengulangi suatu hal/pekerjaan yang merugikan dia atau orang lain. Misalnya ada seorang maling yang berulang kali masuk penjara tapi begitu keluar ia akan mengulangi perbuatannya, sekalipun ia tahu akibatnya ia akan kembali masuk penjara, seperti itulah kapok sambal. Sama seperi makan sambal, bagi para pecinta sambal, seburuk apapun keadaan yang mereka rasakan setelah makan sambal satu saat nanti mereka pasti akan kembali makan sambal dan kembali menanggung konsekuensinya.

Bicara tentang kapok sambal, akhir-akhir ini kita banyak melihat pelaku tindak korupsi dan penyuapan yang gak juga kapok keluar masuk penjara karena tindakan mereka, bahkan ada beberapa yang ketika dipenjara pun masih mempraktekkan keahlian korupsi dan suap mereka. Begitu juga dengan pengedar dan pecandu narkoba, setelah masa hukuman selesai, gak lama kemudian mereka akan kembali ke “habitat”nya dulu dan mengulangi perbuatan mereka sekalipun mereka tahu konsekuensinya.

Kalau diibaratkan sambal, sekalipun pedas dan bikin sakit perut, entah kenapa ada kenikmatan tersendiri tiap makan sambal. Mungkin sama juga seperti korupsi, penyuapan, narkoba dan tindak kriminal lainnya, selalu ada hal yang membuat para pelakunya kembali “menekuni” hal-hal yang bertentangan dengan hukum itu. Yang musti diubah mungkin konsekuensinya, kalau dipenjara jangan sekedar dipenjara sehingga masih ada celah untuk menyuap dan membuat penjara menjadi hotel bagi para pelaku suap dan korupsi. Harus ada konsekuensi yang setimpal atau bahkan lebih berat dari perbuatan mereka yang merugikan banyak orang itu. Sama seperti saya dulu ketika harus lama berhenti makan sambal selama setahun karena tifus, karena saya menanggung konsekuensi yang lebih berat dari sekedar mulas dan menjadi aktivis kamar mandi, yang gak hanya menyiksa perut saya tapi juga menyerang organ tubuh lainnya. Seharusnya begitu juga dengan para pelaku korupsi, suap dan tindakan kriminal lainnya, sepertinya mereka butuh lebih dari sekedar “pedas” dan “mulas,” mereka harus sampai “sakit” dan “tak berdaya” sehingga mereka benar-benar berhenti dan gak akan mengulanginya lagi (kalau yang ini jangan disamain sama sakit saya ).

Seperti biasa, ini cuma sharing, maaf kalau analogi sambal terlalu aneh dan gak proporsional, karena cuma itu yang terfikir ketika saya mengetik sambil menahan mulas. Ya, efek sambal kemarin masih saya rasakan. Kapokkah saya? Kalau harga cabai satu juta sekilo mungkin iya, hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s