Menafkahi Diri Atau Dinafkahi Suami?

Tulisan ini saya buat setelah saya membaca sebuah artikel di situs VOA Islam. Agak tergelitik, karena beberapa minggu sebelumnya saya membaca sebuah artikel dengan tema serupa tetapi dengan tujuan penulisan yang berbeda di sebuah majalah remaja HTI Surabaya.

Artikel yang pertama secara garis besar bertutur tentang perbedaan kebutuhan dan tuntutan terhadap suami, di dalam artikel tersebut dijelaskan sebaiknya seorang perempuan muslimah tidak terlalu menuntut suami untuk memenuhi “keinginan” kita, karena di luar sana suami tentu sudah bekerja sekuat tenaga untuk memenuhi tuntutan istri dan keluarganya. Jadi sebagai muslimah yang baik, hendaknya kita mendahulukan kebutuhan keluarga daripada kebutuhan kita pribadi, karena gaji suami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bukan tuntutan istrinya, dan juga agar suami tidak tertekan ketika bekerja di luar rumah.

Sedangkan artikel yang kedua bertutur tentang “kewajiban” seorang istri dan Ibu muslimah yang wajib mendedikasikan diri sepenuhnya terhadap keluarga, dan sebaiknya seorang muslimah yang baik tidak perlu bekerja di luar rumah untuk menafkahi keluarga karena tanggung jawab itu merupakan tugas seorang suami. Artikel ini juga mengutip sebuah hadits yang mengatakan bahwa setiap muslimah merupakan tanggungan ayahnya dan setelah menikah ia menjadi tanggungan suaminya sepenuhnya. Hal ini karena tugas perempuan adalah untuk melayani suaminya, serta merawat dan menjaga anak-anaknya.

Apakah perbedaan dari kedua artikel di atas?

Artikel yang kedua menuntut seorang muslimah untuk berdedikasi penuh terhadap keluarganya karena urusan menafkahi adalah semata tugas seorang suami yang merupakan kepala rumah tangga. Sedangkan artikel yang pertama meminta seorang muslimah agar tidak terlalu menuntut suaminya agar suaminya tidak merasa tertekan.

Pertayaannya, bagaimana bisa kita diminta untuk mendedikasikan penuh kehidupan kita terhadap keluarga tanpa bekerja sementara di lain sisi kita diminta untuk tidak menuntut terlalu banyak kepada suami untuk memenuhi kebutuhan dan hak kita?

Jadi apakah salah jika seorang istri bekerja atau memiliki penghasilan sendiri untuk menafkahi dirinya dan keluarga?

Beberapa orang mungkin akan menganggap jika seorang perempuan bekerja di luar rumah atau memiliki penghasilan sendiri, serta merta ia akan melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang Ibu dan istri. Menurut saya ini semua tergantung individu orang itu masing-masing, bahkan berkaca pada pengalaman Ibu saya yang merupakan salah satu wanita tangguh yang saya kenal. Seorang perempuan tetap bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri untuk membantu suami tanpa mengabaikan anak-anaknya, dan saya telah banyak melihat perempuan-perempuan tangguh yang sukses dalam arti sebenarnya, baik dalam mengurus dan mendidik anak maupun dalam memiliki karir dan penghasilan sendiri. Kita juga mengenal Siti Khadijah, salah satu istri Nabi SAW yang juga seorang enterpreneur dan pedagang sukses di masanya, tapi hal ini tidak serta merta membuat ia “kurang ajar” dan mengabaikan suaminya meskipun ia lebih kaya dari suaminya.

Jujur, tulisan ini saya tulis karena saya sendiri merasakan betapa nikmatnya memiliki penghasilan sendiri tanpa merepotkan orang tua saya, walaupun saya belum menikah, tapi saya bisa merasakan perasaan Ibu dan istri di luar sana yang mungkin masih menyisihkan uang belanjanya selama berbulan-bulan hanya untuk membeli bedak atau perlengkapan wanita lainnya karena ia tak mau menyusahkan dan menuntut banyak pada suaminya. Dulu pernah ada teman yang nyeletuk perempuan karir cenderung memiliki kesempatan untuk berselingkuh lebih banyak dari seorang ibu rumah tangga biasa. Sebenarnya, untuk memiliki penghasilan sendiri seorang muslimah kan tidak harus bekerja di luar rumah, jika suami khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan bisa dengan cara membuatkan toko atau usaha-usaha rumahan lainnya yang memungkinkan istri untuk senantiasa tinggal di rumah.

Seorang perempuan bekerja bukan untuk memiliki penghasilan sendiri atau menyepelekan suami, mereka bekerja untuk menafkahi diri mereka sendiri sementara suami menafkahi keluarga. Karena sementara suami keluar untuk bekerja, istri atau Ibulah yang menghadapi berbagai persoalan rumah tangga di rumah, mulai dari tukang kredit, tukang listrik, tukang sayur, spp anak-anak sampai rengekan anak-anak yang ingin memiliki barang seperti milik teman-temannya. Jadi bicara tertekan, perempuan sama atau bahkan lebih tertekan daripada suaminya di tempat kerja (Lho? Jadi ngelantur Β hehe).

Jadi para suami, harap mengerti kalau tugas ibu rumah tangga tidak semudah yang anda pikirkan, kalau istri tidak diperkenankan bekerja paling tidak 2 minggu sekali diperbolehkan lah libur seharian dari urusan rumah tangga, atau cari jabatan yang lebih tinggi lagi, supaya istri gak cerewet, tapi, nggak pakai korupsi ya.. hehe..

P.S
Ini cuma sharing, maaf-maaf Β kalau ada yang tersinggung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s