Menciptakan Mimpi

Kemarin sore, seperti biasa saya menonton salah satu acara TV favorit saya yaitu “John Pantau”, bagi yang tidak tahu, acara ini merupakan sebuah acara yang memantau segala pelanggaran, keanehan, dan ketidaklaziman yang banyak dilakukan orang-orang di Indonesia. Episode kali ini berjudul “Anak Sewaan.”

Seperti biasa, presenternya, John Martin Tumbel membawakan acara dengan kekocakannya, saat itu ia berusaha mewawancarai seorang ibu yang mengajak seorang bayi mengamen dengannya, terakhir diketahui bayi itu ia sewa dari temannya untuk meningkatkan pendapatannya mengamen. Ya, ironi ini nyata, bukan hanya ciptaan seorang penulis skenario atau adegan dalam sebuah filem.

Selanjutnya, sang presenter kembali mencari “korban’ untuk diwawancarai, kali ini ia bertemu sekelompok pengamen yang ternyata ter”organisir” dan dipimpin seorang preman. Bagi anda yang pernah melihat filem “Alangkah Lucunya Negeri Ini,” seperti itulah gambarannya, bedanya preman dalam kehidupan nyata sedikit lebih kejam.

Lalu, ia kembali mencari anak-anak jalanan lainnya, kali ini ia bertemu sekelompok anak yang sedang menikmati lem untuk dihirup, efek lem ini memabukkan dan membuat mereka sedikit linglung, seperti biasa sang presenter pun mngerjai anak-anak itu untuk menguji “kesadaran” mereka.

Yang menarik, di scene terakhir, presenter juga menemukan seorang anak jalanan yang sedang menghirup lem di jembatan penyebrangan, ketika ditanya alasannya menghirup lem tersebut ia menjawab “karena menimbulkan ilusi yang enak.” Yap. Menyedihkan.

Bagi sebagian orang bermimpi adalah cara mereka untuk membuat fondasi kenyataan, bagi sebagian lainnya mimpi adalah alat untuk memotivasi mereka agar mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan saya yakin, banyak juga orang yang menggunakan mimpi sebagai media untuk sejenak lari dari kenyataan.

Seperti anak jalanan tadi, ia berusaha menciptakan mimpinya sendiri dengan cara menghirup lem yang tentu saja efeknya buruk bagi tubuh manusia. Dengan menghirup lem itu ia berusaha menciptakan ilusi di siang bolong dimana biasanya mungkin ia harus merasakan kejamnya sebuah kenyataan hidup, mengamen kesana kemari di tengah terik panas matahari dengan resiko tertabrak kendaraan, ditangkap satpol PP, dipalak preman atau paling buruknya terlibat tawuran antar anak jalanan dan mati.

Mimpi bagi sebagian dari kita mungkin hanya “bunga tidur,” bonus dari istirahat berkualitas yang kita butuhkan setelah seharian beraktivitas, tapi buat sebagian lainnyya, mimpi adalah jalan mereka untuk sejenak melupakan kenyataan, menjalani hidup yang mereka inginkan, dan menciptakan dunia yang mereka mau.

Saya jadi ingat filem “Inception,” mungkin tidak benar-benar menyenangkan jika kita hidup selamanya di mimpi kita, waktu berjalan sangat cepat, semuanya ilusi dan kita tidak bisa menikmatinya.

Mimpi memang menyenangkan, tapi kenyataannya, kita tidak hidup di dunia mimpi. Jika mengalami kejadian buruk saya sering berharap itu semua cuma mimpi dan begitu saya buka mata semua selesai, tapi tidak sesederhana itu, sesering apapun saya membuka mata kejadian buruk itu akan tetap di hadapan saya, sampai saya bergerak dan berfikir untuk menemukan jalan keluarnya.

Dan, anak-anak jalanan itu mungkin selalu ingin hidup di mimpi mereka, mereka menggunakan berbagai cara untuk melarikan diri dari kenyataan, dengan menghirup lem, mabuk-mabukkan, atau bahkan sakaw. Karena mungkin ketika mereka tidur, tidur mereka tak benar-benar nyenyak dengan berbagai resiko kematian di sekitar mereka, hutang yang menumpuk, dinginnya malam atau berisiknya nyamuk.

Setiap orang punya caranya masing-masing, tapi memang menyedihkan ketika untuk bermimpi saja kita butuh media untuk menciptakannya, di saat sebagian orang tidur dan dengan cuma-cuma mendapatkan mimpinya, yang lain menggunakan media untuk medapatkannya.

Mimpi memang hal yang sederhana, tapi bukankah dengan memiliki mimpi kita punya bertriliyun alasan untuk bertahan dan menghadapi kenyataan dengan cara yang indah. Bersyukurlah yang masih bisa bermimpi, karena dari itulah kita hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s