Di Ambang Kematian

Disaaat ajal kan datang menjelang,
Malaikat Izrail mainkan peran,
nyawa tercabut tubuh pun meregang,
Allahu akbar janjimu tlah datang..
Lidah pun kelu tubuh pun membisu,
seluruh tubuh kaku dan membeku
kenikmatan dunia pun berlalu
mohon ampunan sudah tak berlaku…
(SNADA)

Petikan lagu di atas selalu mengingatkan saya pada datangnya ajal yang gak pernah kita ketahui kapan itu akan menimpa diri kita. Melihat penggalan lirik di atas, bisa kita bayangkan betapa hanya kematian yang akan membuat kita menyesal karna tidak memanfaatkan hidup sebaik-baiknya dan seseorang baru akan menghargai kehidupan itu saat ia hanya berada sejengkal dengan kematian. Naudzubillahi min dzalik.

Saat kematian bagi sebagian orang dianggap sebagai sebuah proses yang menyakitkan. Bisa dibayangkan betapa “mengerikannya” saat perlahan ruh kita dicabut dari ujung kaki menuju kepala sedangkan mata kita dipertontonkan slide-slide film kehidupan kita dari sejak lahir sampai ajal menjemput. Buat sebagian orang mungkin prosesnya tidak terlalu menyakitkan apalagi jika selama hidupnya ia berusaha memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tetapi untuk sebagian yg lain proses ini mungkin akan sangat menyakitkan, karena selain kesakitan karna dicabutnya nyawa, kita juga akan kesakitan jika film kehidupan kita justru menunjukan hidup kita yang kita sia-siakan karna kita sering berbuat maksiat. Naudzubillahi min dzalik.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar atau bahkan melihat sendiri bagaimana keadaan seseorang saat sakaratul mautnya. Saya sendiri pernah mendengar cerita tentang sakaratul maut seorang Nenek yang sempat jadi induk semang saat kami masih mengontrak rumah, dari Ibu saya. Saat itu Ibu saya berada di dalam kamar sang Nenek, bersama keluarga besar Nenek tersebut. Proses kematian Nenek tersebut kata Ibu saya cukup lama, karena ternyata semasa hidupnya Ia pernah pasang susuk. Konon orang yang pernah pasang susuk akan kesakitan saat ajalnya karna pengaruh susuk yang ia pasang. Wallahu a’lam. Semasa hidup, selama saya sekeluarga tinggal di kontrakan beliau, beliau memang dikenal sebagai sosok yang masih menjunjung tinggi kepercayaan dalam budaya jawa atau “kejawen”. Setiap malam Jum’at legi beliau selalu membuat apem dan membuang air kembang ke perempatan jalan kampung.

Di lain kesempatan Ibu saya juga pernah bercerita tentang bagaimana Kakek buyut saya meninggal. Kata Ibu saat meninggal tidak ada yang tahu bagaimana proses sakaratul maut karna beliau meninggal ketika sujud saat sedang shalat. Subhanallah… Menurut Ibu saya Kakek buyut saya memang seorang yang sholeh, semasa hidupnya beliau memang dikenal sebagai orang yang loyal dan selalu membantu orang. Wallahu a’lam.

Dua proses kematian di atas hanya gambaran betapa sakaratul maut seseorang adalah refleksi dari kehidupannya. Sebenarnya kitalah yang menentukan proses kematian kita, apa kesakitan atau mudah, semua tergantung amal ibadah kita saat kita hidup.

Ada satu cerita lucu tentang proses kematian yang pernah saya lihat di sinetron Para Pencari Tuhan, di situ diceritakan seseorang yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan sedang menghadapi sakaratul mautnya. Sang adik yang kebetulan latah dan sering berbicara “cie..cie”, diperlihatkan sedang mendampingi kakaknya ketika seorang ustadz membimbing kakaknya untuk beristigfar, karena saking sedihnya dan karna latah sang adik menggumam “cie..cie” tak dinyana bukannya mengikuti bimbingan si ustadz untuk beristigfar, sang kakak malah mengikuti ucapan sang adik setelah bergumam “cie..cie..” ia pun meninggal, sang adikpun langsung histeris melihat kematian sang kakak yang ironis. Naudzubillahi min dzalik..
Dari cerita di atas kita belajar betapa sakaratul maut bukanlah proses yang mudah, proses ini akan terjadi tergantung dari bagaimana kita menjalani kehidupan kita.

Saya menulis ini karna saya baru saja mengalami kecelakaan. Sore tadi saya menabrak orang, yg saya tabrak baik-baik saja tetapi saya malah terguling di tengah jalan dan dalam posisi meringkuk dari arah berlawanan saya melihat cahaya mobil, saat itu saya hanya bisa menutup mata, sementara di pikiran saya muncul keluarga saya, dan sayapun bergumam “mampus aku..”. Alhamdulillah saya selamat, hanya sedikit gores dan bengkak. Tapi proses sekian detik yang saya kira akan mengakhiri hidup saya itu membuat saya introspeksi. Saya gak bisa membayangkan jika saya benar-benar mati maka kematian saya akan sangat saya sesali, karna bukannya istighfar saya malah bergumam “mampus aku..”. Astaghfirullah. Saya sadari saya memang sering bergumam “mampus” daripada menyebut nama Allah… 😥

Kejadian sore tadi, dan beberapa kejadian lainnya benar-benar jadi pelajaran yang berharga untuk saya. Semoga setelah ini saya, kita semua dapat menjalani dan memanfaatkan hidup kita sebaik mungkin di jalan Allah. Kita memang tidak tahu kapan ajal datang menjemput kita, yang kita tahu bagaimana kita membuat proses kematian kita sebagai proses yang “mudah” dan tidak membuat kita menyesal. Insya Allah…

Advertisements