Pernikahan: Apakah Sebuah Harga Mati?

“Kapan nyusul?”
“Mana pacarnya?”
“Mau sampai kapan jomblo?”
“Ingat umur, cepet nikah deh!”

Kalimat-kalimat di atas adalah ungkapan yang akhir-akhir ini sering saya dengar. beginilah nasib perawan yang seorang anak sulung dan diharapkan segera berumah tangga, tidak hanya oleh ibu saya, tetapi juga seluruh keluarga besar saya. Jadilah pesta pernikahan sepupu saya beberapa bulan lalu sedikit membuat sesak dada saya, pertanyaan-pertanyaan yang bikin saya alergi itu justru muncul dari orang-orang sekitar saya yang notabene orang penting dalam hidup saya, orang-orang yang saya sayangi.

Sedikit tentang saya. Saya seorang wanita berumur 21 tahun jalan 22. Seumur hidup saya belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Jujur, selama ini saya tidak pernah ambil pusing dengan status saya yang masih “original” ini, saya justru bersyukur karena dihindarkan dari hal-hal yang mungkin hanya akan membawa kemudharatan dalam hidup saya, saya merasa Allah masih sayang sama saya. Tetapi akhir-akhir ini justru status saya membuat saya merasa kerdil di hadapan orang, seolah-olah saya ini manusia terkutuk dan status saya ini aib bagi mereka.

Dan sampailah saya pada fase di mana status ini benar-benar membuat saya terpojok. Ditambah desakan orang tua dan keluarga yang menanyakan perihal kapan saya akan menikah.

Saya bukannya seseorang yang anti pernikahan atau bahkan alergi dengan mahluk bernama laki-laki, saya juga manusia normal, saya pernah jatuh cinta, beberapa kali malah, tapi apa mau dikata, sampai detik ini memang belum ada satupun yang melontarkan kata-kata sakti itu

“vani, will you marry me?”

Lalu, apakah ini salah saya?
Apakah saya patut menggugat?

Saya sebut semua ini takdir, takdir memang bisa diubah, dan selama ini saya bukannya tidak berusaha untuk merubah takdir saya, saya tak pernah lelah berikhtiar dan berdo’a, tapi kalau Allah belum juga memberi apakah ini salah saya?

Pernikahan menurut saya adalah sebuah ikatan sakral di mana tidak hanya ada 2 individu di dalamnya, tetapi juga 2 keluarga yang tentunya memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing. Pernikahan juga bukan sekadar legalitas cinta 2 manusia, lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah ibadah yang nilainya setengah agama. Menurut saya ini bukan permainan yang hanya mengandalkan perasaan cinta dan suka sama suka. Dalam keyakinan saya setiap ketetapan dalam hidup saya menyimpan rahasianya masing-masing, yang mungkin akan saya ketahui ketika tiba saatnya yang tepat untuk saya, orang bilang rahasia Allah akan indah pada waktunya.

Tetapi sayangnya hanya saya yang berpendapat seperti ini, dalam hidup saya, saya sendirian menghadapi segala macam tuntutan dari keluarga saya. Saya dianggap telah dewasa, telah cukup umur, sudah pantas untuk menikah.
Rasanya saya ingin teriak kalau semua ini bukan keinginan saya, tapi memang belum waktunya saya menikah.

Apakah pernikahan sebuah harga mati?

Menurut saya, pernikahan memang ibadah sunnah, tetapi bukan kah masih ada ibadah sunnah lain yang pahalanya tak kalah besar dengan pernikahan. Menurut saya, daripada berkutat pada urusan pernikahan yang tidak jelasa, sementara menunggu giliran kita, kita masih bisa melakukan ibadah sunnah lain yang Insya Allah bisa menambah “nilai” kita di hadapan Allah, siapa tahu dari ibadah-ibadah sunnah tersebut Allah tergerak untuk mempercepat takdir pernikahan kita. Allahumma Amin…

Sampai beberapa jam lalu saya masih mempertanyakan keadaan saya ini, tetapi Allah sepertinya terlalu sayang sama saya, setiap fikiran saya sedikit melenceng dan memberontak Beliau langsung “menyentil” saya. Sentilan ini berupa buku yang kebetulan saya pinjam dari perpustakaan kota saya. Judulnya “Kisah Kasih dari Negeri Pengantin: Ketika Penulis Bicara Cinta” karya Asma Nadia dkk. Buku ini membuka mata saya, buku ini seperti sahabat lama yang datang untuk menemani saya menghadapi masalah saya. Saya tidak merasa sendirian lagi, karena ternyata banyak para penulis yang sebelum menikah juga memiliki pengalaman seperti saya. Seperti yang saya katakan di atas, pada akhirnya mereka semua menikmati indahnya rahasia Allah yang indah pada waktunya itu.

Alhamdulillahirabbil ‘Alamin…

Sekarang saya hanya akan menanti dan sedikit menulikan diri dari segala macam hujatan dan tuntutan, saya hanya akan melakukan hal yang terbaik yang bisa sya lakukan sambil tak putus berdo’a dan berusaha. Karena saya yakin Allah mencintai umatNya dan tidak akan membiarkan umatNya terpuruk selama umatNya itu masih percaya dan berharap hanya padaNya. Karena rahasia Allah akan indah pada waktunya.

 

Sergapan Rasa Memiliki

COPAS ALERT!!!!
Sumber di sini

 

..milik nggendhong lali..
rasa memiliki membawa kelalaian
-peribahasa Jawa-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda.

“Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

“Saya adalah Abud Darda”, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. “Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.” fasih Abud Darda bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

“Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah, “Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

“Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. “Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

“Allahu Akbar!” seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar , untuk tidak mengatakan –merasa dikhianati–, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, “Milik nggendhong lali.” Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

(Kutipan dari salah satu bab “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah)