Dipilih… Dipilih…

Judul di atas mungkin benar-benar cerminan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Semua orang sibuk “jualan” calonnya, yang beginilah, begitulah, yag inilah, itulah, dan semuanya berlomba-lomba bikin iklan paling mahal, paling mewah, paling ‘touching’, paling rame dan yang paling-paling lainnya. Bahkan slot-slot iklan di televisi habis mereka pakai untuk mempromosikan diri, setiap even pasti pada rebutan nampang sambil bilang “karena saya….”. Semua itu dialami sama hampir seluruh rakyat indonesia selama sebulan terakhir, saya sendiri sampai mual melihat fenomena 5 tahunan ini.

Debat pun menjadi magnet ketika ketiga capres berlomba-lomba menarik perhatian masyarakan lewat visi-misi yang tingginya seawang-awang, janji-janji yang menggiurkan dan dagelan yang cukup menghibur waktu mikir harga telur yang tiap waktu naik nggak tentu.

Akhirnya hari ini datang juga, hari dimana jutaan rakyat Indonesia memberikan hak pilihnya di bilik-bilik suara, ikut andil dalam menentukan nasib bangsa 5 tahun kedepan. Saya termasuk di dalamnya, saya sedikit bangga karena nggak memilih untuk jadi golput (walaupun waktu ke TPS saya pakai baju warna putih)
Karena saya berharap ada sedikit perbaikan, nggak perlu banyak yang penting merata dan terasa sampai lapisan terbawah. Semoga “ungu” nya jari kelingking saya nggak sia-sia selama 5 tahun kedepan, karena jujur saya agak kesel karena waktu pemilihan legislatif lalu tinta di jari saya nggak hilang selama dua minggu lebih.
Dan semoga, apa yang saya pilih benar-benar amanah. Amin…..

Advertisements