Selayang Pandang, Majapahit : Sebuah Kejayaan Masa Lalu

Tulisan ini di tulis karena keprihatinan saya atas kasus pembangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit) di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur dan kecintaan saya pada sejarah.

Majapahit adalah sebuah kerajaan besar yang beribukota di Jawa, Negara ini sempat menjadi negara terbesar
di Nusantara. Majapahit juga merupakan salah satu negara yang paling disegani di kancah internasional saat itu,
bahkan menurut beberapa sumber wilayahnya mencakup hingga seluruh nusantara. Majapahit juga memiliki
hubungan diplomatik yang baik dengan beberapa negara asing seperti Cina, Ayodya (Siam), Champa, dan Kamboja. Bahkan Raja-raja Majapahit sering mengirim utusannya ke Cina pada masa Dinasti Ming.

Sejarah Majapahit dimulai pada tahun 1292 M, dengan Raja Pertamanya Raden Wijaya. Raden Wijaya merupakan menantu dari Raja Kertanegara (Raja Singhasari terakhir). Pada tahun 1291 M kerajaan Singhasari diserang oleh Jayakatwang dari kerajaan Kediri. Pada saat itu Raden Wijaya berhasil melarikan diri ke Madura. Setelah mendapatkan pengampunan dari Jayakatwang atas bantuan Arya Wiraja, Raden wijaya juga diberikan sebidang tanah di daerah Tarik.
Di atas tanah ini ia membangun kerjaannya sendiri dan diam-diam menyusun kekuatan. Kedatangan Cina-Mongol dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang dan berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri. Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya balik menyerang Cina-Mongol. Dengan lenyapnya Cina-Mongol dari tanah jawa,
maka tinggal satu kekuatan di tanah jawa yaitu Majapahit. Sebagai Raja pertama Majapahit Raden Wijaya bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.

Pada awal pemerintahan sempat terjadi pemberontakan Sora, Ranggalawe, dan Nambi. Setelah Raden Wijaya wafat kursi
Kerajaan sempat diduduki beberapa Raja bahkan Ratu. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu Majpahit sudah mengenal kesetaraan Gender sehingga ketika tidak ada pewaris mereka menunjuk Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai Raja ketiga setelah Jayanegara. Majapahit juga memiliki masa keemasannya, yaitu ketika diperintah Raja Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan keturunan Ratu Tribhuwana Tunggadewi dengan Cakradhara (Kertawardhana). Dalam pemerintahannya Hayam Wuruk memiliki patih yang merupakan tiang penting pada masa kerajaan Majapahit saat itu
yaitu patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Hayam Wuruk juga memiliki impian menyatukan nusantara
dalam satu panji Majapahit. Sepeninggal Gajah Mada pada tahun 1364 M, Hayam Wuruk kehilangan pegangan, dan Majapahitpun memiliki masa-masa sulitnya.

Masa kemunduran Majapahit ditandai dengan meletusnya perang Paregreg (perang saudara) yang merupakan perebutan kursi kerajaan antara Wirabhumi dan Suhita. Selain itu tidak ditemukan lagi seorang Patih yang secakap Gajah Mada. Faktor lain adalah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang mengancam keberadaan Majapahit.

Majapahit dikenal dengan kebudayaanya yang tinggi pada masa itu, beberapa Candi sempat dibangun. Seperti candi Penataran, Tikus, Sawentar, Sumberjati, dan beberapa bangunan yang dapat kita lihat di Trowulan saat ini, termasuk
sebuah gapura yang diduga sebagai gerbang kediaman patih Gajah Mada. Beberapa kitab yang ditulis sastrawan-sastrawan Majapahit juga terkenal sampai kini, seperti Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca, bahakan semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika diambil dari salah satu halaman kitab ini.

Majapahit kini memang tinggal puing. Bahkan beberapa artefak dan benda peninggalan sejarah lainnya sudah berpindah
tangan ke Negara lain. Pembangunan PIM merupakan kesalahan besar pemerintah kita, keinginan untuk merelokasi reruntuhan ibu kota Majapahit di Trowulan memang mulia, tapi dalam proses pembangunannya justru merusak peninggalan
bersejarah yang masih terpendam. Majapahit belum ‘terlahir’ kembali, penggalian belum usai, dan masih banyak misteri yang terkubur di perut Trowulan. Seharusnya yang kita lakukan adalah menjaga semua itu, bukan malah merusaknya atas nama
perlindungan. Sebuah Bangsa bisa besar karena memiliki sejarah yang hebat, tapi jika sejarah cuma dijadikan komoditi politik atau komersial, bangsa yang bagaimanakah kita ini?

Bisakah kita mulai berkaca pada sejarah?

NB: Sebagian tulisan disadur dari “Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk SMU kelas I” karangan I Wayan Badrika
Terima kasih untuk guru-guru sejarah saya.
Terima kasih untuk perasaan sayang pada sejarah Indonesia ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s