Fatwa Haram Golput. Ouch….

Dalam Ijtima’ ulama MUI ke III se Indonesia yang diselenggarkan 23-26 Januari 2009 lalu, membuahkan beberapa keputusan diantaranya mengharamkan golput dalam Pemilu.
Ouch…
That sounds bad for me.
Sejak mendapatkan kartu pemilih pertama saya tahun 2008 lalu, yaitu saat PILKADA Jatim sekaligus PILWALI Malang saya sudah membuat keputusan tidak akan memilih siapapun. Alasannya karena saya percaya siapapun yang saya pilih Jawa Timur akan tetap seperti ini, “Dolly” (nama lokalisasi terbesar di Jawa Timur)  tetap beroperasi, anak-anak tetap nggak bisa sekolah, pertanian merana dan Malang tetap menjadi kota beranjak metropolitan yang melakukan pembangunan dengan merusak beberapa situs sejarah seperti rumah-rumah loji di Jl. Veteran yang sekarang jadi pusat perbelanjaan (walaupun sebenarnya saya juga masih belanja di sana sih, hehe). Mungkin bukan cuma saya, tapi banyak orang di luar sana juga berfikir kalau pemerintahan saat ini tidak amanah. Ya, kami kehilangan kepercayaan, bahkan di waktu pertama kali saya terdaftar sebagai pemilih. Salah siapa kalau saya memilih jadi golput?

Dari awal saya mengenal pemilihan langsung di tahun 2004 lalu saya memang sudah skeptis, menurut saya orang-orang Indonesia saat itu belum siap melakukan pemilihan presiden langsung. Seperti teman saya dan beberapa Ibu yang memilih salah satu calon presiden saat itu yang tiba-tiba jadi sangat populer, ketika saya tanya alasan mereka memilih jawabannya membuat saya nyengir kuda,
“Karena ganteng van, kapan lagi punya presiden cakep….” katanya sambil senyum-senyum dengan mata berbinar-binar.
Ironis memang, nasib suatu bangsa yang sedang bangkit setelah keterpurukan ekonomi tahun 1998 diserahkan pada seseorang yang kata mereka ganteng itu. Sekarang setelah hampir 5 tahun masa pemerintahan, saya cuma membatin “Makan tu ganteng?” Karena ternyata, wajah nggak menjamin kemakmuran.

Rumput tetangga memang lebih hijau daripada rumput di rumah sendiri. Coba kita lihat Obama, Mari kita tanya alasan para pemilih di Amerika saat memilih Obama. Kebetulan native speaker di kampus saya adalah seorang Amerika dan jawabannya,
” I think Obama is liberal enough…”
(kebetulan native speaker ini adalah seorang yang menolak diskriminasi segala hal termasuk transeksual)
Lainnya adalah pendapat dari Oprah Winfrey tentang alasannya memilih Obama,
“With Obama, change we can.”

See,
Pemerintah yang bangsa ini perlukan adalah seseorang yang berjuang dari bawah dulu. Karena saya nggak butuh orang dengan janji muluk-muluk sampai mulut berbusa, atau seseorang yang bisanya menurunkan harga BBM berkali-kali dan mengklaimnya sebagai hasil karyanya, padahal seluruh dunia juga tahu bahwa harga minyak dunia turun, dan karena itu BBM turun. Saya memang agak emosi saat menulis ini. Semuanya cuma atas kepentingan ‘Bapak’, bukan kepentingan kami.

Kembali ke golput. Saya masih dalam proses berfikir kini, semoga in the last minute I can find the one. Seseorang yang menurut saya tepat. Lalu, saya nggak golput lagi? Maybe yes, maybe not. Ya itu tadi, saya masih berfikir, doakan saja sebelum April, pada suatu malam saya bermimpi dan mimpi itu membuat saya pergi ke TPS lalu mencontreng wajah seseorang. Tidak peduli orang itu ganteng, cantik, hitam, pendek atau tinggi. Yang penting ketika saya mencontreng wajahnya saya yakin this is the one.

Tapi kalau sampai lima tahun kedepan pemerintahan orang yang saya pilih keadaannya tambah parah, saya mau tobat.
Saya mau kembali ke keyakinan saya sebelumnya, menjadi golput yang setia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s