Episode Situ Gintung

26 Maret 2009
6:31

Setiap pagi lukisan aneh di dinding yang membatasi kampung rumah Asih dengan Situ Gintung itu menyapa Asih ketika ia akan berangkat ke sekolah, lukisan yang lebih mirip aliran air atau lebih seperti gambar cacing itu cukup meresahkan warga. Ya, sudah setahun ini warga sekitar rumah Asih menyadari adanya retakan pada dinding yang membendung arus Situ Gintung. Bahkan Pak Rt setempat sudah mengemukakan hal ini pada Pak Rw, tapi entah kenapa sampai sekarang belum juga ada yang menengok dari pihak PEMDA atau PEMKOT. Dan pada setiap hari pada jam yang sama Asih melewati tempat itu dan memandang ngeri pada retakan itu. Asih tidak mau berfikir yang tidak-tidak, banjir setiap tahun yang melanda tempat ini saja sudah membuatnya repot apalagi yang lebih dari itu. Asih bergidik ngeri. Ia terus berjalan dan berusaha tidak memungkinkan kemungkinan terburuk, karena makin lama retakan itu makin lebar dan panjang. Asih bergidik lagi, ia bergegas dan mempercepat langkahnya. Anak-anak di SD tempat ia mengajar pasti sedang menunggunya membantu mereka membersihkan teras kelas. Sudah beberapa hari ini hujan deras melanda ibu kota dan sekitarnya, termasuk tempat Asih tinggal dan bekerja, dan penjaga sekolah yang biasanya membersihkan kelas sedang sakit. kabarnya terserang demam berdarah. jadi sejak seminggu lalu, sebelum pelajaran dimulai, Asih dan anak-anak didiknya di kelas 4 gotong royong membersihkan teras dan kelas mereka yang selalu kecoklatan karena lumpur akibat hujan.

“Bu Asih…”
Teriak Siska murid Asih saat ia memasuki pekarangan SD. Asih memamerkan deretan giginya yang putih, dan serta merta memeluk anak manis itu ketika Siska mendekat.
“Sudah siap?” tanya Asih sumringah.
Mata siska berkilauan, ia mengangguk. Ia dan Asih pun lari-lari kecil menuju kelas mereka.

11:35

Pak Budi sedang membaca beberapa ayat Al-Qur’an saat Asih melintasi Masjid yang ia kelola selama 20 tahun belakangan ini. Asih sudah tersenyum dari jarak 10 m saat ia menyadari keberadaan Asih. Ia tersenyum membalas sapaan Asih.
“Kok sudah pulang sih?”
“Iya pak, ini tadi ada rapat koperasi jadi guru-guru honorer pulangnya cepet. Anak-anak juga.” Gadis berjilbab putih itu menjabat tangannya dan mencium dengan takzimnya.
“Ya sudah, mau langsung pulang kamu? gak mampir dulu, ntar shalat jama’ah sama wak.”
“gak deh wak, ibu repot banget ngurus pesanan kue di rumah, Asih balik dulu wak.”
“Ya udah deh, ati-ati sih.”
“Ya wak. Asallamualaikum”
“Waalaikumsalam…”
Pak Budi menggeleng pelan. Akhir-akhir ini masjid makin sepi, apalagi pada waktu subuh. Paling banyak 3 orang warga sekitar termasuk dia yang bertindak sebagai imam yang bejama’ah di masjid ini setiap subuh. Ia berdiri perlahan, akhir-akhir ini punggungnya cepat pegal setiap habis duduk lama. Ia melangkah perlahan ke belakang untuk mengambil air wudhu. Beberapa menit lagi masuk waktu dhuhur dan ia harus menjalankan tugasnya. Memukul bedug dan mengumandangkan adzan, sekalipun mungkin hanya segelintir orang yang mengindahkan panggilannya tapi ia yakin setiap hela nafas yang ia keluarkan saat beradzan ada balasannya. Allahumma amin.

16:14

Di tengah hujan deras dan angin yang kencang mobil avanza metalik itu memasuki halaman sebuah rumah berlantai dua di kawasan Cireundeu Permai. Setelah memasang rem ganda pengemudinya keluar dari mobil itu dan di sambut dua anak kecil berkepang.
“Papa tumben udah pulang…” teriak mereka.
Sang Papa tersenyum dan menciumi kening mereka satu persatu.
“Papa ambil cuti sayang, jadi besok kita sekeluarga jadi ke Bali. Udah disiapin belum bajunya?”
“Udah….horeeee kita ke Bali….”
Teriak anak-anak itu sambil berlari memasuki rumah.
Hari, sang papa itu disambut istrinya di ruang depan rumah mereka. Wajah istrinya sedikit tegang.
“Kenapa ma?”
“Teman mama pa, yang di BMG itu inget gak?”
“Joko?”
“Iya, dia bilang curah hujan beberapa hari ini akan tinggi.”
“Bukannya tiap tahun juga gitu ma? disini kan udah biasa banjir juga.”
“Banjir mending pa, masalahnya kalau hujan makin deres otomatis debit air Situ Gintung makin tinggi juga. Mama takut kalau airnya luber gimana? sekarang aja angin sama hujan es tuh…”
Hari tertawa memandang wajah istrinya yang makin tegang itu.
“Ma, yang bangun Situ Gintung itu Belanda, Belanda itu terkenal dengan damnya, tau kenapa? karena daerah mereka lebih rendah daripada laut. Mereka yang bendung laut aja selamet berabad-abad, si mama kok malah khawatir sama airnya Situ Gintung?”
“Pa, pamali.” wajah sang istri makin merah “Jangan mendahului kuasa Tuhan ah, kalau Tuhan mau semua bisa aja terjadi.”
“Maaf ma, papa kan cuma mau mama tenang, besok kita kan mau liburan jadi mama jangan tegang gitu dong. Jangan mikir yang macem-macem.”
“Iya ya pa, aduh…akhir-akhir ini mama gak enak ati. Semoga aja kata papa bener ya?”
“Amin. Harus bener dong. Tuhan itu sayang sama umatnya”
“Puji Tuhan, semoga.”
Lalu mereka berdua beriringan memasuki rumah, membantu si kecil menyiapkan bekal lainnya.

23:30

Malam makin larut saat Bonar memasuki gang menuju rumahnya, di ujung sana sekelompok pria dan wanita sedang bergerombol. Bonar berdzikir dalam hati. Langkahnya semakin dekat dengan rumah, saat aroma miyak wangi murahan menyergap hidungnya, di depannya seorang wanita berpakaian mini menghadangnya.
“20.000 aja murah…” bisik wanita itu manja sambil menghembuskan asap putih ke udara.
Bonar menggeleng cepat,
“Saya udah nikah mbak, makasih.” Ujarnya cepat dan sedikit berbohong sambil setengah berlari menuju rumahnya. Sesampainya di dalam ia langsung mengunci pintu dan manghela nafas panjang. Sebelumnya ia tidak pernah pulang selarut ini, hari ini ia harus mengerjakan pekerjaan yang harusnya ia selesai kemarin. Karena kemarin libur ia terpaksa lembur hari ini. Bonar langsung menuju kamar mandi. Setelah mandi ia langsung menggelar sajadah, tadi di kantor ia tidak sempat shalat isya’, walaupun badannya agak lelah ia mengharuskan diri untuk shalat. Ia takut saat ia tidur nanti Izrail mencabut nyawanya padahal dia belum shalat isya’. Bonar ingin mati dalam keadaan husnul khotimah. Sekalipun sebenarnya ia tidak mau mati dulu. Ia masih punya tanggungan seorang Ibu dan adik perempuan di Makasar. Ia berjanji akan pulang lebaran ini, Karena sejak 10 tahun lalu ia pergi merantau ia tidak pernah pulang seharipun. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan membawa pulang banyak uang, dan membawa ibunya ke Baitullah. Tahun ini tabungannya sudah lebih dari cukup. Semua hutangnya sudah lunas, bahkan ia sudah memiliki rumah kecil disini. Ia tersenyum membayangkan Ibu dan adiknya tersenyum menyambut kedatangannya. Senyum yang ia rindukan 10 tahun terakhir ini.

28 Maret 2009
03:00

Pak Budi sedang larut dalam ibadah sepertiga malamya di masjid. Ayat demi ayat Al-Qur’an ia lantunkan di setiap raka’atnya. Air matanya tak jarang menyembul keluar setiap ia melantunkan ayat-ayat tertentu. Saat sujud raka’at terakhir ia sengaja melamakan sujudnya. Memohon ampunan, meminta agar hidupnya semakin diberkahi oleh amalan dan rezeki yang halal dan do’a-do’a lainnya, termasuk do’a untuk istri tercinta yang telah lama meninggal.
Pak Budi sedang berdzikir saat ia baru menyadari Bonar sedang membaca Al Quran di pojok masjid. Ia tersenyum saat Bonar melafalkan hamdalah dan mengembalikan Al Quran tua itu ke tempatnya semula. Pemuda itu menghampiri pak Budi dan mencium tangan lelaki tua itu takzim.
“Jadi pulang Nar ke Makasar?”
Bonar mengangguk.
“Iya pak Haji, saya udah lama nggak ketemu Ibu.”
“Bagus, anak berbakti memang harus begitu. Nggak lupa sama orang tuanya, apalagi Ibu yang telah melahirkan kita.”
“Iya pak haji”
“Jam Berapa Nar?”
“3.45 pak.” Ujar Bonar setelah melirik G-Shock nya.
“Bapak ke atas dulu ya, bebenah karpet ntar kan jum’atan”
“Iya pak saya juga mau jogging bentar ke ujung gang, bentar kok cuma 10 menit mungkin”
“Ya udah, ati-ati”
“Beres pak Haji”
Dua orang laki-laki beda generasi itu bersama-sama keluar masjid dan berpisah di teras, Pak Budi menaiki tangga ke lan
tai 2, Bonar terus menuruni tangga keluar masjid.

04:00

Gemuruh air mengusik beberapa hewan malam yang kelelahan di atas pohon. Mata mereka menelanjangi sekitarnya, mereka sedang menyaksikan satu lagi peristiwa bukti kekuasaan tuhan. Dari arah perkampungan terdengar jerit-jerit minta tolong, Subuh yang biasanya tenang itu menjadi ramai. Puluhan kepala timbul tenggelam mengikuti arus air yang mendadak ganas. Retakan lain mengikuti retakan pertama seolah mereka tak lagi mampu menahan beban air yang menerjang tembok berumur puluhan tahun itu. Situ Gintung meluapkan airnya, membuat aliran baru ke segala penjuru, menerjang tembok dan atap-atap mungil, beberapa kaca pecah, kayu-kayu betebaran. Arus membawa beberapa orang pada maut yang lain, pecahan kaca, tembok, dan kayu-kayu berpaku. Jeritan minta tolong dan takbir menggema di setiap sudut. Tuhan telah memanggil umatnya dengan caranya, karena adzan tak lagi mampu membangunkan setiap muslim dari tidurnya untuk sekedar mengucapkan rasa syukurnya dengan beribadah shalat. Tuhan menunjukkan kuasanya subuh ini. Situ Gintung jebol, dan mimpi buruk itu menyergap setiap manusia dari tidur lelap mereka. Mimpi buruk di pagi buta.

08:30

Puluhan orang masih mencari-cari jasad korban bencana di setiap sudut, sekelompok pasukan berseragam membantu mereka. beberapa pohon setengah tumbang di potong agar tidak membahayakan. Seperti mengais sampah mereka menyingkirkan lumpur dan bongkahan-bongkahan yang dulunya tembok rumah itu, beberapa tangisan masih menyapa para sukarelawan ini. Tsunami kecil. Kata beberapa saksi mata. Air menggenang cepat dan menerjang perkampungan di sekitarnya. Semua penduduk masih dibuai mimpi saat ini terjadi. Seorang Ibu menangisi puing-puing rumahnya. Ini bukan banjir biasa. katanya. Ini lebih seperti banjir bandang. Puluhan reporter dan jurnalis berlomba-lomba menulis dan menyiarkan peristiwa ini. Beberapa van televisi berjejer dan menaikkan satelitnya masing-masing. Setiap reporter berusaha setenang mungkin memberitakan kejadian yang mereka lihat dan menyiarkan secara langsung. Setiap dari mereka seperti ingin mengatakan. Bencana itu datang lagi.

09:50

Cireundeu Permai
Hari menatap avanzanya yang bertengger di pagar dengan hati miris. Di bawah kakinya lumpur setebal 15cm menutupi lantai parqueet teras rumahnya. Matanya tak berhenti menatap keluar rumah, mulutnya menggumamkan do’a tak putus-putus. Beberapa tentara membantu saudara-saudaranya merobohkan pagar tembok rumahnya, berusaha mengembalikan avanza itu ke tanah. Hari masih shock, Berta istrinya tak berhenti menenangkannya dengan menggumamkan beberapa ayat dari alkitab. Kedua anak kembar mereka telah diungsikan oleh paman mereka ke Bogor sejam yang lalu, Hari terlalu terguncang untuk mengantar anak-anak itu. Ia terus membayangkan, seandainya lantai satu rumahnya sedang tidak direnovasi, seandainya Lana dan Lena tidur di kamar mereka yang dekat dengan garasi, seandainya ia tidak terbangun karena menyiapkan tiket dan uang, seandainya. Hari bergidik, ia lebih senang melihat avanzanya yang bertengger di pagar bukan Lana dan Lena. Hari tersentak, ia menangis begitu menyadari avanza itu belum lunas pembayarannya. Ia bergetar. Berta menatap kasihan pada suaminya. Harta memang kadang tidak membawa kebahagiaan pada pemiliknya. Ia tertegun sambil tetap membisikkan ayat-ayat suci injil. Ampuni kami tuhan….

Kampung Poncol
“Satu lagi, satu lagi” teriak seorang petugas dari Lions Club, beberapa petugas lain segera memasang alat bantu pernafasan pada sang korban.
“Ada lumpur di tenggorokannya” teriak seorang petugas berjilbab, yang lain menekan dada korban berusaha mengeluarkan lumpur.
“Oksigen…”
“Dadanya,”
“Belum, nadinya makin lemah”
“Bagaimana?”
“Makin lemah…5..4..3..2..1..terlambat, nadinya berhenti.”
“Coba lagi…”
Beberapa petugas kembali menekan dada korban.
“Nihil, gagal!”
Seorang petugas berbadan tegap menggeleng lemah, petugas wanita yang lain mengangguk tak kalah lemah, matanya mengapung butiran kaca. Satu lagi, batinnya.
“Ada yang kenal korban?” teriak petugas berpostur tinggi.
“Saya…”
Seorang lelaki memakai koko yang dulunya putih itu terlihat keluar dari kerumunan. Beberapa orang memandangnya sedih.
“Anda siapa korban?”
“Dia anak rantau, saya tetangga sebelah rumahnya. Saya merasa bertanggung jawab pada anak ini”
“Siapa nama korban pak?”
“Bonar.”
Pak Budi mengusap sudut matanya yang basah.

11:00

Asih tak melepaskan pandangannya pada layar televisi, Tangannya meremas sapu tangan buatan neneknya. Matanya sedikit basah. Sebuah tayangan berita membuat ia kaget pagi ini. Ia dan ibunya tak berhenti mengucapkan syukur. Seandainya mereka berdua tidak mengantarkan pesanan ke Depok dan seandainya neneknya tidak meminta mereka menginap saat mereka mampir di perjalanan pulang, mungkin mereka tida bernafas lagi sampai detik ini. Mereka masih juga mengucap syukur saat gambar televisi menunjukkan sebuah masjid hijau berdiri tegak sedangkan rumah-rumah di sekitarnya roboh. Ia menangis sesenggukan. Sebuah atap menyembul dari air. Atap coklat. Itu rumahnya. Semua hancur, cuma menyisakan beberapa genting. Ia menangis. Dan Sang Ibu pun memeluknya. Kedua anak ibu itu bertangisan, antara tangis syukur karena mereka selamat dan tangisan sedih karena rumah peninggalan bapak dan suami mereka lenyap.

12:00

“Pemirsa, berita pertama kali ini kami siarkan langsung tentang perkembangan terakhir bencana Situ Gintung. Sampai saat berita ini diturunkan tercatat ratusan rumah hancur diterjang air, ratusan luka-luka dan puluhan orang tewas. Siang tadi Wakil presiden Jusuf Kalla langsung meninjau ke lokasi bencana. Menurut saksi, air mulai menerjang pukul 4 dan video amatir menunjukkan, bahkan setelah 2 jam air menghancurkan bendungan, air masih mengalir deras. Menurut laporan debit air Situ Ginting meninggi karena hujan pada hari sebelumnya, bahkan beberapa sumber menyebutkan pintu air tidak dibuka untuk mencegah meluapnya air ke pemukiman penduduk. Bencana terjadi lagi, dan setelah ini peringatan apa yang akan kita terima untuk mengingatkan kita sehingga kejadian serupa tidak terjadi lagi. Berikut laporan langsung oleh rekan saya dari tempat kejadian…….”

(Note: Semua tokoh di atas hanya tokoh fiksi. Beberapa peristiwa di tulis berdasarkan berita dan artikel terkait tentang bencana Situ Gintung.)

Advertisements

Fatwa Haram Golput. Ouch….

Dalam Ijtima’ ulama MUI ke III se Indonesia yang diselenggarkan 23-26 Januari 2009 lalu, membuahkan beberapa keputusan diantaranya mengharamkan golput dalam Pemilu.
Ouch…
That sounds bad for me.
Sejak mendapatkan kartu pemilih pertama saya tahun 2008 lalu, yaitu saat PILKADA Jatim sekaligus PILWALI Malang saya sudah membuat keputusan tidak akan memilih siapapun. Alasannya karena saya percaya siapapun yang saya pilih Jawa Timur akan tetap seperti ini, “Dolly” (nama lokalisasi terbesar di Jawa Timur)  tetap beroperasi, anak-anak tetap nggak bisa sekolah, pertanian merana dan Malang tetap menjadi kota beranjak metropolitan yang melakukan pembangunan dengan merusak beberapa situs sejarah seperti rumah-rumah loji di Jl. Veteran yang sekarang jadi pusat perbelanjaan (walaupun sebenarnya saya juga masih belanja di sana sih, hehe). Mungkin bukan cuma saya, tapi banyak orang di luar sana juga berfikir kalau pemerintahan saat ini tidak amanah. Ya, kami kehilangan kepercayaan, bahkan di waktu pertama kali saya terdaftar sebagai pemilih. Salah siapa kalau saya memilih jadi golput?

Dari awal saya mengenal pemilihan langsung di tahun 2004 lalu saya memang sudah skeptis, menurut saya orang-orang Indonesia saat itu belum siap melakukan pemilihan presiden langsung. Seperti teman saya dan beberapa Ibu yang memilih salah satu calon presiden saat itu yang tiba-tiba jadi sangat populer, ketika saya tanya alasan mereka memilih jawabannya membuat saya nyengir kuda,
“Karena ganteng van, kapan lagi punya presiden cakep….” katanya sambil senyum-senyum dengan mata berbinar-binar.
Ironis memang, nasib suatu bangsa yang sedang bangkit setelah keterpurukan ekonomi tahun 1998 diserahkan pada seseorang yang kata mereka ganteng itu. Sekarang setelah hampir 5 tahun masa pemerintahan, saya cuma membatin “Makan tu ganteng?” Karena ternyata, wajah nggak menjamin kemakmuran.

Rumput tetangga memang lebih hijau daripada rumput di rumah sendiri. Coba kita lihat Obama, Mari kita tanya alasan para pemilih di Amerika saat memilih Obama. Kebetulan native speaker di kampus saya adalah seorang Amerika dan jawabannya,
” I think Obama is liberal enough…”
(kebetulan native speaker ini adalah seorang yang menolak diskriminasi segala hal termasuk transeksual)
Lainnya adalah pendapat dari Oprah Winfrey tentang alasannya memilih Obama,
“With Obama, change we can.”

See,
Pemerintah yang bangsa ini perlukan adalah seseorang yang berjuang dari bawah dulu. Karena saya nggak butuh orang dengan janji muluk-muluk sampai mulut berbusa, atau seseorang yang bisanya menurunkan harga BBM berkali-kali dan mengklaimnya sebagai hasil karyanya, padahal seluruh dunia juga tahu bahwa harga minyak dunia turun, dan karena itu BBM turun. Saya memang agak emosi saat menulis ini. Semuanya cuma atas kepentingan ‘Bapak’, bukan kepentingan kami.

Kembali ke golput. Saya masih dalam proses berfikir kini, semoga in the last minute I can find the one. Seseorang yang menurut saya tepat. Lalu, saya nggak golput lagi? Maybe yes, maybe not. Ya itu tadi, saya masih berfikir, doakan saja sebelum April, pada suatu malam saya bermimpi dan mimpi itu membuat saya pergi ke TPS lalu mencontreng wajah seseorang. Tidak peduli orang itu ganteng, cantik, hitam, pendek atau tinggi. Yang penting ketika saya mencontreng wajahnya saya yakin this is the one.

Tapi kalau sampai lima tahun kedepan pemerintahan orang yang saya pilih keadaannya tambah parah, saya mau tobat.
Saya mau kembali ke keyakinan saya sebelumnya, menjadi golput yang setia.

Selayang Pandang, Majapahit : Sebuah Kejayaan Masa Lalu

Tulisan ini di tulis karena keprihatinan saya atas kasus pembangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit) di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur dan kecintaan saya pada sejarah.

Majapahit adalah sebuah kerajaan besar yang beribukota di Jawa, Negara ini sempat menjadi negara terbesar
di Nusantara. Majapahit juga merupakan salah satu negara yang paling disegani di kancah internasional saat itu,
bahkan menurut beberapa sumber wilayahnya mencakup hingga seluruh nusantara. Majapahit juga memiliki
hubungan diplomatik yang baik dengan beberapa negara asing seperti Cina, Ayodya (Siam), Champa, dan Kamboja. Bahkan Raja-raja Majapahit sering mengirim utusannya ke Cina pada masa Dinasti Ming.

Sejarah Majapahit dimulai pada tahun 1292 M, dengan Raja Pertamanya Raden Wijaya. Raden Wijaya merupakan menantu dari Raja Kertanegara (Raja Singhasari terakhir). Pada tahun 1291 M kerajaan Singhasari diserang oleh Jayakatwang dari kerajaan Kediri. Pada saat itu Raden Wijaya berhasil melarikan diri ke Madura. Setelah mendapatkan pengampunan dari Jayakatwang atas bantuan Arya Wiraja, Raden wijaya juga diberikan sebidang tanah di daerah Tarik.
Di atas tanah ini ia membangun kerjaannya sendiri dan diam-diam menyusun kekuatan. Kedatangan Cina-Mongol dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang dan berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri. Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya balik menyerang Cina-Mongol. Dengan lenyapnya Cina-Mongol dari tanah jawa,
maka tinggal satu kekuatan di tanah jawa yaitu Majapahit. Sebagai Raja pertama Majapahit Raden Wijaya bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.

Pada awal pemerintahan sempat terjadi pemberontakan Sora, Ranggalawe, dan Nambi. Setelah Raden Wijaya wafat kursi
Kerajaan sempat diduduki beberapa Raja bahkan Ratu. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu Majpahit sudah mengenal kesetaraan Gender sehingga ketika tidak ada pewaris mereka menunjuk Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai Raja ketiga setelah Jayanegara. Majapahit juga memiliki masa keemasannya, yaitu ketika diperintah Raja Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan keturunan Ratu Tribhuwana Tunggadewi dengan Cakradhara (Kertawardhana). Dalam pemerintahannya Hayam Wuruk memiliki patih yang merupakan tiang penting pada masa kerajaan Majapahit saat itu
yaitu patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Hayam Wuruk juga memiliki impian menyatukan nusantara
dalam satu panji Majapahit. Sepeninggal Gajah Mada pada tahun 1364 M, Hayam Wuruk kehilangan pegangan, dan Majapahitpun memiliki masa-masa sulitnya.

Masa kemunduran Majapahit ditandai dengan meletusnya perang Paregreg (perang saudara) yang merupakan perebutan kursi kerajaan antara Wirabhumi dan Suhita. Selain itu tidak ditemukan lagi seorang Patih yang secakap Gajah Mada. Faktor lain adalah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang mengancam keberadaan Majapahit.

Majapahit dikenal dengan kebudayaanya yang tinggi pada masa itu, beberapa Candi sempat dibangun. Seperti candi Penataran, Tikus, Sawentar, Sumberjati, dan beberapa bangunan yang dapat kita lihat di Trowulan saat ini, termasuk
sebuah gapura yang diduga sebagai gerbang kediaman patih Gajah Mada. Beberapa kitab yang ditulis sastrawan-sastrawan Majapahit juga terkenal sampai kini, seperti Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca, bahakan semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika diambil dari salah satu halaman kitab ini.

Majapahit kini memang tinggal puing. Bahkan beberapa artefak dan benda peninggalan sejarah lainnya sudah berpindah
tangan ke Negara lain. Pembangunan PIM merupakan kesalahan besar pemerintah kita, keinginan untuk merelokasi reruntuhan ibu kota Majapahit di Trowulan memang mulia, tapi dalam proses pembangunannya justru merusak peninggalan
bersejarah yang masih terpendam. Majapahit belum ‘terlahir’ kembali, penggalian belum usai, dan masih banyak misteri yang terkubur di perut Trowulan. Seharusnya yang kita lakukan adalah menjaga semua itu, bukan malah merusaknya atas nama
perlindungan. Sebuah Bangsa bisa besar karena memiliki sejarah yang hebat, tapi jika sejarah cuma dijadikan komoditi politik atau komersial, bangsa yang bagaimanakah kita ini?

Bisakah kita mulai berkaca pada sejarah?

NB: Sebagian tulisan disadur dari “Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk SMU kelas I” karangan I Wayan Badrika
Terima kasih untuk guru-guru sejarah saya.
Terima kasih untuk perasaan sayang pada sejarah Indonesia ini.