Romantisnya Cinta

Cinta terdiri dari 5 kata yang berkomposisi 3 huruf mati dan 2 huruf hidup. Ada yang bilang cinta itu tak terdefinisi, karena semakin didefinisikan, semakin sempit pula arti cinta itu. Cinta dalam hemat saya adalah perasaan saling menyayangi antar sesama mahluk hidup. Itu sekarang. Dulu, waktu umur saya masih berkepala satu, saya selalu menganggap cinta itu seperti dongeng kerajaan yang sering saya lihat di televisi atau saya baca di buku. Cinta antara dua anak manusia lain jenis, yang berakhir dengan pernikahan. Happily ever after.

Cinta ternyata tak sesederhana itu. Cinta kata orang, adalah bentuk pengorbanan yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai. tak peduli betapa sakitnya kita. Cinta juga katanya tak harus memilki, karena itulah cinta sejati. Saya jadi berfikir, apa iya cinta kalau akhirnya kita rugi. Karena cinta yang seperti itu beda dengan cinta yang saya kenal dari dongeng-dongeng yang pernah saya dengar. Bicara cinta memang nggak ada ujung pangkalnya, sama seperti udara, bisa dirasakan tapi tak tersentuh dan tak terlihat.

Saya bicara seperti ini bukan berarti saya tidak pernah merasakan cinta. Saya manusia, dan saya normal. Perasaan itu pasti pernah bahkan sering saya rasakan. Tapi cinta yang saya rasakan masih dalam level rendah, karena cinta saya timbul dari mata turun ke hati atau singkatnya saya mencintai seseorang karena tampangnya atau fisiknya. Saya pernah mencoba untuk jatuh cinta pada seseorang yang berwajah pas-pas an. Yang dia punya adalah otak yang pintar dan sholeh. Tapi tetap saja saya masih mempertimbangkan fisiknya yang tidak terlalu tinggi dan berkulit gelap itu. Walaupun fisik saya juga nggak terlalu indah tapi saya nggak munafik kalau saya menginginkan bapak dari anak-anak saya nanti adalah seseorang dengan paket komplit. Tampan, pintar, sholeh dan kaya. Tujuannya ya memperbaiki keturunan dan memperbaiki taraf hidup. Tapi keinginan memang cuma harapan yang semu. Karena bagaimanapun, takdir yang bebicara walau sekeras apapun usaha kita. Saya sadari itu. Tapi untuk saat ini saya masih belum “tobat” mencari suami sesempurna itu.

Cinta memang punya penafsiran berbeda dari setiap orang. Tapi tetap saja bagi saya cinta adalh sebuah kefitrahan. Sebuah sunatullah yang datang dan perginya tak teraba, tak terkira. Tingkat cinta seseorang pun berbeda, yang paling rendah adalah cinta yang berbatas tipis dengan nafsu, yang paling tinggi tentu cinta pada sang Khaliq seperti cinta butanya Rabi’ah al Addawiyah.

Sekarang adalah tentang bagaimana kita menempatkan rasa cinta kita. Cinta tingkat apakah yang kita rasakan? Apa cinta yang masih masuk di akal. Apa cinta yang nyata?

Walau fiksi, ada sebuah kisah cinta yang jadi favorit saya. Yaitu cintanya Azam pada Aya di sinetron Para Pencari Tuhan, cinta yang nggak kekanakan tapi bermakna dalam. Seperti ketika Azam menyatakan rasa cintanya pada Aya yang begitu besar secara eksplisit lewat kata-kata;

” Seandainya syariat membolehkan, maka akan aku gunakan air mata kamu untuk berwudhu”

Nggak gombal dan nggak berlebihan. Itulah romantisnya cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s