Hormat Graak!!

Seperti biasa, setiap jam 4 sore sehabis shalat ashar saya menonton TV untuk menunggu waktu berbuka. Tapi kemarin beda, ngabuburit saya dihiasi sakit kepala dan lemas. Jadi saya cuma bisa terkapar di karpet depan televisi. Hari itu saya sedang melihat berita di RCTI, ada satu berita yang bikin saya melek. Yaitu berita dipecatnya Max Moein oleh BK atas tuduhan pelecehan seksual pada mantan sekretaris pribadinya. Yang lucu adalah saat salah seorang anggota BK membacakan keputusan,
” Telah diputuskan bahwa yang terhormat Max Moein dinon aktifkan…..”
Apa yang lucu?
Silahkan dibaca lagi.

Lucunya adalah, seseorang yang telah mencoreng nama baik DPR dan norma yang berlaku di indonesia masih saja dipanggil “yang terhormat”. Padahal apa yang telah dia lakukan benar-benar nggak terhormat. Saya jadi berfikir, sebenarnya apa sih arti kata hormat sebenarnya. Dan apakah yang seperti itu masih dianggap terhormat.

Saat SD, saya diajari untuk saling menghormati antar sesama manusia. Karena otak saya terlalu kecil, saya selalu mengkonotasikan kata menghormati itu dengan menghormati bendera saat upacara setiap hari senin. Untungnya saat itu saya tidak menghormat kepada setiap orang yang saya temui di jalan.

Sore itu kepala saya tambah pusing karena memikirkan arti kata hormat sebenarnya.

First Day a.k.a Thirst Day

Hari ini hari pertama masuk kuliah. Puasa pertama juga, karena si “Bulan” datang tepat dihari pertama puasa. Mata kuliah yang menyambut saya adalah mata kuliah cross culture understanding. Dosen yang seharusnya mengajar ternyata digantikan seorang wanita dari Amerika, Ms. Kendra Staley. Miss yang asli Elsworth, Kansas ini cukup bikin saya deg-deg an plus mati gaya. Sudah 3 semester tidak merasakan “sentuhan” seorang native speaker bikin saya menjadi sedikit shock.

Intinya hari ini saya belum siap menghadapi perkuliahan setelah liburan yang menurut saya terlalu panjang ini. Saat liburan saya sempat dibuat stres dengan deadline saya untuk diri saya sendiri yaitu bekerja. Sebenarnya saya sudah lama mencari pekerjaan part time untuk mengisi waktu saya yang terlalu luang ini, tapi sampai sekarang deadline itu tak pernah terpenuhi.

Melihat seorang Kendra Staley pagi ini membuat saya sedikit terinspirasi. Seorang wanita lajang, berumur 26 tahun tapi sudah melanglang buana ke seluruh dunia menjadi seorang native speaker, sebuah pengalaman mahal bagi saya. Saya jadi membayangkan seandainya bahasa indonesia termasuk bahasa internasional apakah saya bisa menjadi seorang Kendra? Melihat Kendra, saya menjadi ingat pada beberapa native speaker yang pernah mengajari saya. Mereka adalah seorang asing di negara kita, tapi kecintaan mereka pada budaya Indonesia melebihi kecintaan kita. Dan walau mereka lama meninggalkan negara asal mereka, mereka tidak begitu saja melupakan kebudayaan negaranya.

Hari pertama kuliah saya memang sedikit menjemukan dan melelahkan. Tapi hal itu tak lantas membuat saya tak memperhatikan setiap mata kuliah yang saya dapatkan.

Saya jadi sangat haus hari ini, Pertama karena memang saya sedang berpuasa ditambah cuaca yang panas. Kedua, karena hari ini saya menemukan sesuatu. Yaitu cita-cita yang saya yang sempat hilang beberapa semester ini. Saya haus menjadi seseorang yang sukses. Sukses akhirat dan dunia. Dan yang saya butuhkan adalah semangat. Semangat yang sempat saya rasakan 5 tahun lalu.

Romantisnya Cinta

Cinta terdiri dari 5 kata yang berkomposisi 3 huruf mati dan 2 huruf hidup. Ada yang bilang cinta itu tak terdefinisi, karena semakin didefinisikan, semakin sempit pula arti cinta itu. Cinta dalam hemat saya adalah perasaan saling menyayangi antar sesama mahluk hidup. Itu sekarang. Dulu, waktu umur saya masih berkepala satu, saya selalu menganggap cinta itu seperti dongeng kerajaan yang sering saya lihat di televisi atau saya baca di buku. Cinta antara dua anak manusia lain jenis, yang berakhir dengan pernikahan. Happily ever after.

Cinta ternyata tak sesederhana itu. Cinta kata orang, adalah bentuk pengorbanan yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai. tak peduli betapa sakitnya kita. Cinta juga katanya tak harus memilki, karena itulah cinta sejati. Saya jadi berfikir, apa iya cinta kalau akhirnya kita rugi. Karena cinta yang seperti itu beda dengan cinta yang saya kenal dari dongeng-dongeng yang pernah saya dengar. Bicara cinta memang nggak ada ujung pangkalnya, sama seperti udara, bisa dirasakan tapi tak tersentuh dan tak terlihat.

Saya bicara seperti ini bukan berarti saya tidak pernah merasakan cinta. Saya manusia, dan saya normal. Perasaan itu pasti pernah bahkan sering saya rasakan. Tapi cinta yang saya rasakan masih dalam level rendah, karena cinta saya timbul dari mata turun ke hati atau singkatnya saya mencintai seseorang karena tampangnya atau fisiknya. Saya pernah mencoba untuk jatuh cinta pada seseorang yang berwajah pas-pas an. Yang dia punya adalah otak yang pintar dan sholeh. Tapi tetap saja saya masih mempertimbangkan fisiknya yang tidak terlalu tinggi dan berkulit gelap itu. Walaupun fisik saya juga nggak terlalu indah tapi saya nggak munafik kalau saya menginginkan bapak dari anak-anak saya nanti adalah seseorang dengan paket komplit. Tampan, pintar, sholeh dan kaya. Tujuannya ya memperbaiki keturunan dan memperbaiki taraf hidup. Tapi keinginan memang cuma harapan yang semu. Karena bagaimanapun, takdir yang bebicara walau sekeras apapun usaha kita. Saya sadari itu. Tapi untuk saat ini saya masih belum “tobat” mencari suami sesempurna itu.

Cinta memang punya penafsiran berbeda dari setiap orang. Tapi tetap saja bagi saya cinta adalh sebuah kefitrahan. Sebuah sunatullah yang datang dan perginya tak teraba, tak terkira. Tingkat cinta seseorang pun berbeda, yang paling rendah adalah cinta yang berbatas tipis dengan nafsu, yang paling tinggi tentu cinta pada sang Khaliq seperti cinta butanya Rabi’ah al Addawiyah.

Sekarang adalah tentang bagaimana kita menempatkan rasa cinta kita. Cinta tingkat apakah yang kita rasakan? Apa cinta yang masih masuk di akal. Apa cinta yang nyata?

Walau fiksi, ada sebuah kisah cinta yang jadi favorit saya. Yaitu cintanya Azam pada Aya di sinetron Para Pencari Tuhan, cinta yang nggak kekanakan tapi bermakna dalam. Seperti ketika Azam menyatakan rasa cintanya pada Aya yang begitu besar secara eksplisit lewat kata-kata;

” Seandainya syariat membolehkan, maka akan aku gunakan air mata kamu untuk berwudhu”

Nggak gombal dan nggak berlebihan. Itulah romantisnya cinta.