Posted in Blog, Review, Uncategorized

Menikmati Cinta di Teluk Asmara yang Rupawan

 

Mereka yang kenal saya pasti paham betul, saya ini anak rumahan banget. Waktu masih sekolah dulu, saya hampir tidak pernah keluar atau jalan bareng teman-teman sebaya seperti kebanyakan anak muda. Selain karena orangtua yang over protective, saya juga gampang mabuk perjalanan. Jadi bayangan harus mengalami mual dan pusing selama traveling sudah membuat saya malas untuk mengatakan “iya” setiap ada teman yang mengajak pergi.

Meskipun sampai sekarang penyakit mabuk perjalanan saya belum sembuh, tetapi kelonggaran izin dari orang tua membuat saya bebas ingin pergi ke mana saja. Berawal dari trip ke Jogja akhir tahun 2016 lalu, saya jadi sering pergi-pergi ke tempat wisata yang sebelumnya hanya bisa saya kagumi saat sedang membaca sumber untuk menulis artikel. Meskipun tempat yang dikunjungi masih di sekitar Pulau Jawa saja, tapi paling tidak bagi anak sekuper saya pengalaman tersebut cukup memperkaya dan menambah warna-warni dalam hidup (eeeaaaaa….).

Nah, sekarang, saya akan menulis tentang pengalaman berlibur di Pantai Bangsong Teluk Asmara yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Untuk pengalaman trip sebelum ke sini mungkin akan saya tulis di lain kesempatan.

Dari pusat kota, pantai cantik ini berjarak sekitar 2 jam perjalanan. Kebetulan pada waktu ke pantai Teluk Asmara, saya pergi bersama teman kerja sesama guru di TK. Kami menggunakan dua mobil dan berangkat dari daerah Langsep di Kota Malang sekitar pukul 7.30 pagi. Jujur, karena pengaruh obat antimabuk ant***, sepanjang perjalanan saya kurang fokus, jadi kalau ditanya pemandangan selama traveling, saya lupa-lupa ingat, hehe…

Kebetulan mobil kami mengambil rute melewati daerah Bululawang, Kabupaten Malang. Karena ngantuk, saya hanya sadar di beberapa tempat, seperti POM Bensin, Rest Area, atau jalan yang berkelok-kelok. Iya, kami juga sempat melewati rute jalanan yang di kanan kirinya terdapat hutan jati dan jalan berkelok-kelok, kalau tidak salah daerah setelah Bantur, Kabupaten Malang.

Di sini penyakit saya kumat, meskipun sebelum naik mobil sudah minum obat, tapi karena rute yang dilewati cukup berkelok-kelok saya sempat pusing dan panas dingin. Tapi rasa tidak enak tersebut mulai berkurang ketika kami melewati Jalur Lintas Selatan.

Jalur Lintas Selatan atau JLS merupakan rute baru yang dibuka pemerintah Kabupaten Malang beberapa tahun silam. Pembukaan jalan ini bertujuan untuk memberikan kemudahan akses bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi pantai-pantai di Malang Selatan. Sebelumnya, daerah ini hanya dikenal memiliki Pantai Sendang Biru dan Balekambang.

Tapi sejak ada JLS, banyak orang yang baru tahu bahwa Malang memiliki pantai yang tidak kalah indah dengan pantai di daerah Indonesia Timur, termasuk saya. Inilah mengapa begitu mobil yang ditumpangi masuk JLS, di sebelah kanan jalan kita akan melihat banyak papan penunjuk menuju berbagai pantai. Kami juga sempat melewati sebuah pantai yang lautnya biru.

Buat anak kuper yang bukan anak pantai kayak saya, melihat pantai sebiru itu merupakan hal baru. Apalagi begitu kami masuk ke kawasan Pantai Bangsong Teluk Asmara. Setelah memarkir mobil dan menaiki tanjakan sepanjang 20 m, kami disuguhi pemandangan pantai cantik dengan pulau karang yang menyebar di sekitarnya. Tidak heran jika tempat ini mendapat julukan Raja Ampat-nya Malang.

IMG-20180717-WA0001
Source: Dokumen Pribadi

Dalam hati saya enggak berhenti bertasbih dan langsung lupa dengan drama mabuk di mobil sebelumnya. Angin pantai yang sejuk membuat langkah saya makin ringan meskipun medan menuju ke pantai cukup naik turun. Air biru kehijau-hijauannya juga membuat saya enggak berhenti memandang pantai yang kebetulan sudah ramai dengan pengunjung tersebut.

Kami sampai di pantai sekitar jam 10 siang, karena sepanjang perjalanan sempat berhenti di beberapa tempat. Setelah menggelar tikar, pandangan saya masih tetap terpaku ke pantai. Pikiran saya cuma satu, pantai sebagus ini, ada di Malang, dan saya baru tahu, betapa meruginya, hehe…

Untuk masuk ke kawasan Teluk Asmara, kami sempat ditarik uang tiket sekitar Rp10.000 per orang, setelah ditawar, kami ber-12 akhirnya hanya membayar sekitar Rp100.000 saja. Sedangkan untuk parkir mobil, pengelola mengenakan biaya sekitar Rp15.000 per kendaraan. Kalau biaya parkir sepeda motor, mungkin lebih murah daripada ini.

IMG20180705115420
Source: Dokumen Pribadi
IMG20180705115818
Source: Dokumen Pribadi

Serunya, di Teluk Asmara pengunjung bebas bermain air laut dan berenang. Meskipun berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, ombak di Teluk Asmara termasuk tenang. Pulau karang kecil yang menyebar di sekitar teluk, membuat ombak yang mendarat di pantai tidak setinggi dan seganas kebanyakan pantai di bagian selatan Jawa. Keunggulan lain pantai ini adalah pasirnya yang putih lembut.

Tempat ini memiliki 3 pantai yang dipisahkan bukit karang, semakin ke Utara, pengunjung yang berenang semakin sedikit. Tapi soal keindahan, jangan ditanya. Tidak heran jika bagian lain pantai sering dijadikan tempat ber-camping karena kesunyian dan keindahan alamnya yang menawan.

Pantai ini disebut Teluk Asmara karena jika dilihat dari atas, kontur bukit kapur dan karang di sekitar pantai membentuk hati. Jadi tidak ada mitos atau legenda apapun yang menyelimuti tempat cantik ini. Soal spot foto, jangan khawatir. Hampir semua sudut pantai instagramable banget. Bahkan pengelola setempat meletakkan sebuah panggung dengan monumen bentuk hati yang bisa digunakan sebagai properti foto pengunjung.

Meskipun baru dibuka secara resmi pada April 2017 lalu, tetapi tempat ini memiliki fasilitas yang memadai. Mulai kamar mandi, toilet, Musala, hingga warung makan bisa ditemukan dengan mudah. Hanya satu kesan saya tentang pantai ini, indah. Karena di sini saya bisa merasakan betul betapa Tuhan mencintai umatnya dengan meninggalkan cuilan surga untuk dinikmati selama di dunia.

IMG20180705122914
Source: Dokumen Pribadi
IMG20180705120515
Source: Dokumen Pribadi

Jujur, saya mau berkali-kali lagi ke sini dan ke pantai lain di Jalur Lintas Selatan yang katanya juga tidak kalah indah dengan Teluk Asmara seperti Batu Bengkung, Banyu Anjlok, dan Tiga Warna. Applause keras-keras untuk pemerintah Kabupaten Malang karena sudah membangun JLS.  Semoga suatu saat nanti, Kabupaten Malang menjadi salah satu destinasi populer wisatawan dalam dan luar negeri hingga namanya mendunia, aamiin.

Finally, senangnya bisa punya konten untuk di­­-post, hehe … Untuk trip lainnya pasti akan saya bagi juga, Semoga bermanfaat, jangan lupa follow dan comment ya Folks… 🙂

Advertisements
Posted in Blog, Uncategorized

Jadi Penulis Tanpa Buku? Kenapa Enggak?

Setelah vakum sekitar dua tahun lebih, akhirnya saya punya kesempatan untuk update blog yang mulai lumutan ini. Penyebab utamanya sih males, selain itu beberapa tahun belakangan saya mulai jadi penulis komersial. Artinya, saya baru nulis kalau ada yang bayar, hehe … Inilah kenapa, di postingan kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang menjadi penulis meskipun kita belum punya buku. Memang bisa? Zaman now gitu, apa yang tidak mungkin kan?

Lalu, bagaimana caranya?

Semua orang yang kenal saya pasti tahu, bahwa dari dulu impian utama saya adalah menjadi penulis. Meskipun hal tersebut tidak didukung prestasi (saya jarang menang lomba menulis), tapi bukan berarti impian tersebut harus saya abaikan. Jadi selama bertahun-tahun saya rajin nulis yang tidak komersial, seperti nulis di blog, atau mengetik puisi dan cerpen random di laptop. Sayang semuanya hanya jadi konsumsi pribadi, yang nulis saya, yang baca dan kritik juga saya, hehe…

Nah sekitar akhir tahun 2015, saya dapat kesempatan untuk jadi penulis setelah browsing dan mengembara di internet. Waktu itu saya gabut dan ingin menyalurkan bakat strolling di dunia maya seharian ke hal yang lebih bermanfaat. Kesempatan tersebut datang dari Kontenesia. Kebetulan situs penulis artikel online tersebut sedang mencari penulis. Berawal dari iseng, saya pun mendaftar.

Padahal waktu itu saya sama sekali enggak punya dasar ilmu menulis artikel konten. Modal saya cuma hobi nge-blog dan menulis puisi enggak jelas, hehe … Selang beberapa bulan kemudian, saya dapat email yang isinya kesempatan untuk mengikutis tes penulis lanjutan, and the rest was history.

Saya akhirnya jadi penulis konten di Kontenesia. Meskipun begitu, perjuangan ternyata masih berlanjut, Menjadi penulis konten ternyata bukan hal yang mudah. Di Kontenesia, setiap artikel konten yang ditulis harus sesuai dengan EYD, cocok untuk dibaca pengguna internet, dan mengandung SEO supaya mudah dideteksi Google.

Meskipun sudah hobi nulis dari masa Majapahit, ternyata enggak menjamin tulisan saya punya kualitas seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Malah awal-awal jadi penulis konten, saya sering dapat feedback buruk tentang tulisan. Alhamdulillah-nya, karena hal tersebut semua tulisan saya sekarang enggak jelek-jelek banget. EYD sudah mulai sesuai, konten yang dibuat pun readable dan SEO. Jadi cocok untuk dijadikan konten website atau blog.

Perbandingannya mungkin bisa kalian lihat di blog ini, bandingkan saja tulisan-tulisan saya sebelum ini dengan yang sedang kalian baca. Beda banget pastinya, kalau dulu satu paragraf bisa berbaris-baris isinya, sekarang hanya beberapa. Artikel konten memang harus begitu, karena kebanyakan pembaca mengakses lewat smartphone atau laptop, mereka pasti malas lihat tulisan sepanjang kereta.

Jadi, berminat menjadi penulis artikel konten?

Secara prestige sih penulis konten memang kalah mentereng dibandingkan mereka yang sudah punya buku. Karena pada semua tulisan yang dibuat untuk klien tidak tertulis nama pembuatnya malah kadang yang pesan artikel yang menuliskan nama mereka, istilah kerennya ghost writer.

Buat orang lain sih hal tersebut dianggap kerugian (ibu saya lebih tepatnya, hehe…). Percuma nulis banyak tapi enggak ada satupun orang yang mengenal nama kita. Tapi buat saya, berkat hal ini saya malah belajar ilmu ikhlas dan rendah hati. Biarlah nama saya enggak tertulis, yang penting bisa lihat tulisan saya bertengger di halaman pertama Google saja sudah cukup membuat bahagia.

Lagian saya enggak rugi-rugi amat kok, kan dapat honornya … hehe….

Saya juga dapat banyak ilmu baru yang sangat bermanfaat. Meskipun sampai detik ini masih harus banyak belajar, paling tidak bakat (cieee…) menulis saya yang selama ini tidak tersalurkan bisa menghasilkan dan bermanfaat dalam kehidupan. Aamiin.

Untuk buku, setiap penulis pasti ingin memiliki buku dengan nama mereka masing-masing. Saya juga begitu. Tapi daripada galau dan pundung karena merasa bakat menulisnya sia-sia, kita bisa kok menyalurkan aspirasi kita ke hal lain yang tidak kalah menghasilkan.

Selain jadi penulis konten seperti saya, kalian juga bisa membuat konten blog yang menghasilkan dari blog pribadi, atau nulis di Wattpad. Siapa tahu dari begitu banyaknya aktivitas menulis dan pengalaman, saat membuat buku nanti karya kita mudah lolos ke penerbit karena isinya berkualitas.

Jadi, daripada strolling seharian di media sosial dan komen-komen enggak jelas di akun artis dan gosip (pengalaman pribadi … hehe…), mending kita cari kesempatan-kesempatan untuk menyalurkan bakat. Sekarang ada banyak banget kok kompetisi dan lomba menulis yang bisa diikuti, sukur-sukur kalau kita bisa mendapatkan penghasilan dari hobi. Meskipun belum punya buku sendiri, yang penting rezekinya enggak jauh-jauh amat lah dari para penulis buku, aamiin.

Jangan lupa tinggalkan komentar dan follow blog ini ya! (semacam vlogger :D) Kalau kalian ada pengalaman tentang menulis lainnya, boleh lo tulis di bawah. Terima kasih sudah mampir ke blog yang hampir mati ini. Hehe…

PS: Semoga setelah ini blog saya bisa aktif lagi (doa pribadi), aamiin … 🙂

Posted in Blog, Uncategorized

Melawan Lupa

Jumpa lagi…
Jumpa Vani kembali…
ya di sini…
Jumpa Vani kembali…

(dibaca dengan nada lagunya Maisy. Anak tahun 90an pasti tahu banget deh sama Kakak Maisy Ci Luk Ba yang mmmuuuuaaahhh itu, hehe)

Akhir-akhir ini kita pasti sering mendengar kalimat yang saya jadikan judul di atas. Entah itu dalam bentuk meme atau ocehan-ocehan di media sosial. Kalimat di atas sering kita jumpai digunakan untuk mengkritisi kinerja Bapak Presiden dan para pejabat pemerintah kita yang terhormat. Tujuannya untuk mengingatkan pemimpin kita sama janji-janji mereka dulu waktu kampanye, yang agak sedikit dilupakan (sedikit lho ya, gak banyak, Bapak-Bapak itu pasti ingatlah sama janji mereka, hehe). Tapi tulisan saya ini bukan untuk mengkritisi pemerintah kita kok. Tulisan ini untuk mengkritisi saya sendiri, hehe…

Semua orang yang kenal baik sama saya pasti tahu betapa “pelupa” adalah salah satu sifat saya yang banyak merugikan orang dan diri saya sendiri. Dan parahnya, penyakit pikun saya ini nggak serta merta datang waktu umur saya menjelang 30 tahun ini. Dari jaman masih ABG saya sudah mengidap penyakit konyol nan menyebalkan ini. Nah, sesuai dengan judul tulisan saya, akhir-akhir ini saya sedang berusaha menghilangkan imej tukang pikun yang sudah saya sandang selama bertahun-tahun..

Ada beberapa kejadian aneh bin ajaib yang saya alami gara-gara penyakit lupa saya ini. Pernah waktu Aliyah (SMA) saya marah sama teman-teman saya karena menyembunyikan kaca mata saya. Isi tas sudah saya bongkar, laci meja sendiri sampai laci meja teman sebangku sudah saya geledah tapi kaca mata tersebut tidak juga saya temukan. Saya sampai capek sendiri. Sampai akhirnya teman saya bingung kenapa saya marah-marah sambil bongkar-bongkar tas, waktu saya bilang saya lagi cari kacamata, dengan muka bingung dan melongo sambil menunjuk muka saya dia bilang, “Nah, yang kamu pake itu apa?”
Yak benar saudara-saudara. Kacamata yang saya cari-cari itu ternyata dari tadi sudah saya pakai. Kurang absurd apa coba. Separah itu pikun saya. Saya juga pernah cari-cari helm yang sudah saya pakai (iya, saking pikunnya saya nggak kerasa udah pake helm seberat itu), cari kunci yang sudah saya pegang, lupa taruh motor dan naik motor orang di parkiran gara-gara warnanya sama kayak motor saya, sampai saya lupa harus nurunin Ibu saya di mana. Soal nurunin ibu saya ceritanya begini, jadi Ibu saya minta saya untuk mengantar beliau ke kantor Ayah saya karena ada rapat Dharma Wanita, bukannya saya antar ke kantor Ayah, saya malah nurunin Ibu saya di depan sekolah adik saya yang kebetulan ada di samping kantor Ayah, waktu itu saya ingetnya lagi bawa adik saya, bukan Ibu saya. Dan Ibu saya cuma bisa geleng-geleng kepala lihat kelakuan anak gadisnya yang sudah mulai nyicil pikun ini.

ID-1001447831

Menurut berbagai sumber terpercaya (dari Google lebih tepatnya), ada beberapa hal yang membuat seseorang pikun, faktor utamanya umur, bisa juga karena kurang olahraga, kurang asupan gizi untuk otak, stres atau depresi, kurang mengasah otak, kurang tidur, dan mengkonsumsi alkohol dan narkoba.Dalam kasus saya mungkin penyebabnya adalah kurang olahraga, kurang mengasah otak dan stres atau depresi. Walaupun kelihatannya sehat, cerdas dan ceria, saya ini tipe orang yang mudah stres. Kalau sudah kena masalah, daripada menceritakan dan membaginya ke orang lain, saya simpan sendiri masalah itu sampai stres sendiri. Saya juga tipe orang yang super duper malas olahraga, bahkan untuk sekedar jalan kaki ke warung terdekat pun malasnya ampun-ampunan. Kalau soal mengasah otak, jangan ditanya lagi. Saya mending asah pisau daripada asah otak. Hehe..

Mungkin hal-hal tersebut yang menyebabkan penyakit lupa saya tak kunjung menghilang. Sampai-sampai teman saya pernah menyarankan saya untuk mulai minum multivitamin otak untuk mengurangi kadar kepikunan saya. Sebenarnya saya sudah mulai melakukan beberapa hal untuk melawan penyakit lupa ini. Seperti misalnya, saya selalu menyimpan barang-barang di tempatnya masing-masing, sehingga mudah ditemukan. Saya selalu mencatat hal-hal yang akan saya lakukan hari ini, atau barang yang akan saya beli. Saya juga sering latihan menghitung uang tanpa kalkulator, mengingat tanggal-tanggal dan nomor-nomor telepon yang penting tanpa melihat catatan. Setiap pagi saya bangun lebih pagi dari alarm ponsel saya dan mulai menghafal surat-surat pendek di Al Quran.

Sedikit banyak hal-hal tersebut mengurangi kepikunan saya walaupun tidak serta merta melenyapkannya. Kayaknya otak saya bekerja di luar kendali saya, dia memilih apa yang ingin dia ingat dan apa yang ingin dilupakan. Lucunya yang harus diingat malah dilupakan, yang gak seharusnya diingat malah disimpan.. 😀

Kalau menurut berbagai sumber terpercaya (mbah Google lagi), ada beberapa tips agar kita tidak mudah lupa, yaitu:

  • Aktif secara mental.
    Mungkin maksudnya adalah mengasah otak. Seperti membaca buku, mengisi TTS, main catur, membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang membuat kita mengoptimalkan fungsi otak kita.
  • Rutin bersosialisasi.
    Dengan rutin bersosialisasi mungkin akan membantu kita untuk lebih terbuka dengan sekitar dan mengurangi stres dengan cara berbagi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekeliling kita
  • Jadilah terorganisasi.
    Hal ini sama dengan yang sudah saya lakukan. Menyimpan barang di tempat yang sama, mencatat berbagai hal yang mudah kita lupa, dan menata barang-barang sesuai urutan agar mudah kita ingat.
  • Tidur yang cukup.
    Kalau soal ini saya jagonya. Saya hobi tidur. Jadi di antara semua tips, tips yang satu ini mungkin yang paling mudah saya lakukan. Tidurlah paling tidak 7 jam sehari agar otak kita cukup beristirahat dan kembali optimal saat bangun nanti.
  • Olahraga Secara Rutin.
    Olahraga secara rutin akan membuat aliran darah dan oksigen menuju otak lancar. Katanya, suplai oksigen yang cukup ke otak akan membantu mengoptimalkan fungsi otak dan membantu pertumbuhan sel-sel baru dalam otak

Sepertinya selain yang sudah saya lakukan, saya juga harus mulai mengikuti tips-tips yang saya tulis ulang di atas. Bayangan kalau tua nanti saya tiba-tiba nyasar dan nggak bisa pulang ke rumah sendiri selalu membuat saya takut. Saya nggak kebayang kalau masih umur segini saya udah pikun bagaimana waktu tua nanti. Saya nggak mau jadi pikun seumur hidup. Dan semoga setelah tulisan ini penyakit lupa saya sedikit demi sedikit berkurang dan semakin membaik. Biar nantinya nggak lupa lagi kalau punya blog yang harus selalu diisi, ngakunya blogger tapi jarang ngeblog, hehe..

Aamiin Allahumma Aamiin… 🙂